Minggu, 16 Juni 2019
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan

Manfaatkan Limbah Pertanian

Perempuan Blok Cepu Produksi Jamur Bonggol Jagung

Editor: nugroho
Rabu, 03 April 2019
12
edi supraeko
KREATIH : Heti memanfaatkan limbah pertanian untuk memprodukai jamur bonggol jagung.
SuaraBanyuurip.com
Jamur Bonggol Jagung yang sudah ditimbang

SuaraBanyuurip.com - Edi Supraeko

Bojonegoro - Kreatif dan inovatif. Itulah yang ditunjukkan Heti Susanti, warga RT 02 RW 01  Desa Begadon, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.

Di tangan wanita berusia 27 tahun itu, bonggol jagung yang biasanya dibuang begitu saja dapat disulap menjadi produk ekonomi kreatif yang memiliki nilai ekonomis. Limbah tersebut dimanfaatkan menjadi jamur. 

"Dari pada sia-sia saya manfaatkan. Apalagi di sini banyak petani yang panen jagung," ucap Heti, panggilan akrabnya, kepada suarabanyuurip.com, Rabu (3/4/2019).

Cara membuat jamur dari bonggol jagung cukup sederhana dan mudah. Heni menjelaskan, bonggol jagun diratakan di atas terpal plastik, dan kemudian ditaburi katul (dedak ) dan urea. Setelah itu diberi ragi-fermen merupakan zat yang menyebabkan fermentasi- yang sudah dimasukkan dalam air dan kemudian disiramkan. 

Proses terakhir bonggol jagung ditutup rapat dengan terpal sekitar 10 hari. Jamur sudah tumbuh dan bisa dipanen.

Masa panen jamur bonggol jagung bisa sampai 20 hari. Setiap tiga karung bonggol jagung bisa menghasilkan jamur 2 Kilogram (Kg).

Sudah satu bulan setengah ibu rumah tangga sekitar Lapangan Minyak Banyu Urip, Blok Cepu, itu memproduksi jamur bonggol jagung. Ide itu muncul dari melihat internet. 

"Awalnya hanya iseng buat untuk lauk sendiri. Tapi lama-lama banyak yang minat dan pesan," ujar ibu satu anak itu.

Sekarang ini Heti mengaku mampu menjual jamur bonggol jagung sebanyak 2 Kg sampai 3 Kg dalam sehari. Tergantung baik tidaknya pertumbuhan jamur. 

Satu kilogram jamur bonggol jagung dijual dengan harga Rp.30.000.

"Lumayan bisa menambah penghasilan keluarga," ucapnya. 

Rasa jamur bonggol jagung tidak jauh beda dengan jamur sekam padi. Empuk-tidak alot-seperti jamur lainnya. Banyak warga sekitar yang datang untuk membeli lagi. 

"Enak rasanya. Kalau saya cocoknya dioseng atau dibothok," sambung Umi saat membeli jamur bonggol jagung.

Saat ini Heti baru melayani pembeli dari warga sekitar. Tapi tidak jarang produksi jamur bonggol jagung miliknya diborong salah satu warga di Kecamatan Kalitidu untuk dijual lagi. 

"Banyak yang suka. Melayani pesanan dari warga sini saja sudah kwalahan," ungkap istri Winarto itu. 

Heti berharap kedepan bisa mengembangkan usahanya. Bukan hanya memproduksi jamur bonggol jagung, tapi bisa mengolahnya menjadi camilan. Sehingga dapat membuka peluang kerja bagi warga sekitar. 

"Semoga ada yang mau bantu alat dan modal agar usaha bisa besar," pungkasnya.(edi)





Dibaca : 1552x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan
iklan