Minggu, 18 Agustus 2019
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan

Sego Tahu Kuliner Khas Bojonegoro dari Zaman Jepang

Editor: nugroho
Senin, 10 Desember 2018
ririn wedia
KULINER KHAS BOJONEGORO : Mbak Asih sedang melayani pembeli Sego Tahu yang menjadi menu andalannya.

SuaraBanyuurip.com - Ririn Wedia

Sego Tahu Bojonegoro sudah ada sejak zaman Jepang, dan masih bertahan sampai sekarang. Makanan itu menjadi salah satu kuliner khas di Bumi Angling Dharma. 

 Suara cobek dari tanah liat beradu dengan ulekan terdengar dari sebuah warung sederhana di Gang Kusnandar Kelurahan Karangpacar, Kecamatan/Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, Senin (10/12/2018). 

Alat masak tradisional itu menjadi ciri khas Warung Mbak Asih, penjual sego tahu. Sego tahu- masyarakat Bojengoro akrab menyebutnya sambal tahu atau tahu bumbu- Mbak Asih ini sudah turun temurun. 

Pertama kali, Sego Tahu ini dijual oleh Mbah Sarbini, nenek Mbak Asih, pada kisaran tahun 1947. Setelah Mbah Sarbini meninggal, usaha ini diteruskan kepada ibu Mbak Asih dan sekarang diteruskan. 

Mbak Asih tidak hanya diwarisi usaha, tapi juga resep sego tahu. Resep yang menjadikan makanan ini beda terletak pada kecap yang digunakan. 

"Saya menggunakan Kecap Semar buatan tetangga sendiri. Ini sudah turun temurun," kata Mbak Asih menjawab pertanyaan suarabanyuurip.com.

Setiap hari Mbak Asih menghabiskan hampir tiga botol Kecap Semar berukuran 600 mili. 

"Pernah dulu, yang bikin kecap itu saudaranya meninggal. Sepuluh hari tidak produksi. Saya terpaksa pakai merk lain. Wah, akhirnya dikomplain pembeli," tuturnya. 

Sedangkan untuk bumbu lainnya sama dengan sego tahu pada umumnya. Yakni kacang goreng, bawang putih, dan cabai.

Namun untuk kacang gorengnya, Mbak Asih menghaluskannya tidak menggunakan blender.  Melainkan ditumbuk kasar mamakai alu dan lumpang.

Kemudian kacang yang sudah ditaruh dalam toples tersebut diulek bersama dengan bumbu lainnya. Setelah semua bumbu halus diberi Kecep Semar, dan siap ditaburkan di atas tahu yang digoreng setengah matang. 

"Kalau diblender rasa asli kacangnya hilang," ucapnya. 

Tahu bumbu ini selain nikmat disantap dengan nasi, juga cocok dimakan memakai lontong. Makanan ini bisa dinikmati di tempat, atau dibungkus pulang. 

Untuk menu Sego Tahu Mbak Asih ini, pengunjung cukup merogoh kocek Rp10 ribu, dan lontong tahu Rp9.000. Harga itu pembeli sudah mendapat lauk tempe atau rempeyek. Tergantung permintaan pembeli.

Selain menyediakan menu andalan Sego Tahu, Mbak Asih juga menyajikan lontong sayur kare ayam dan kikil. Harga per porsinya, antara Rp10 ribu hingga Rp12 ribu. 

Bagi warga Bojonegoro, warung Mbak Asih sudah tidak asing lagi. Tempatnya mudah dijangkau. Jarak dari Alun-alun Bojonegoro hanya sekitar lima kilo meter.  Jalan Imam Bonjol terus ke timur Jalan Rajawali perempatan pertama belok ke selatan sekitar 30 meter.

Warung Sego Tahu Mbak Asih buka setiap hari. Mulai pukul 16:00 hingga pukul 20:00.

"Alhamdulillah, dalam waktu lima jam sudah habis," ujar wanita berusia 60 tahun itu.

Selain warga Bojonegoro, banyak pembeli dari luar daerah yang datang ke warung Mbak Asih. 

"Iya, banyak langganan dari luar Bojonegoro yang selalu  mampir kesini. Kebanyakan ya dari babat, lamongan, dan gresik," katanya. 

Mbak Asih mengaku, dari hasil usahanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Laba yang diperoleh setiap hari dalam waktu lima jam  berkisar Rp50.000 hingga Rp70.000.

Uang tersebut sebagian disimpan untuk kebutuhan rumah tangga, dan sebagian lagi untuk dibelikan bahan baku.  

"Uangnya muter, ya dibuat dagangan lagi," tandasnya.  

Rasa Sego Tahu Mbak Asih, diakui Fa'ad (25), lebih enak dibanding lainnya. Bumbu kacang yang dibuat terasa kental dan gurih. 

"Kalau dibandingkan lainnya ya jauh, di tempat lain itu rasanya manis dan berkuah. Jadi, bumbu kacangnya itu berkuah gitu. Kalau di Bu Asih beda, bumbu kacangnya kental dan gurih," tuturnya saat membeli Sego Tahu. 

Pria yang berkerja di perbankan ini mengaku warung Mbak Asih sudah ada sejak dia masih anak-anak. Menu Sego Tahu ini telah menjadi andalan keluarganya saat berkumpul.

Senada disampaikan Naning (30), warga Kelurahan Banjarjo, Kecamatan Bojonegoro. Karyawan swasta ini selalu membeli Lontong Tahu di Mbak Asih usai pulang kerja. Dia mengaku, sekalipun banyak penjual Lontong Tahu di Bojonegoro, tapi tidak selezat masakan Mbak Asih. 

"Gurih, lezat dan murah," pungkasnya. 

Sego tahu telah menjadi kuliner khas Bojonegoro. Makanan ini mudah ditemukan. Baik di wilayah pedesaan maupun perkotaan. Berbeda dengan kuliner lainnya, makanan ini banyak dijual pada sore dan malam hari.

Menanggapi hal ini, Kepala Dinas Ketahanan Pangan Bojonegoro, Suharto menyampaikan jika Sego atau Lontong tahu telah menjadi makanan khas Bojonegoro. 

"Ini perlu lebih didorong dan diberi tempat agar menjadi kuliner khas di sini yang diakui," pungkasnya. (rien)


Dibaca : 1341x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan