Senin, 25 September 2017
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan
iklan

Persoalan Baru Proyek Blok Cepu

Editor: teguh
Kamis, 03 Januari 2013
SuaraBanyuurip.com
Lahan pertanian sekitar proyek Banyuurip terendam banjir

MUSIM kemarau telah berlalu. Persoalan tebaran debu akibat proyek engineering, procurement and construction (EPC) Banyuurip yang dirasakan warga Blok Cepu sudah sirna.

Namun, seriring hilangnya masalah debu, sekarang ini, muncul masalah baru. Yakni banjir akibat tinggi curah hujan. Derasnya hujan yang mengguyur wilayah Banyuurip beberapa terakhir ini telah memberikan dampak bagi warga disekitar proyek Blok Cepu.  Hampir semua lahan disekitar mega proyek yang dilaksankan Mobil Cepu Limited (MCL) bersama kontraktornya itu terendam banjir.

Fenomena itu cukup membuat petani disana ketar-ketir. Sebab banjir yang merendam lahan pertanian mereka baru terjadi akhir-akhir ini. Yaitu setelah proyek rekayasa, pengadaan dan konstruksi (engineering, procurement and construction/EPC) Banyuurip dimulai. Pengurukan lahan dan pembangunan akses road maupun security track yang dilakukan kontraktor EPC menjadi biang kerok banjir yang terjadi wilayah Banyuurip.

Faktor mendasar yang menyebabkan banjir di sekitar Banyuurip sekarang ini selain faktor alam adalah kurang matangnya perencanaan tata kelola saluran irigasi di proyek tersebut. Akibatnya pembangunan saluran irigasi yang dilakukan kontraktor EPC terkesan asal-asalan tanpa mengetahui latar belakang pembuangan air di wilayah tersebut sebelumnya.  

Sedangkan saluran air yang dibangun kontraktor EPC tidak dapat berfungsi maksimal. Pembangunansaluran air maupun gorong-gorong yang dipasang disejumlah titik kurang besar. Akibatnya, badan saluran air kerap tak mampu menampung air hujan dan kemudian meluber ke persawahan warga. Apalagi, plengsengan air yang berada dibagian sisi persawahan warga tingginya sama dengan sawah petani.

Akibatnya, setiap kali saluran irigasi tak mampu menampung debit air langsung meluber ke persawahan warga. Bukan ke jalan atau lokasi pengurukan yang dibangun kontraktor EPC. Terlebih sekarang ini, saluran air yang dulunya menjadi tempat pembuangan sudah tertutup material maupun jalan akses yang dibangun setelah proyek Banyuurip dimulai.

Kondisi ini perlu segera ditangani. Sebab dengan tingginya intensitas hujan sekarang ini sangat memungkinkan sekali sungai disekitar proyek juga bakal meluap. Belum lagi dari luapan sungai Bengawan Solo. Sehingga banjir yang terjadi di wilayah Banyuurip ini akan bertambah parah jika saluran air dari dalam proyek belum selesai pengerjaannya.

Kalau sudah demikian, proyek Blok Cepu yang digadang-gadang bakal selesai pada 2014 terancam molor.  Hujan yang diperkirakan bakal turun dengan intensitas sedang hingga tinggi sudah barang tentu berakibat debit air dari sungai terus bertambah. Sementara air tidak dapat mengalir normal lantaran Bengawan Solo juga meluap.

Disamping faktor alam, faktor lain yang dapat mengancam keberlangsungan proyek Blok Cepu antara lain, banyaknya sawah warga yang juga bakal tergenang air baik dari sungai maupun dari dalam proyek.
Kondisi itu tentu petani tak akan membuat mereka tinggal diam. Mereka hampir dipastikan akan menyalahkan perusahaan.  Sebab rendaman banjir yang melanda sawah ladang mereka terjadi sejak dimulainya proyek Blok Cepu. Walapun banjir itu tidak sepenuhnya diakibatkan dari adanya proyek senilai triryunan rupiah ini.

Untuk mengantisipasi masalah tersebut, perusahaan harus secepatnya melakukan pendekatan kembali kepada masyarakat  bersama pemerintah khususnya pemerintah desa (Pemdes) sekitar proyek. Selain itu juga melakukan penataan pengelolaan saluran irigasi disekitar proyek agar dapat mengeliminer luapan air hujan.  Dengan penataan saluran irigasi yang terencana dengan baik tentu akan mampu mengelola air dengan baik pula.

Tak kalah pentingnya, masyarakat juga perlu mendapat pengertian dan penjelasan mengenai kondisi lingkungan mereka yang kini sudah berubah menjadi ladang material untuk mendukung proyek nasional. Kalau mereka terus diberi pengertian dan diberi penjelasan yang rasional setidaknya akan dapat meminimalisir persoalan sosial baru selain masalah tenaga kerja.

Pihak perusahaan baik, MCL dan semua kontraktornya harus memahami kondisi alam dan kultur masyarakat sekitar proyek. Jangan hanya mau untungnya saja, tapi juga harus memiliki tanggungjawab sosial kepada masyarakat sekitar. Tapi ajak mereka berpikir. Ajak mereka duduk bersama untuk mencari jalan terbaik tanpa harus ada yang merasa dirugikan. (samian Sasongko)

Dibaca : 598x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan