Rabu, 22 November 2017
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan
iklan

Perangi Pekerja Anak dengan Perlindungan Sosial

Editor: nugroho
Senin, 23 Juni 2014

SuaraBanyuurip.com - Ririn Wedia

JAKARTA-  International Labour Organztion (ILO) menggelar berbagai kegiatan untuk menandai peringatan Hari Menentang Pekerja Anak se-Dunia yang dipusatkan di  Rumah Belajar Penjaringan, Jakarta, Senin (23/6/2014). Kegiatan yang mengusung tema “Memperluas Perlindungan Sosial untuk Memerangi Pekerja Anak” itu bertujuan meningkatkan kesadaran untuk menanggulangi dan memerangi pekerja anak.

Beberapa kegiatan yang dilaksanakan  adalah dialog interaktif mengenai membangun sistem perlindungan sosial akan dilakukan dengan menghadirkan perwakilan dari pemerintah, akademisi dan organisasi kemasyarakatan. Selain itu, anak-anak dari rumah belajar akan menampilkan drama musikal yang menggambarkan perjalanan mereka dari pekerja anak  menjadi anak-anak dengan harapan baru untuk kembali bersekolah.

Lebih dari 100 peserta menghadiri acara tersebut. Termasuk anak-anak dan keluarga mereka, perwakilan pemerintah, pekerja anak, organisasi pengusaha, lembaga internasional dan nasional serta media massa. Acara itu ditutup dengan inagurasi anak-anak tersebut mengingat acara ini juga menandai hari terakhir anak-anak tersebut berada di rumah belajar.

Direktur ILO di Indonesia, Peter van Rooij mengatakan, tujuan utama ILO adalah menghapuskan semua bentuk pekerjaan untuk anak, terutama bentuk-bentuk terburuknya, di seluruh dunia. “Program perlindungan sosial memainkan peran penting dalam mengakhiri pekerja anak. Tunjangan pensiun, serta pengangguran, kehamilan, kecelakaan kerja dan disabilitas membantu mencegah situasi di mana anak harus bekerja untuk membantu pendapatan keluarga yang tidak mencukupi atau menjadi pekerja anak akibat kematian, kecelakaan, penyakit dan bencana lainnya yang menganggu pendapatan keluarga,” kata dia melalui siaran persnya yang dikirimkan kepada suarabanyuurip.

Menurut perkiraan global ILO terbaru, jumlah keseluruhan pekerja anak menurun dari 215 juta menjadi 168 juta antara tahun 2008 dan 2012. Jumlah anak yang terlibat dalam pekerjaan berbahaya menurun dari 115 menjadi 85 juta. Sejak tahun 2000, pekerja anak menurun sebanyak satu pertiga dan terus mengalami penurunan.

“Untuk itu, ILO mendorong pihak pemerintah untuk meningkatkan upaya mereka memperluas perlindungan sosial guna mencegah anak-anak menjadi pekerja anak,” tegas Petervan.

Salah satu dorongan yang dilakukan ILO kepada pemerintah Indonesia, adalah membangun rumah belajar anak  yang dikembangkan melalui program Penarikan Pekerja Anak dalam rangka Program Keluarga Harapan (PPA-PKH), yang merupakan salah satu program perlindungan sosial yang ada. Rumah belajar ini memberikan bantuan pendidikan bagi para pekerja anak sebelum mengarahkan mereka kepada program pendidikan yang ada (formal dan non-formal).

Melalui program PPA-PKH ini, Pemerintah Indonesia berencana menarik sekitar 16.000 pekerja anak pada 2014 dari sejumlah kabupaten dan kecamatan di seluruh Indonesia. Program PPA-PKH diselenggarakan sejak tahun 2008 sebagai bagian upaya Indonesia menghapuskan pekerja anak. (rien)

Dibaca : 569x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan iklan
iklan