Senin, 19 Agustus 2019
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan

Proyek Migas Tak Pengaruhi Produksi Pangan

Editor: nugroho
Senin, 23 Juli 2012
teguh budi utomo
PETANI : Salah satu aktivitas petani di sekitar DAS Bengawan Solo. Kecamatan Malo, Bojonegoro.

SuaraBanyuurip.com - Ririn W

Bojonegoro Meski sebagian lahan pertanian wilayahnya beralih fungsi menjadi sumur minyak dan gas (migas), namun tak mengurangi potensi Kabupaten Bojonegoro sebagai kantong pangan di Jatim. Pemkab Bojonegoro juga menjamin produksi pangan dari wilayahnya tak terkurangi.

Saat ini lahan pertanian yang digunakan untuk proyek migas diantaranya, di Desa Mojodelik, Kecamatan Ngasem seluas 204 hektar, Desa Leran Kecamatan, Kalitidu seluas 2,64 hektar, Desa Kalisumber, Kecamatan Tambakrejo seluas 2,5 hektar, Desa Campurejo, Kecamatan Kota, Bojonegoro seluas 3 hektar, Desa Bandungrejo, Kecamatan Ngasem seluas 15 hektar, Desa Katur Kecamatan Kalitidu seluas 20 hektar. Total lahan pertanian di Bumi Angling Dharma yang beralih fungsi menjadi ladang migas mencapai 247 hektar.

Kasi Sumber Daya Manusia Dinas Pertanian Bojonegoro, Djoko Poedjowiyono,  mengatakan, berkurangnya lahan pertanian untuk proyek migas di wilayah Bojonegoro tentu akan mempengaruhi produksi padi. Sehingga bagaimana caranya agar masyarakat bisa cekatan menggunakan lahan kosong sebagai penggantinya.

“Kita selalu menghitung data di lapangan berapa luas lahan yang berkurang untuk proyek migas, sehingga bisa mengantisipasi dengan menggunakan lahan lain,” terangnya, Senin (23/7/2012).

Dia jelaskan, peran masyarakat sangat penting untuk menumbuhkan kembali rasa untuk bercocok tanam. Apalagi  bagi mereka yang telah membebaskan lahan sawahnya untuk kebutuhan proyek.

“Jangan setelah menerima ganti rugi dan lupa bahwa awalnya sebagai petani, jadi tetap harus mencari pengganti sawah yang sudah berganti peran itu,” tukas pria yang gemar olahraga fitness tersebut.

Menyusutnya lahan pertanian tersebut, telah diantisipasi pihak Dinas Pertanian setempat. Lembaga milik Pmekab Bojonegoro ini mencari solusinya dengan mempersiapkan lahan penggati dengan jumlah luas, hasil produksinya juga bisa meningkat 3 kali lipat. Melalui cara ini mampu menggati hasil produksi yang berkurang karena digunakan untuk proyek migas.

“Kalau jumlah masyarakat tidak mungkin berkurang, justru bertambah. Jadi harus pintar mengolah lahan dan tidak melupakan tradisi menjadi petani,” imbuh Kang Joko, panggilan akrabnya.

Terlebih ada Bendung Gerak di Desa Padang, Kecamatan Trucuk yang bisa mengairi areal persawahan dengan baik. Sehingga, petani bisa panen 3 kali dalam satu tahun. Dengan hitungan sekali panen per hektar mampu menghasilkan 7-10 ton padi. Diperkirakan hasil panennya bisa mengganti produksi padi yang hilang karena Migas.

“Jadi dari total lahan yang terpakai untuk Migas ada seluas 247 hektar, kami optimis berkurangnya lahan akibat proyek migas tidak berpengaruh dengan produksi pangan di Bojonegoro,” tegasnya. (tbu)

Dibaca : 1375x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan