Minggu, 19 November 2017
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan
iklan

Pilu Kali Mangunjoyo Dibalik Adipura

Editor: samian
Sabtu, 16 September 2017
12
Ali Imron
MENCERDASKAN GENERASI : Tak ada alasan lagi bagi anak-anak untuk tidak membaca di rumah baca mandiri di RT 02 Karangasri.
SuaraBanyuurip.com
Anak-anak sedang meluangkan waktu istirahatnya untuk membaca.

SuaraBanyuurip.com

Dibalik perolehan penghargaan kelima Adipura Kabupaten Tuban, Jawa Timur, pada hari Rabu (2/8/2017) lalu, ada sepenggal kisah pilu di sepanjang Kali Mangunjoyo. Sungai yang hilirnya terletak di Kelurahan Karangsari, Kecamatan Tuban ini terkesan dibiarkan kumuh.

Padahal selama 1,5 tahun terakhir, nelayan sudah kerja bakti secara swadaya. Sayangnya, belum ada gayung bersambut dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tuban untuk melepaskan kekumuhan itu.

SEPINTAS melewati jembatan Mangunjoyo, siapapun pasti hanya melihat tumpukan pot bunga yang dipasang di sisi pembatas Utara Jembatan. Ketika malam tiba, lampu warna-warni pun menghiasi jembatan yang memanjakan mata.

Dibalik keindahan itu, air sungai yang semestinya jernih sulit terlihat. Ikan kecil dan biota sungai lainnya, tak mampu lagi hidup di air yang rendah oksigen (O2) itu.

Dimana-mana hanya terlihat sampah plastik warna-warni bercampur lumpur. Menumpuk berkubik-kubik. Menutup aliran sungai yang mengarah ke laut.

"Ya, inilah kondisi sungai di tengah kota Bumi Wali (sebutan lain Tuban)," ujar ketua RT 02, Kelurahan Karangsari, Joko Nuratno Widodo, kepada suarabanyuurip.com, ketika dijumpai di tepi Kali Mangunjoyo, Jumat (15/9/2017).

Pria kelahiran Lumajang itu, awalnya tak begitu peduli dengan lingkungan Karangsari khususnya di RT 02. Berbekal kecintaan pada lingkungan, Widodo sapaan akrabnya kerja keras mengubah image kumuh di kampung nelayan.

Sangat tidak etis jika kabupaten meraih Adipura, tapi ikon sungai kota masih kumuh. Sudah waktunya sungai yang memiliki hulu di Bektiharjo, Kecamatan Semanding ini dinormalisasi.

Kecintaan pada lingkungan, bukan hanya sekedar angan. Mulai tahun 2015, sebagai ketua Rukun Tetangga (RT) dia sendiri mengawali pungut sampah di tengah kali. Waktu itu, banyak warga yang mencemooh aktivitasnya.

"Kalau dibersihkan untungnya apa," ungkapnya mengawali cerita.

Cemoohan itu justru menjadi pelecut dirinya. Setiap hari Minggu sore kerja bakti, satu demi satu sampah plastik berkurang. Bukti inilah yang mendorong warga ikut membersihkan kali. Semakin lama banyak warga ikut, dan akhirnya diputuskan bergilir.

Sampah plastik tersebut langsung ditumpuk di utara kampung, atau tepi laut. Sisa lahan sedikit itu, menjadi padat karena di atas tumpukan sampah ditutup tanah.

Selama 1,5 tahun, hilir Kali Mangunjoyo baru sedap dipandang. Kondisi ini tak bertahan lama. Setiap kali turun hujan, berkubik-kubik sampah berkumpul di hilir sungai. Sudah jelas, sampah yang tak bisa diurai itu berasal dari wilayah hulu.

Nelayan yang mengandalkan swadaya ini berada di titik jenuh. Mereka merasa kuwalahan. Ada yang berpikir, perlu sebuah alat berat untuk mengeruk kali supaya tidak dangkal.

"Sayangnya beberapa organisasi perangkat daerah (OPD) tak menyambut gayung nelayan," ungkap alumnus Gajayana, Malang jurusan akutansi ini.

