Rabu, 24 Oktober 2018
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan

Penyebab Siswa SMAN 1 Tuban Bunuh Diri Masih Samar

Editor: samian
Minggu, 29 Juli 2018
Ali Imron
SILATURRAHMI : KPR advokasi di rumah keluarga korban siswa bunuh diri di Kecamatan Grabagan.

SuaraBanyuurip.com - Ali Imron

Tuban - Meninggalnya siswa SMAN 1 Tuban, Jawa Timur, bernama Rahmad Noval At-Thoriq, pada Jumat (27/7) kemarin, menjadi sorotan banyak pihak. Penyebab bunuh diri masih samar, karena yang bersangkutan dikenal anak yang ramah, aktif kegiatan di sekolah, mandiri, dan tidak pernah bermasalah dengan siapapun.

‘’Terus terang kami kaget atas kasus ini. Ada apa sebenarnya, ini harus ditelusuri. Ini menjadi tamparan keras, karena baru saja mendapat predikat kabupaten layak anak kok ada kejadian seperti ini,’’ ujar anggota Dewan Pendidikan Kabupaten, Ratna Handayani, kepada suarabanyuurip.com, Sabtu (28/7/2018).

Ratna menyebut, ada kabar yang beredar di masyarakat bahwa siswa tersebut sering dibully teman-temannya saat di sekolah. Bahkan, ada juga oknum guru yang disebutkan pernah membully siswa itu di depan teman-temannya.

‘’Kabar-kabar itu yang harus dipastikan kebenarannya. Kami akan komunikasi dengan Kasek SMAN 1 untuk memastikan dan menggali data ada apa sebenarnya,’’ tambah perempuan yang menjabat Bendahara di Dewan Pendidikan ini.

Data yang dia kumpulkan, menyebut siswa tersebut juga menjadi anggota Pasukan Petugas Khusus (Pasgassus), yakni tim khusus yang terdiri dari siswa-siswa pilihan. Tak gampang masuk tim tersebut, karena melalui seleksi ketat. Anggota Pasgassus terlatih secara mental dan fisik.

Anggota Pasgassus itu sudah digembleng serius. Jadi mentalnya sudah kuat. Tidak sembarang siswa bisa masuk tim itu. Karena itu, semakin penasaran ada apa ini sebenarnya.

Sehari setelah siswa meninggal, tim Koalisi Perempuan Ronggolawe (KPR) yaitu paralegal dan advokat juga bersilaturahmi ke keluarga almarhum anak. Direktur Ekskutif KPR Tuban, Nunuk Fauziyah memperoleh informasi dari ibu korban, kalau yang bersangkutan selama ini dikenal sebagai anak yang ramah, mandiri, aktif berkegiatan di sekolah, dan tidak bermasalah dengan orang lain.

Korban baru tinggal di rumah sendirian (tkp) sekitar 1 minggu. Sebelumnya korban tinggal di kos. Alasan korban pindah, karena lebih nyaman tinggal di rumah sendiri.

Yang bersangkutan sejak usia 3 tahun hingga menginjak usia SMP menjalani operasi kelamin beberapa kali. Informasi dari salah satu keluarganya, korban memiliki dua kelamin. Operasi terakhir berhasil. Sementara bapak kandung korban telah meninggal tiga tahun silam.

Hanya informasi itu yang KPR ketahui, karena Bu De korban ketika tau kita dari KPR langsung bilang ke kakak dan ibu korban jangan mau berbicara dengan LSM anak. Nggak usah berkata apa-apa kalau ditanya diam saja.

Artinya apa, situasi yang sedang dihadapi anak di kabupaten tuban harus benar-benar serius mendapatkan perhatian, baik di lingkungan sekolah, keluarga, sosial dan kebutuhan khusus anak-anak.

Nunuk menegaskan, hal ini merupakan tamparan Pemkab Tuban setelah tanggal 23 Juli 2018 kemarin mendapatkan penghargaan Tuban sebagai Kabupaten Layak Anak, namun belum genap satu minggu kami mendapatkan kabar  hari Jum'at tanggal 27 Juli 2018 sekitar pukul 15.00 WIB, anak laki-laki yang telah gantung diri di dalam rumah. Tempat Kejadian Perkara (TKP) di Perum Cokro aminoto, Lingk Jarkali Blok A no. 34 Kelurahan Gedongombo, Kecamatan  Semanding Tuban.

Anak tersebut berusia 17 tahun artinya masih usia anak yang  memiliki hak-hak melekat yang diatur dalan UU no 35 tahun 2014 tentang perlindungan anak pasal 4 "setiap anak berhak untuk hidup, tumbuh, berkembang dan berpartisipasi secara wajar sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.

“Pasal 6 ayat 2 Konvensi Hak Anak "negara-negara peserta semaksimal mungkin akan menjamin kelangsungan hidup dan perkembangan anak,” jelas mantan aktivis PMII.

Mendapat predikat KLA tidak lantas berbangga, namun sebenarnya kita memiliki beban moral dan beban kerja yang cukup tinggi untuk mewujudkan 24 indikator. Jika kemudian pasca mendapatkan penghargaan lalu korban (anak) semakin berjatuhan, belum lagi kasus anak-anak lainya itu artinya KLA hanya sebagai simbolis semata.

Kepala SMAN 1 Tuban, H Mukti, M.Pd menampik, beredarnya kabar kalau salah satu siswanya yang meninggal akibat gantung diri sebagai korban bully. Kabar yang beredar, selain dibully teman-temannya, ada oknum guru yang ikut membully.

‘‘Hasil klarifikasi saya sampai detik ini tidak ada itu bully di sekolah,’’ tegasnya.

Mukti mengaku, sudah melihat catatan korban selama menjadi siswa. Di catatan guru Bimbingan dan Konseling (BK), korban bersih artinya selama ini siswa tersebut adalah siswa yang baik.

Korban juga dikenal siswa yang aktif. Selain aktif di ekstrakurikuler menari, korban adalah anggota Pasukan Petugas Khusus (Pasgassus) salah satu unit kegiatan siswa yang tergolong elit.

Kapolsek Semanding, AKP Desis Susilo, menegaskan, hasil pemeriksaan dari tim medis dan identifikasi semuanya nihil. Tidak ada sayatan maupun bekas pukulan benda tumpul pada korban. Tidak diotopsinya korban, karena murni bunuh diri.

“Korban murni gantung diri,” tandasnya.

Wakil Bupati Tuban, Noor Nahar Hussein, juga menunggu data dari Dewan Pendidikan terkait temuannya di sekolah. Nanti data tersebut akan dikoordinasikan, untuk mengetahui penyebab siswa SMA unggulan di Bumi Wali bunuh diri.

“Kita tidak bisa berbuat banyak karena belum tahu data penyebab korban bunuh diri,” pungkas Wabup kelahiran Kecamatan Rengel ini.(Aim)

Dibaca : 8579x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan iklan