Rabu, 22 November 2017
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan
iklan

Pentingnya Membangun Komunikasi untuk Meredam Resistensi

Editor: nugroho
Rabu, 17 Oktober 2012
Athok Moch Nur Rozaqy.
Bongkar paksa

Oleh :
Fajar Yudhy Hartanto

Maraknya resistensi masyarakat terhadap berjalannya industri hulu migas memberikan penilaian dari berbagai pihak sesuai sudut pandang masing-masing. Mulai dari pemerintah pusat, daerah, politisi, pelaku usaha, kolompok masyarakat maupun perorangan. Namun, sebagian besar aksi yang berujung pada resistensi masyarakat tersebut memunculkan persepsi buruk. Baik persepsi buruk pemerintah pusat terhadap daerah yang (mungkin) menilai tidak mampu menciptakan kondisi kondunsif di wilayahnya.

Pun penilaian terhadap operator migas yang belum mampu merangkul masyarakat lokal baik melalui program corporate social responsibility (CSR) maupun melibatkannya secara maksimal dalam kegiatan industry migas juga tidak bisa dipungkiri.

Karena itu, untuk meredam risistensi yang memunculkan persepsi buruk akibat kerap munculnya gejolak sosial didaerah sekitar tambang migas tersebut diperlukan “ruang kominikasi” untuk menemukan solusi bijak terbaik, dengan kemanfaatan timbal balik bagi segenap pihak terkait didalamnya. Baik bagi pemerintah pusat, pemerintah daerah maupun masyarakat disekitar lokasi eksplorasi dan eksploitasi. Sebab, pemaksaan kepentingan satu sisi, jelas bukan solusi yang memberikan “harapan kecerahan” bagi masa depan sektor pertambangan (migas).

Sudah banyak contoh riil “meledaknya” resistensi masyarakat terhadap pelaksanaan industri hulu migas, seharusnya memberikan pelajaran berharga bagi semua pihak. Karena “benturan” tersebut merupakan garansi terciptanya kerugian bagi semuanya. Bahkan akan lebih ekstrem lagi bila “ketidakharmonisan” tata kelola migas justru tidak membawa kemaslahatan namun ancaman datangnya bencana yang nilainya tidak akan sebanding dengan hasil migas yang diperoleh. Baik itu kerusakan lingkungan maupun bencana konflik sosial yang mengarah pada perpecahan bangsa.

Lalu bagaimana solusinya ? Tentu tidak dapat dipecahkan dengan hanya sekedar “mengeluh” atas maraknya resistensi sosial (apalagi dengan membandingkan kondisi masa orba dan masa reformasi - baca pernyataan Kepala BP MIGAS dalam pemberitaan Jawa Pos tanggal 6 Oktober 2012), masalah juga tidak akan tuntas terselesaikan jika hanya berlindung dibalik baju kepentingan nasional sebagai media pemaksaan. Melainkan yang terpenting masing-masing pihak mempunyai good will untuk saling mendengarkan, membuka ruang komunikasi, melihat dan mengidentifikasi dengan bijak akar permasalahan dilapangan, dan memecahkannya melalui strategi pendekatan penyelesaian yang komprehensif.

Praksis Otoda dalam mendukung industri hulu migas

Sangat dimengerti jika seluruh kandungan kekayaan alam dikuasai oleh negara dan dipergunakan sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat sesuai yang diamanatkan dalam Undang-undang Dasar 1945. Juga sangat difahami bahwa ketentuan pengaturan tata kelola potensi alam (migas) diarahkan bagi kepentingan nasional dan dinyatakan sebagai aset nasional.

Penulis sependapat jika kemudian ada pihak yang “mengguggat” konsepsi tersebut, maka perlu “diragukan” jiwa nasionalismenya. Namun demikian, menjadi sebuah ironi apabila “mematok standar” konsepsi tersebut sebagai pembenar untuk “menyumbat” aspirasi bawah. Karena masyarakat dan daerah terdampak juga memiliki hak untuk menyampaikan aspirasinya agar kegiatan migas yang berlangsung dapat membawa dan memberi perubahan yang lebih baik dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat seperti yang termaktub dalam UUD’45 .

Untuk itu, penulis berkeyakinan,  hanya dengan melalui ruang komunikasi yang baik yang dibangun antara pemerintah pusat, daerah, pelaku usaha, dan masyarakat, maka resistensi dalam kegiatan industry migas dapat dieliminir dan harapan seluruh kandungan alam untuk kemakmuran rakat yang diamanatkan dalam UUD’45 dapat terwujud.

Dibaca : 756x
FB
Ada 1 komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Rabu, 17 Oktober 2012 13:20
solusine gak jelas.....
mahendra eka wardana
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan iklan
iklan