Kumuhnya kali Mangunjoyo juga disinggung Wakil Bupati Tuban, Noor Nahar Hussein pada peringatan Hari Peduli Sampah Nasional 2017. Pria kelahiran Kecamatan Rengel ini, memberikan catatan merah kepada kelurahan yang tak mampu menjaga kebersihan lingkungannya.

“Jika tahun depan masih banyak onggokan sampah lurahnya akan dicopot," ancamnya.

Sebagai leader di RT 02, pria beranak dua ini memberanikan diri mengetuk pintu instansi pemerintahan. Mulai Dinas Lingkungan Hidup (LH), Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), Dinas Perikanan dan Peternakan (DPP), maupun Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) Tuban.

Semuanya hanya bisa berkomitmen, dan hanya Dinas PUPR yang merespon dengan mendirikan kamar mandi dan WC umum. Untuk normalisasi kali baru sebatas komitmen, belum ada signal kapan terealisasi.

Sekalipun demikian, Widodo pantang menyerah. Bersama warganya tetap membersihkan sungai seperti biasa. Kerja keras ini berhenti total, setelah ada pemasangan pot bungan di tepi jembatan.

Sebagai pemilik wilayah, ketua RT merasa di ciderai usahanya. Padahal nelayan sedang memasang ban bekas, sebagai plengsengan sungai. Impian mengecat ban warni-warni pun sirna, karena wajah Kali Mangunjoyo sengaja ditutup.

"Kalau mau mengubah kali yang kumuh harus dibersihkan bukan ditutup tepi jembatannya," jelasnya.

Keinginan nelayan sebenarnya sudah selaras dengan harapan Wabup Noor Nahar Hussein. Dimana setiap kelurahan di Kecamatan Tuban harus bisa menjadi “wajah” kabupaten. Sudah tentu mampu menjaga kebersihan lingkungan.

“Seperti di Kelurahan Karangsari harus ditata dengan baik sebagai indikator penilaian Adipura," jelasnya.

Kecewa dengan sikap praktis OPD, Widodo tak kehabisan akal. Dia hanya ingin menunjukan, nelayan bisa diajak hidup bersih dan terlepas image kumuh. Bila masih ada anggapan demikian, itu soal minim komunikasi.

Melalui jaringannya, akhirnya RT 02 memperoleh bantuan program Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Komunal Sanitasi Berbasis Masyarakat (Sanimas) dari APBD Provinsi Jatim, dan APBN. Bahkan tahun depan bakal memperoleh bantuan IPAL kembali.

Bangunan persegi panjang itu ditanam di tanah. Lokasinya tepat di sebelah barat bangunan kamar mandi dan WC umum bantuan APBD. Proyek sanitasi ini berjalan efektif, dan mampu menetralisir limbah rumah tangga seluruh warga RT 02.

Ipal yang diwarnai sedemikian rupa, juga berfungsi sebagai tempat bermain anak maupun rembugan para nelayan. Kebiasaan inilah menimbulkan rasa saling percaya terhadap lingkungan.

Selain konsentrasi di Kali Mangunjoyo dan Ipal, istri Widodo, Rohmanur Hana juga bergerak di bank sampah khusus RT 02. Ketika masuk di kampung nelayan Karangsari, tak ada satupun sampah yang tercecer.

"Respon warga positif setelah tahu keuntungan ada bank sampah," ungkap perempuan asli Karangsari ini.

Lebih dari itu, untuk mencerdaskan generasi nelayan dibukalah rumah baca. Tak ada lahan untuk mendirikan bangunan, akhirnya rumah ketua RT 02 menjadi lokasi belajar anak-anak.

"Adanya rumah baca tak ada lagi alasan bagi anak-anak untuk tidak membaca," sambung pria yang menjadi RT tahun 2015 silam.

Terobosan rumah baca ini, juga menarik perhatian Pemprov Jatim. Sepulang sekolah, rumah baca ini selalu ramai baik anak-anak Kelurahan Karangsari atau wilayah lain.

Pendangkalan di Kali Mangunjoyo langsung direspon oleh Kabag Humas dan Protokol Setda Tuban, Rohman Ubaid. Untuk normalisasi sungai akan dikoordinasikan dengan OPD terkait.

"Dalam waktu akan kita sampaikan ke OPD untuk ditindaklanjuti," janji mantan Camat Jenu ini. (Ali Imron)

Dibaca : 291x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan iklan
iklan