Minggu, 21 Oktober 2018
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan
iklan

Puluhan Tahun Sumarni Tinggal di Rumah Reot

Editor: samian
Jum'at, 12 Oktober 2018
Ririn Wedia
BUTUH PERHATIAN : Rumah reot dan kumuh ini yang menjadi satu satunya tempat berteduh Sumarni dalam setiap harinya.

Hidup digaris kemiskinan yang ada hanya niat iklas dan semangat saja yang tertanam dalam benaknya agar bisa bertahan hidup hingga akhir hayat. Hendak berbuat apapun dalam mencukupi kebutuhan sehari-harinya musti selalu tertahan karena serba kekurangan. Seperti yang dirasakan oleh Sumarni, warga Desa Sambiroto, Kecamatan Kapas, Bojonegoro, Jawa Timur.

Keberadaan ladang minyak dan gas bumi (Migas) disuatu daerah, belum tentu mampu membuat kondisi masyarakat disekitarnya mendapatkan berkah dan kehidupan yang layak. Terutama warga miskin.

Kondisi ini seperti terjadi di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Dimana daerah yang kerap disebut Bumi Angling Dharma ini memiliki sumber Migas konon terbesar se-Asia, yaitu sumur minyak Banyuurip, Blok Cepu, yang dioperatori ExxonMobil Cepu Limited (EMCL).

Selain ladang minyak yang bersentra di Kecamatan Gayam tersebut juga masih ada lagi Lapangan Migas Kedung Keris, Blok Cepu. Kemudian Lapangan Migas Sukowati, Blok Tuban, yang dioperatori Pertamina Eksplorasi Produksi Asset 4, Lapangan Gas Jambaran-Tiung Biru (J-TB) yang dioperatori Pertamina Eksplorasi Produksi Cepu (PEPC), dan sumur minyak tua.

Dengan kekayaan alam melimpah berupa migas yang dimiliki belum mampu membuat masyarakat digaris kemiskinan hidup layak. Hal itu seperti dialami sebagian warga masyarakat sekitar Lapangan migas Sukowati, Blok Tuban.

Satu diantaranya adalah warga Desa Sambiroto, Sumarni (70), hingga di usia senjanya harus tidur diatas dipan seadanya di rumah reot yang sudah rapuh. Jangankan beralas kasur, tikar pandan saja sudah berantakan. Bahkan didekat tempat tidurnya tampak barang-barang bekas yang diambil dari sampah berserakan berbaur jadi satu di ruang utama.

"Ya, Mbah Sumarni kalau tidur di ruangan ini campur dengan barang bekas," kata Murni (45), salah satu anaknya kepada Suarabanyuurip.com, saat ditemui dirumahnya beberapa waktu lalu.

Menurut ibu dua anak ini, sejak dulu ada saja petugas berseragam Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang datang berkunjung ke rumah orang tuanya hanya sekedar menanyakan riwayat hidup lalu mengambil foto rumah yang masih berlantaikan tanah.

"Pernah dikunjungi tiga sampai empat kali orang seragam PNS itu tanya-tanya lalu foto, setelah itu pergi begitu saja," ungkap wanita berhijab ini.

Setelah mereka berkunjung tidak ada lagi tindak lanjutnya sama sekali. Padahal, dari informasi yang didapat rumah berdinding bambu dan beratap genteng dengan kondisi berlubang dimana-mana itu akan mendapat bantuan berupa bedah rumah.

"Ternyata, ya tidak ada bantuan apa-apa," imbuhnya.

Meski mengetahui ada industri Migas di desanya, namun Murni mengaku, jika ibunya yang sudah janda tidak pernah mendapatkan bantuan apapun. Baik dari program Corporate Social Responsibility (CSR) maupun bantuan sosial dari pemerintah.

"Tidak pernah dapat apa-apa, kalau saya masih dapat bantuan raskin, juga bantuan non tunai," tandasnya.

Di konfirmasi terpisah, Kepala Desa (Kades) Sambiroto, Sudjono, menyampaikan, tahun ini Pemerintah Desa (Pemdes) Sambiroto telah mengusulkan bantuan bedah rumah bagi warga miskin sebanyak 5 orang. Namun belum ada realisasi dari Dinas Sosial Pemkab Bojonegoro.

"Ada 5 orang yang rumahnya saya usulkan dibedah atau diperbaiki melalui Pemkab," kata pria yang baru saja pulang dari tanah suci ini.

Sementara itu, Kepala Dinas Sosial, Helmi Elisabeth, menyampaikan, jumlah Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) di Kabupaten Bojonegoro jumlahnya mencapai ribuan. Sementara aggaran setiap tahunnya hanya untuk 100 rumah dengan masing-masing rumah senilai Rp10 juta.

"Setiap tahun kita anggarkan Rp1 miliar untuk bedah rumah," kata wanita cantik ini.

Oleh sebab itu, belum semua usulan bedah rumah dari desa dapat terealisasi karena dilakukan secara bertahap. Pihaknya harus melakukan verifikasi terlebih dahulu untuk melakukan bedah rumah bagi yang benar-benar membutuhkan.

"Jadi ada prioritasnya, sehingga bisa tepat sasaran. Semoga kedepan mampu terus mengurangi RTLH dan menjadi layak huni," tandasnya.(Ririn Wedia)

Dibaca : 640x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan iklan