Minggu, 26 Mei 2019
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan

Soal Penutupan Kilang Mini TWU

Sandiaga : Jika Karena Saya Beda Politik, Silahkan Pemkab Beli

Editor: nugroho
Jum'at, 15 Februari 2019
ririn wedia
SENAM BARENG : Cawapres Sandiaga Uno menyayangkan penutupan kilang mini TWU yang sudah berikan pendapatan besar kepada daerah.

SuaraBanyuurip.com - Ririn Wedia

Bojonegoro -  Calon Wakil Presiden atau cawapres nomor urut 2, Sandiaga Salahuddin Uno, mengaku prihatin dengan kondisi perusahaan kilang mini PT Triwana Universal (TWU) di Desa Sumengko, Kecamatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, yang kini harus berhenti beroperasi karena dinilai tidak ekonomis lagi. 

Pasangan Prabowo Subianto itu menjelaskan, jika dalam pembangunan kilang yang berdiri di atas lahan seluas 7,2 hektar itu pernah ada campur tangannya. Kemudian ditangani secara profesional sebelum berhenti operasi.

Pembangunan kilang mini TWU tidaklah mudah. Investasi yang dikeluarkan mencapai ratusan juta dollar dengan jumlah karyawa 600 orang lebih.  PT TWU juga merupakan penyumbang pendapatan daerah terbesar di Bojonegoro.

Tetapi, lanjut Sandi, karena ketidakmampuan pemerintah dalam mengambil keputusan yang tegas, sekarang kilang ini berhenti operasi. Padahal, untuk membangun kilang sangat sulit sekali. 

"Jadi menurut saya, yang ada saja tidak diberdayakan. Kedepan kita harus melakukan langkah reformasi. Kita akan pisahkan betul-betul mana yang keputusan politik mana yang swasembada migas," tutur Sandiaga usai melakukan senam bersama simpatisan di alun-alun Bojonegoro, Kamis (15/2/2019). 

Oleh sebab itu, pihaknya mendorong agar PT TWU bisa beroperasi kembali untuk mensejahterakan masyarakat sekitar dan daerah. 

"Kalau TWU ditutup karena saya, saya punya saham di sana dan berbeda politik di sana, saya mempersilahkan Pemkab Bojonegoro membeli," lanjut lulusan Wichita State University, Amerika Serikat, dengan predikat summa cum laude itu.

Ditanya terkait meningkatnya harga minyak mentah yang diberikan kepada TWU, kata Sandi, pemerintah memang sudah seharusnya mengikuti harga pasar. Namun karena letak kilang mini berada di dekat mulut sumur Lapangan Banyuurip, Blok Cepu, harusnya ada insentif.

"Ini kan lokasinya dekat dengan mulut sumur, jadi tidak perlu dibawa ke tengah laut dan akhirnya dikembalikan lagi," pungkasnya.

Untuk diketahui, PT Tri Wahana Universal (TWU), kembali menghentikan produksinya sejak 31 Januari 2018 lalu. Penghentian produksi disebabkan karena adanya kenaikan bahan baku minyak mentah dari Lapangan Banyuurip sebesar US $ 6 per barel berdasarkan Keputusan Menteri ESDM No. 4028 K/12/MEM/2017 tanggal 21 November 2018, tentang Formula Harga Minyak Mentah Indonesia untuk Jenis Minyak Mentah Banyuurip.  

Harga tersebut dinilai tidak ekonomis dan harus menghentikan produksi. Sebelumnya, TWU mendapatkan harga sesuai ICP Arjuna minus US$ 0,5 per barel. Setelah terbitnya Kepmen ESDM itu hargnya menjadi ICP Arjuna plus US$ 5,5 per barel pada titik serah di Floating Storage and Offloading ( FSO) Gagak Rimang di lepas Pantai Palang Tuban, Jawa Timur. 

Jumlah minyak mentah yang diproduksi TWU sebanyak 6.000 barel per hari. Minyak tersebut diolah menjadi empat jenis yakni High Speed Diesel (HSD) atau gas oil adalah  fraksi  yang  lebih  berat  dari  kerosene, Straight Run Gasoline (SRG) atau naphtha adalah nama umum yang digunakan dalam industri pengilangan minyak bumi  untuk hasil cair paling atas dari at - mospheric distillation units (ADU). 

Kemudian VTB/LSWR oil untuk burner pada furnace dan pembangkit listrik, mesin uap dan lain-lain. Serta memproduksi Heavy Vacuum Gas Oil (HVGO).  

Penghentian produksi kilang mini ini merupakan yang kedua kalinya. Sebelumnya pada 18 Januari 2016 silam, TWU juga menghentikan kegiatannya karena persoalan yang sama.(rien)

Dibaca : 4094x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan