Pilkades Campurejo: Selisih 5 Suara, BPD Minta Hitung Ulang

Pilkades di Blok Tuban

Rabu, 26 Juni 2019, Dibaca : 3193 x Editor : nugroho

ririn wedia
SEMERAWUT : BPD Campurejo meminta kepada panitia Pilkades untuk menghitung ulang surat suara di TPS 1 karena selisih 5 suara.


SuaraBanyuurip.comRirin Wedia

Bojonegoro - Proses penghitungan penghitungan Pemilihan Kepala Desa di Campurejo, Kecamatan Bojonegoro, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, Rabu (26/6/2019), hingga memasuki adzan Mahgrib masih terus berlangsung. 

Penghitungan sempat diwarani interupsi dari Badan Permusyawaratan Desa (BPD) setempat untuk melakukan hitung ulang karena terdapat selisih surat suara di TPS 1. 

Baca Lainnya :

    "Ada lima suara yang tidak terhitung, mohon dihitung lagi masing-masing surat suaranya," tegas Ketua BPD Campurejo, Nurhasim di balai desa, Rabu (26/6/2019). 

    Di TPS 1 Dusun Pohagung terdapat 1.912 Daftar Pemilih Tetap (DPT). Suara terbanyak diraih calon petahana nomor urut 2, Edi Sampurno yakni sebanyak 760 suara, disusul calon mantan kades dua preiode nomor urut 1, Budi Utomo dengan 568 suara, dan nomor 3, Mohammad Rizal mendapat 112 suara. Totalnya 1.440 suara.

    Baca Lainnya :

      “Seharusnya ada 1.445,  berarti ada yang hilang 5," imbuhnya. 

      Panitia kemudian melakukan penghitungan ulang, meski memasuki waktu salat Magrib. Surat suara kembali cek satu persatu. 

      "Kita hitung lagi, dan kalau bisa diselesaikan sekarang juga untuk TPS 1," kata Ketua Panitia Pilkades, Pasuyanto. 

      Ada 3 kotak suara di Pilkades Campurejo yang dibagi dalam 3 TPS. Yakni TPS 1 Dusun Pohagung, TPS 2 Dusun Plosolanang, dan TPS 3 di Dusun Mlaten. Hingga memasuki malam hari penghitungan surat suara belum selesai.

      Damin (54) mengatakan, semerawutnya sistem atrian membuat proses Pilkades di Campurejo tidak sesuai jadwal yang ditentukan. 

      "Rencana awal tidak seperti ini ngitungnya. Masing-masing TPS itu disediakan pintu masuk. La tadi itu semua jadi satu," kata proa berkacamata minus. 

      Menurutnya, panitia desa seharusnya tidak memberlakukan kupon dan dipanggil satu persatu berdasarkan rukun warga (RW) di semua dusun saat pencoblosan. Karena  yang dipanggil belum tentu ada ditempat.

      "Kalau nyoblosnya yang datang duluan, pasti sudah selesai dari tadi ini," tegasnya. 

      Warga lainnya nampak kecewa karena penghitungan juga berlangsung tertutup. Tidak semua warga bisa menyaksikan proses penghitungan suara karena dijaga ketat oleh petugas linmas dan anggota Polsek Kota. 

      "Tidak boleh masuk sama Polisi," kata Warni, warga setempat yang akhirnya balik kanan beserta rombongan lainnya.(rien)


      Tidak ada komentar
      Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.

Show more