Jum'at, 19 Januari 2018
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan
iklan

Sebut Pertumbuhan Ekonomi Bojonegoro Tertinggi Kedua di Jatim

Editor: samian
Senin, 19 Juni 2017
dok SBU
Bupati Bojonegoro, Suyoto.

SuaraBanyuurip.comRirin Wedia

Bojonegoro - Sebagai daerah penghasil migas, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro, Jawa Timur, tidak sepenuhnya mengandalkan energi tak terbaharukan untuk menumbuhkan ekonominya. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) setempat, pada 2016, pertumbuhan ekonomi Bojonegoro tertinggi diantara kabupaten di Jawa Timur.

"Pertumbuhan ekonomi Bojonegoro tanpa sektor migas tertinggi kedua setelah Kota Surabaya," kata Kepala BPS Bojonegoro, Abdul Jamil, saat menyampaikan laporannya kepada Bupati Bojonegoro, Suyoto.

Menurut Abudl Jamil, ekonomi Bojonegoro terus mengalami perbaikan karena 15% kebutuhan pangan nasional berasal dari Bojonegoro. Juga 20% kebutuhan energi nasional (Migas) dari Bojonegoro.

"Kemudian tumbuhnya usaha di Bojonegoro pada 2016 yang meningkat 5.8% dibandingkan tahun 2006," ujarnya.

Sesuai data BPS tahun 2000, Bojonegoro masuk kabupaten termiskin di Jatim, dan tahun 2006 berada diurutan ketiga termiskin.

Namun dengan strategi dan arah kebijakan yang tepat didukung penerapan keterbukaan mulai level organisasi perangkat daerah (OPD) hingga pemerintah desa, pada tahun 2016, Bojonegoro keluar dari 10 besar kabupaten termiskian di Jatim dengan menduduki peringkat 11.

Bupati Bojonegoro Suyoto mengungkapkan, untuk mendukung sektor pangan, Bojonegoro telah melakukan sejumlah upaya. Di antaranya melalui program seribu embung, infrastruktur pertanian seperti jaringan irigasi usaha tani (Jitut) dan jaringan irigasi perdesaan (Jides), serta penerapan teknologi pertanian dengan menggandeng universitas ternama di Indonesia untuk meningkatkan produksi pertanian.

Melalui program tersebut, menurut bupati yang akrab disapa Kang Yoto itu, produksi padi Bojonegoro pada tahun lalu mencapai hampir satu juta ton. Dengan produksi sebesar itu Bojonegoro mengalami surplus, sehingga hasil produksi tersebut diserap oleh kabupaten lain.

"Kita targetkan tahun ini produksi padi bisa mencapai 1,4 juta ton," tegas Kang Yoto.

Sementara itu, 20 persen kebutuhan energi nasional dari Bojonegoro itu paling besar berasal dari Lapangan Banyuurip, Blok Cepu, sebesar 200 ribu barel per hari (bph), dan ditopang produksi minyak dari sejumlah lapangan di antaraya Lapangan Sukowati, Blok Tuban, Lapangan Tiung Biru (TBR), Lapangan sumur minyak tua.

"Untuk mendukung kelancaran produksi ini kita telah menerapkan Perda Konten Lokal. Dimana perda ini sebagai instrumen untuk meminimalisir gejolak sosial masyarakat," tandas bupati dua periode itu.

Sedangkan untuk meningkatkan jumlah usaha di Bojonegoro, kata Kang Yoto, pihaknya menggandeng sejumlah perbankan untuk memberikan akses permodalan kepada para pengusaha maupun masyarakat yang bersungguh-sungguh ingin membuka usaha.

Selain itu, tambah Kang Yoto, Pemkab juga membuat kebijakan UPP (upah pedesaan) bagi investor yang mau membuka usaha padat karya di pedesaan. Juga menyiapkan tenaga terampil sesuai kebutuhan perusahaan, dan memberi kemudahan perizinan dan pembangunan infrastruktur.

"Dengan startegi ini memuculkan usaha-usaha baru yang mampu menggerakan ekonomi masyarakat," pungkasnya.

Namun meningkatnya pertumbuhan ekonomi Bojonegoro belum mampu mengurangi ketimpangan masyarakat miskin. Justru tingkat kesenjangan masyarakat miskin meningkat pada tahun 2016 dibanding tahun tahun 2015.

Berdasarkan data yang dirilis Lembaga Swadaya Masyarakat Bojonegoro Institute (LSM BI), indeks kedalaman kemiskinan tahun 2015 sebesar 2.01 persen, meningkat menjadi 2.41 persen pada tahun 2016. Sedangkan indeks keparahan kemiskinan juga meningkat dari 0.42 menjadi 0.54 persen pada 2016.

"Ini menunjukkan mayoritas masyarakat miskin level bawah yang justru semakin menjauh di bawah garis kemiskinan," tegas Direktur BI, Aw. Saiful Huda belum lama ini.

Menurut dia, masyarakat miskin ini memiliki kemampuan daya beli sangat rendah sehingga kesulitan hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar.

"Artinya distribusi pengeluaran dan kemampuan daya beli masyarakat miskin semakin tidak merata," tandasnya.(rien/suko)


Dibaca : 305x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan
iklan