Rabu, 1 Oktober 2014
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan

Mereinkarnasi Kejayaan Nusantara

Ranggolawe Bangkit Menggendong Spirit Majapahit

Editor: teguh
Selasa, 09 Juli 2013
12
Edy Purnomo
RONGGOLAWE : Komunitas RCC mereinkarnasi kejayaan Majapahit dengan peran penting tokoh paling dikagumi warga Tuban, Ronggolawe.
edp
kirap-1

WALAU terdengar lirih alunan tembang Jawa mewarnai setiap sudut ruang, namun sanggup mendekap siapapun yang mendengarnya. Berbaur wangi aroma dupa menggulung langit Bumi Ronggolawe. Sekelompok orang dengan berpakaian emas membawa simbol kerajaan Majapahit. Mereka berarak sambil sesekali menari.

“Ronggolawe telah bangkit,” kata seorang pemuda yang berada di baris terdepan.

Melihat arak-arakan itu, seperti memutar memori cerita rakyat yang berkembang di tengah masyarakat. Konon, kebesaran dan kejayaan Majapahit tak luput dari jasa besar Ronggolawe. Leluhur yang diagungkan masyarakat Tuban ini, disebut sebagai salah satu dari sekian orang yang membantu Raden Wijaya, untuk membuka hutan Tarik dan mendirikan kerajaan Majapahit. Serta mengusir tentara Jayakatwang yang ingin menyerang Majapahit kala itu.

Meski pada akhirnya dianggap sebagai pemberontak pertama di kerajaan ini, namun  bagi masyarakat Tuban, Ronggolawe tetaplah sebagai pahlawan. Masyarakat Tuban mengangap dia hanya korban dari konspirasi politik kerajaan, karena ketidaksetujuannya terhadap pengangkatan Mpu Nambi sebagai Mahapatih Amengkubumi. Penguasa Tuban ini beranggapan masih banyak tokoh lain yang berjasa besar kepada Majapahit untuk jabatan setinggi itu.

Semangat itulah yang sepertinya mulai diwarisi sejumlah pemuda yang tergabung di Ronggolawe Creative Center (RCC). Dengan aroma dupa dan tetarian, sekelompok pemuda ini mulai melakukan kirab. Berangkat dari Makam Ronggolawe, yang ada di Jalan Ronggolawe dan berakhir disuatu tempat yang ada di Jalan Dr Soetomo, Tuban.

Dalam kirab tersebut, seorang pria yang memerankan sebagai Ronggolawe berdiri pada barisan paling depan. Menyusul di belakangnya sosok perempuan berpakaian emas yang disimbolkan sebagai Sri Huning. Dia adalah perempuan pendekar dari Tuban yang terkenal ayu parasnya, sehingga banyak memikat pendekar pada jamannya.

Usai kirab kelompok ini kemudian berhenti di depan Cafe Jazzy, Jalan Dr Soetomo Tuban. Disini pemuda yang memerankan sebagai Ronggolawe, dan Sri Huning melakukan tari-tarian. Sebagai penggambaran masih ada geliat dan kekuatan di Tuban.

Mereka kemudian disambut dengan beberapa orang yang berdiri dibawah bendera merah putih. Diketahui mereka berasal dari Majapahit Creative Center (MCC), salah satu wadah seni dan budaya yang bermarkas di lingkungan situs Majapahit, Trowulan, Mojokerto.

“Dengan ini kami ingin mengulang sejarah, bahwa Tuban pernah menjadi bagian penting dari Majapahit,” kata ketua RCC, Satria Anggameida Pradipta, atau yang akrab disapa Angga, kepada SuaraBanyuurip.com di lokasi kirab.

Tak sekedar Ronggolawe dan Sri Huning yang melegenda hingga dijadikan syair, mereka juga menyertakan beberapa simbol lokalitas Tuban. Diantaranya seorang perempuan kalem sebagai peran Lanjar Maibit, masyarakat sering menyebut Sri Pangenti. Dalam kisah yang berkembang di kawasan masyarakat Desa Maibit, Kecamatan Rengel, Tuban, adalah seorang perempuan cantik yang konon ditinggal suaminya berburu setelah menikah. Sekian lama dinanti, perempuan yang belum pernah disentuh oleh orang terkasihnya ini tak kunjung mendapati suaminya kembali.

Kesetiaan yang dia jaga, membawanya bersembunyi, dan mengasingkan diri di salah satu mata air. Guna menghindari beberapa orang, bahkan pembesar yang selalu datang melamarnya.

