Kamis, 21 September 2017
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan
iklan

Prokem Rengelan

Editor: teguh
Rabu, 05 November 2014
Samian Sasongko
WARUNG KOPI : Warung kopi menjadi tempat bertemunya kawula muda untuk saling berbagi dalam canda dan derita.

 

oleh : Rakai Pamanahan

Woke bar ko Nejorogo yo?” tanya seorang anak muda berambut gondrong seraya mencecap secangkir kopi kepada karibnya.

Yi’o.  Gek mau bar tengerno capar no murah kasit sebuk mboke mangar,” jawab yang ditanya sambil memarkir motor bebek di warung kopi, di sudut Desa Sawahan, Kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban, Jawa Timur akhir pekan lalu.

Saya menyimak dialog mereka. Semakin saya ikuti semakin terasa bahwa bahasa yang mereka gunakan tak biasa. Rupanya anak-anak Rengel ini menggunakan bahasa prokem.

Sebagian dari mereka mengaku kepada saya, bahwa bahasa yang mereka gunakan adalah Bahasa Gaul. Bahasa khas dari wilayah Rengel.

“Kalau wong Rengel pasti tahu dan bisa menggunakan bahasa itu,” kata Mubayin (46), warga Desa Sawahan di warung sama.

“Woke bar ko Nejorogo yo?”  Kalimat ini jika dirunut dalam bahasa Jawa; “Kowe bar ko Bojonegoro yo?”  Kalau di bahasa Indonesia, “Kamu habis dari Bojonegoro ya?”.

Sedangkan “Yi’o.  Gek mau bar tengerno capar no murah kasit sebuk mboke mangar.” Jika dirunut dalam tata bahasa Jawa yang benar menjadi seperti ini; “Iyo. Gek mau bar ngeterno pacar no rumah sakit bezuk mboke ngamar.”  Dalam bahasa Indonesia, “Iya. Tadi habis mengantar pacar ke rumah sakit membezuk ibunya rawat inap.”

Prokem sama halnya bahasa Gaul. Ada juga yang menyebut bahasa Alay, bahasa Slank, dan banyak sebutan lainnya. Biasanya dilakukan dengan dialeg yang khas. Bisa jadi di setiap daerah ada prokem yang berbeda dengan daerah lain.

Sepanjang perjalanan saya di Malang, Jawa Timur pernah juga menemui prokem Malangan. Di sana lebih mudah dikenali, karena prokem yang dilakukan dengan cara membalik letak huruf dalam setiap kosakata. Contohnya; makan menjadi “nakam”, tidur (rudit), perawan (nawarep). 

Sejumlah warga Malang yang berusia lanjut memberi penjelasan, bahasa Walikan di Malang ada nilai historinya. Konon bahasa Walikan itu digunakan di masa kolonial Belanda. Untuk mengelabuhi orang asing tersebut warga Malang berdialog dengan membalik kata. Jadilah bahasa Walikan ala Malang. Sampai kini pun masih dipertahankan oleh generasi muda di Kota Apel tersebut.

Bahasa Prokem, ungkap Kepala Laboratorium Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dari Unirow Tuban, Suharyadi, adalah bahasa pergaulan yang menyimpang dari ranah tata bahasa. Bahasa ini menggunakan dialeg khusus, dan khas dari masing-masing daerah.

Budayawan ini menilai, percakapan yang dilakukan anak-anak muda di Rengel tersebut masuk dalam ranah Prokem, bahasa Slank, atau bahasa pergaulan.

“Prokem masuk ranah sosiolinguistik, cenderung menyalahi tata bahasa Indonesia,” sebut Suharyadi.

Secara etimologis, sosiolinguistik terdiri dari dua unsur kata. Yakni, Sosio (Sosiologi), ilmu sosial yang berhubungan dengan masyarakat, kelompok maupun fungsi kemasyarakatan. Sedangkan Linguistik adalah sebuah ilmu bahasa. Ranah ini mengulas tentang unsur yaitu fonem, morfem, kata, kalimat, dan sebagainya. Dengan demikian prokem tak masuk ranah tata bahasa.

Tak jelas siapa yang pertama memulai menggunakan Prokem Rengelan. Sebagian besar warga di wilayah Kecamatan Rengel belum bisa menjelaskan secara empiris. 

“Mungkin sejak era tahun 1970-an ada bahasa Rengelan,” ungkap Sutomo (63), warga Desa Sawahan, Rengel. “Wakit yiben yo wes no’o basa lawikan Ngerel ki’i (Sejak dulu sudah ada bahasa kebalikan Rengel ini),” tambah pedagang palawija itu saat ditemui di rumahnya. 

Sedangkan Mbah Kasri (80), asal Dusun Santren, Desa Rengel yang saya temui di sawahnya mengungkap, bahwa keberadaan Prokem Rengelan ini telah ada sejak dirinya masih muda. Di jaman dia muda dulu sudah ada bahasa tersebut.

Yiben yo wes no’o, Nak. Sa’ki’i ae siek diwage karo cah nom kok (Sejak dulu sudah ada, Nak. Sekarang saja masih dipakai oleh anak-anak muda),”  kata Mbah Kasri dalam Prokem Rengelan.

Tak ada lacak yang mencatat historical keberadaan Prokem Rengelan. Yang pasti kawula muda di desa lereng pegunungan kapur Tuban ini, kental dengan prokem Rengelan. Terlebih di wilayah Kecamatan Rengel, hampir di setiap warung kopi berbicara dengan prokem tersebut.

Wu’es yo. Ka’u pa’e lumeh, pokine wes ten’ek,” kata si rambut gondrong pamit kepada karibnya. prokem Rengelan pun terus mengalir mengiringi perbincangan anak-anak muda di warung kopi di sana. Di Rengel, Tuban.  (*)

Tuban : 5 November 2014.

 

Dibaca : 1018x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan