Rabu, 22 November 2017
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan
iklan

Realita Pemuda Pedesaan

Editor: nugroho
Jum'at, 22 Mei 2015
SuaraBanyuurip.com
Heri opini

SuaraBanyuurip.com

                                                        Oleh : Heri Kiswanto

KETIKA saya melakukan perjalanan ke suatu daerah di Bojonegoro terlintas di benak saya berbagai faktor yang berpengaruh terhadap perkembangan pemuda setempat. Perhatian saya tertuju pada kehidupan remaja dan anak muda saat ini, yang patut mendapat perhatian secara khusus. Cara yang selama ini belum dilakukan pemerintah daerah setempat tersebut adalah hal penting untuk direncanakan dalam sosialisasi dan penyuluhan.

Di lingkungan pedesaan banyak fakta terkait kepemudaan, namun jarang tersentuh langsung dan tak pernah dipandang serta ditangani dengan intensif. Baik dengan cara komunikasi, teknologi, penyuluhan hingga pendidikan. Hal tersebut teramat sulit dipercaya, terlebih ketika budaya kepemudaan desa erat kaitannya dengan era globalisasi dan transformasi media, yang pesat perkembangannya.

Di zaman modern saat ini, teknologi menjadi alat komunikasi yang penting, terutama sebagai sumber referensi pengetahuan dan keilmuan dapat dicari di dalam konten dan aplikasi di dalamnya. Perkembangan yang semakin cepat ini, setidaknya mempengaruhi perkembangan kehidupan sosial di masyarakat sekitar. Dimana tantangan pengembangan IPTEK menjadi peran utama dalam perubahan pembangunan di suatu negara.

Di pedesaan hal tersebut sekiranya belum dapat dinikmati oleh masyarakat setempat. Dari aspek pendidikan masih kurang terjamah oleh peran kalangan akademisi dan pelajar. Terutama fakta terkait dengan pemuda. Miris dan sedih rasanya ketika melihat realita kepemudaan yang ada.

Bidang pendidikan terlebih penyuluh lapang, menjadi sarana dalam pembelajaran bagi warga, terutama pemuda setempat. Sebab pendidikan merupakan bidang formal yang wajib diikuti dari zaman ke zaman. Hingga melahirkan generasi bangsa yang kuat dan berkarakter dalam menghadapi tantangan kedepan seperti, perdagangan, perindustrian maupun menjaga kedaulatan pangan.

Persoalan pemuda pedesaan yang identik dengan budaya fanatik dan tawuran tak sedikitpun memberi manfaat dalam kemajuan zaman. Cerminan tersebut ditambah dengan kesadaran dalam mengenyam pendidikan formal baik di tingkatan Sekolah Menengah Pertama (SMP) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA). Kesadaran terhadap hal tersebut berdampak pada sikap dan mental pemuda setempat, bahkan menjadi faktor yang secara lanngsung menjadi penentu perkembangan dalam cara berfikir pemuda daerah.

Di era digitalisasi seperti saat ini, peran pemerintah daerah sebagai perencana pembangunan khususnya bimbingan teknis penyuluh patut dilakukan. Fanatisme pemuda desa hingga menjalarnya kebiasaan tawuran, yang sering kita dapati di banyak desa, baik dalam acara pertandingan sepakbola, konser musik melayu dan orkes serta pengaruh minuman keras menjadi suatu hal yang tak bisa dihindarkan dengan kebiasaan pemuda pedesaan.

Kesadaran adalah hal mutlak yang harus dimiliki setiap individu dan kelompok pemuda desa. Arahan dan sosialisasi terkait sadar keamanan tak kunjung mendapat tempat aparat setempat. penyadaran terhadap pentingnya pendidikan menjadi salah satu  faktor yang teramat miris jika dilihat saat sekarang.

Faktor pendidikan menjadi penentu utama mentalitas pemuda pedesaan, telebih kesadaran tentang bersekolah hingga tingkatan sekolah menengah belum terlihat sebagai upaya peningkatan mutu sumber daya manusia masyarakat sekitar.

Kurangnya minat terhadap pendidikan sangat banyak kita temukan dalam kehidupan masyarakat pinggiran dan pedesaan, terutama menyangkut pemuda. Pengaruh lingkungan dan orang tua adalah hal yang sekiranya perlu menarik untuk dikupas. Mulai dari kurangnya biaya serta pengaruh kurangnya kesadaran terhadap pentingnya pendidikan formal.

Dengan adanya pembangunan infrastruktur yang sedang berjalam, patut sekiranya menjadi acuan pemuda pedesaan untuk lebih menyadari tidak pentingnya budaya dan kebiasaan yang merugikan bagi diri sendiri dan kebanyakan orang. 

Sebagai negara berkembang, seyogyanya hal tersebut tidak perlu terjadi, mengingat era teknologi dan modernisasi seperti sekarang. Dengan peradaban zaman era teknologi informasi dan komunikasi, merupakan cara dan langkah mencapai hal yang sekiranya menjadi parameter dalam mengembangkan masyarakat yang progresif dan sejahtera.

Dari pendapat pribadi ini, semoga kedepannya dapat menyadarkan pemuda pedesaan terkait pentingnya perbedaan tanpa sedikitpun mengurangi nilai-nilai kearifan perbedaan itu sendiri. Pendapat ini, sebagai wujud kecintaan pula terhadap pemuda dan perkembangan pembangunan daerah di Bojonegoro. SALAM

Penulis adalah : Aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Unisma Malang, asal  Bojonegoro.

Dibaca : 637x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan iklan
iklan