Tak kalah melegenda, adalah sosok yang juga ditampilkan seorang perempuan lengkap dengan dayang-dayangnya. Sebut saja dia sebagai Putri Nglirip. Putri Nglirip adalah seorang putri pembesar yang pernah hidup di Tuban. Jalinan kasih dia pada seorang pemuda bernama Joko Lelono, tak mendapat restu dari kedua orangtuanya. Diakhir kisah cinta mereka, Joko Lelono akhirnya tewas terbunuh di tangan prajurit kadipaten.

Seolah tak kalah dengan cerita Romeo dan Juliet, konon putri tersebut kemudian bertapa dan menyendiri disalah satu air terjun yang terletak di Desa Mulyoagung, Kecamatan Singgahan, Tuban, akibat sakit hati karena kehilangan orang terkasih. Sampai saat ini, warga sekitar air terjun meyakini beberapa mitos. Seperti larangan bagi muda dan mudi untuk beradegan tak senonoh di tempat tersebut.

Sementara Banyu Langse, meski banyak mitos yang ada disalah satu grojogan air di Desa Boto, Kecamatan Semanding, Tuban. Diantaranya mitos yang berkembang sebagai jalan lintasan para Walisongo untuk melakukan musyawarah disalah satu kawan tebing di atasnya yaitu di Desa Gembul, Kecamatan Semanding. Juga dikenal sebagai kawasan yang hingga saat ini masih mempunyai daya pikat pesona alam

“Dengan simbol-simbol itu kita ingin membuktikan, bahwa kekuatan dan potensi Tuban masih sangat besar,” masih kata Angga.

Angga juga menyebut, RCC ingin mengajak agar bersama-sama menjaga dan membesarkan lokalitas di Tuban. Termasuk beberapa tempat yang sangat potensial dijadikan tempat wisata.

Dia juga memberi masukan kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tuban. Bahwa Duta Wisata yang ditunjuk Pemkab beberapa waktu lalu, juga mau memahami dan membawa lokalitas ini ke dunia luar Tuban.

“Beberapa kawan fotografer yang tergabung dengan kita sering menjadikan tempat-tempat itu sebagai obyek. Jadi ayolah kita sama-sama melestarikan,” kata pemuda yang juga mahasiswa seni rupa di Universitas Muhammadiyah Malang ini.

Terkait acara Kirab sebagai simbol RCC bergabung dengan MCC. Angga katakan hal itu dilakukan untuk mengulang sejarah kebesaran Nusantara pada masa silam. Dimana peranan penting Tuban juga diperlukan untuk kembali menghidupkan Nusantara. Sehingga mereka menyebut acara mereka dengan label “Nusantara Terkubur Ronggolawe Menggugah”.

“Ini bukti kecintaan terhadap nasional dan nusantara, karena secara fisik, sikap, dan batin, pada hakikatnya Nusantara telah terkubur. Kita ingin bersama membangunkan Nusantara,” kata Angga menerangkan maksud bergabungnya RCC dengan MCC.

Dia tegaskan, bahwa RCC bukanlah sebatas komunitas tapi wadah dari beberapa komunitas seperti fotografi, film, grafiti, dan beberapa komunitas lain.

Sementara itu, ketua Mojokerto Creative Center (MCC), Nanang Moeny, mengungkapkan,  hal nyaris sama. Bahwa Tuban memang terkait erat dengan kerajaan Majapahit, yaitu kerajaan dimana cikal bakal Nusantara dipersatukan.

Dia tambahkan, saat ini pihaknya melakukan napak tilas untuk mengulangi kebesaran Majapahit dalam mempersatukan nusantara. Diantaranya, dengan berupaya melakukan revolusi kebudayaan. Mengembalikan nilai-nilai Nusantara yang saat ini terkubur. Dengan membangkitkan tokoh-tokoh yang pernah ada dimasa lalu.

“Kita harus lakukan revolusi budaya, agar Nusantara kembali lohjinawi seperti dahulu. Karena saat ini kita kaya, tapi banyak yang tidak bisa makan,” kata Nanang.

Kepada SuaraBanyuurip.com, pria asli Mojokerto ini juga mengatakan, ingin mengajak kepada semua orang untuk mewujudkan Majapahit yang millenium. Maksudnya dengan mengangkat kembali nilai-nilai luhur yang pernah ada dengan bentuk peradaban yang ada saat ini. Supaya sejarah Nusantara bisa terulang kembali.

“Spirit Majapahit harus diangkat,” kata pria yang mengaku sudah melakukan napak tilas untuk melakukan hal serupa, seperti yang dilakukan di Tuban. (edy purnomo)

 

Dibaca : 1256x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>