Ramai Dikunjungi Wisatawan, Kracakan Minim Perhatian

Minggu, 30 Juni 2019, Dibaca : 744 x Editor : nugroho

Ahmad Sampurno
LAYAK DIKEMBANGKAN : Pengunjung menikmati keindahan wisata Kracakan Watu Gong Ngloram.


SuaraBanyuurip.com - Ahmad Sampurno 

Blora - Wisata Kracakan Watu Gong (KWG) di Desa Ngloram, Kecamatan Cepu, menjadi salah satu wisata alternatif di Kabupaten Blora, Jawa Tengah, yang layak dikunjungi.

Wisata ini memiliki pemandangan menarik yang dapat dinikmati saat musim kemarau. Hamparan batu cadas muncul di tengah Sungai Bengawan Solo. Air mengalir di bebatuan, mirip air terjun.  

Baca Lainnya :

    Pengunjung dapat mengabadikan setiap momen karena di wisata Kracakan karena dilengkapi fasilitas untuk berswafoto. Wisatawan juga dengan mudah mendapatkan makanan dan minuman karena banyak warung berdiri di lokasi tersebut. 

    "Setiap hari rata-rata 300 orang datang ke lokasi. Kalau dihitung dari jumlah kendaraan bermotor, rata-rata 150 kendaraan. Kalau hari libur, bisa lebih dari 300 kendaraan," kata Ketua Karang Taruna Ngloram, Ferry Noviantoro (24), kepada suarabanyuurip.com, Minggu (30/6/2019).

    Baca Lainnya :

      Sejak dibuka H+2 lebaran Idul Fitri lalu, pengunjung Wisata Kracakan masih silih berganti berdatangan.

      "Kami gencarkan promosi lewat media sosial," ucapnya. 

      Untuk berwisata di Kracakan ini, pengunjung tidak ditarik karcis masuk. Hanya membayar ongkos parkir kendaraan.

      "Kendaraan roda dua Rp 2.000, dan Rp5.000 untuk mobil," ujarnya. 

      Pihaknya berencana menambah fasilitas berupa toilet dan bak sampah.

      "Nanti sambil jalan akan kami tambah. Termasuk untuk swafoto," tuturnya. 

      Wisata Kracakan ini prospek dikembangkan untuk menarik lebih banyak wisatawan. Namun, sampai sekarang belum ada dukungan dari pemerintah desa. Padahal setiap tahun banyak pengunjung.

      Sedangkan dana yang diperoleh dari parkir sudah dibagi untuk sewa lahan. Pembagiannya pemilik lahan meminta sepertiga. Sementara sebagian untuk mushola serta karang taruna.

      "Ya, yang paling berat sewa lahan, Mas," pungkasnya.  

      Okta (40), salah satu pengunjung menyampaikan, persoalan yang terjadi di kebanyakan lokasi wisata alternatif adalah sampah.

      "Masih minim tempat sampah. Kami sengaja bawa anak-anak ke sini untuk belajar memungut sampah," ujar pengelola salah satu taman baca di Cepu ini.   

      Terpisah, Kepala Desa Ngloram, Diro Beny Susanto, menambahkan, pihak desa sebenarnya ingin menganggarkan untuk mengembangkan Wisata Kracakan. Tapi terbentur lahan kawasan wisata milik warga.

      "Jadi sementara waktu biar untuk kerjaan remaja saja," sambung kades.(ams)


      Tidak ada komentar
      Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.

Show more