Ratusan Naker Terancam Kehilangan Pekerjaan

Produksi Kilang Mini TWU Dihentikan

Kamis, 15 Februari 2018, Dibaca : 1741 x Editor : admin

dok/sbu
NGANGGUR : Sejumlah armada milik pengusaha transporter lokal berhenti beroperasi karena kilang mini TWU berhenti produksi.


SuaraBanyuurip.com - d suko nugroho

Bojonegoro - Ratusan tenaga kerja (Naker) lokal Bojonegoro, Jawa Timur, terancam kehilangan pekerjaan pasca penghentian produksi kilang minyak milik PT Tri Wahana Universal (TWU) di Dusun Clangap, Desa Sumengko, Kecamatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, pada 31 Januari 2018 lalu.

Baca Lainnya :

    Ratusan tenaga kerja yang akan kehilangan pekerjaan tersebut terlibat baik di perusahaan TWU, maupun sopir dan kenek truk yang selama ini menjadi transporter (jasa pengangkutan produksi).

    Selain tenaga kerja, penghentian produksi kilang mini juga berdampak terhadap ekonomi masyarakat sekitar.

    Baca Lainnya :

      Baca Juga :

      TWU Kembali Hentikan Produksi Kilang Mini Bojonegoro

      Usaha Sekitar Kilang Mini Gulung Tikar

      "Jelas ini berdampak pada menurunya potensi perekonomian masyarakat. Contohnya seperti bisnis transporter yang dijalankan oleh pengusaha lokal, warung makan yang selama ini mendapat pemasukan dari aktifitas karyawan TWU," kata Eksternal Relation PT. TWU, Imam Hambali dikonfirmasi suarabanyuurip.com melalui pesan elektronik, Kamis (15/2/2018).  

      Selama ini ada beberapa pengusaha lokal yang terlibat dalam jasa transporter pengolahan minyak mentah di kilang mini. Yakni PT.Artha Surya Jaya (ASJ), PT.Bahana Multi Tekhnik, PT.Java Multi Multamindo (JMM), dan PT.Sima. Dengan jumlah ratusan armada dan tenaga kerja lokal.

      "Sementra masih mangangkut sisa produksi saja. Mungkin akhir maret stock produk sudah habis," kata Direktur PT Bahana Multi Teknik (BMT), Budi Utomo dikonfirmasi terpisah.

      Budi mengaku, jumlah armada yang dia miliki sebanyak 27 unit, dengan jumlah tenaga kerja 97 orang.

      "Kalau dengan milik transporter PT. Sima dan PT Artha totalnya sekitar 100 unit armada," ucap Budi.

      Para pengusaha transporter menyayangkan penghentian produksi kilang mini. Sebab selama ini mereka memiliki izin niaga umum (tradder bbm non subsidi) dan jasa pengangkutan bahan bakar minyak yang di keluarkan oleh Dirjen Migas Hilir dan Fasilitas Pengolahan Naptha (pabrik thiner).

      "Jelas saat ini kami terkena imbasnya secara langsung. Padahal dari nol kita memulai sampai dengan yakin berinvestasi baik secara legal dokumen dan equipment suport bisnis kami. Jadi ini sangat merugikan kegiatan kami di area Bojonegro," jelas Budi.

      Dia mengungkapkan, sebagai orang kampung dirinya selama ini berusaha membangun perusahaan standar nasional, dan berharap bisa menikmati langsung kegiatan eksplorasi dan eksploitasi migas di Lapangan Banyuurip, Blok Cepu, secara jangka panjang.

      "Dengan adanya mini refinery TWU ini kita bisa belajar dan mengerti terkait bisnis yang memberikan multiplier effect luar bisa dan tidak mengganggu kegiatan hulu migas sama sekali," tuturnya.

      Namun dengan penghentian produksi kilang mini TWU akibat naiknya harga minyak mentah Lapangan Banyuurip ini, menurut Budi, tidak berpihak pada bisnis masyarakat lokal Bojonegoro. Padahal jumlah pajak yang disumbangkan kepada pemerintah dari setiap kegiatan yang dilaksanakan perusahaan transporter cukup besar.

      Budi kemudian merinci,sesuai aturan kegiatan hilir migas yang diawasi dan diatur oleh BPH Migas, setiap transaksi yang dilakukan ada ppn 10%, pph,0,3%, pbbkb 0,8585%  yang dibayarkan ke Badan Pendapatan Daerah (Bapenda), dan 0,3% ke BPH migas.

      "Belum lagi dari bisnis transportasi dan penghasilan perusahaan. Bayangkan  berapa penambahan nilai dari kegiatan hilir migas tiap liter produk yang di keluarkan oleh kegiatan hilir migas ini," katanya.

      Penghentikan produksi kilang mini berpotensi memunculkan gejolak sosial baru di masyarakat.  Karena selain banyak warga lokal yang kehilangan pekerjaan, juga usaha ikutan akan gulung tikar.

      "Pemerintah pusat dan daerah harus segera mencari solusi agar itu tidak terjadi," pungkas Budi. (suko)

       


      Tidak ada komentar
      Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.

Show more