Kamis, 18 Oktober 2018
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan
iklan

Penggalangan Dana Gempa Bumi Lombok

Selfie Berpahala untuk Lombok

Editor: samian
Minggu, 12 Agustus 2018
Ali Imron
PEDULI KORBAN GEMPA BUMI : Penggalangan dana gempa Lombok di arena CFD GOR Rangga Jaya Anoraga Tuban.

SuaraBanyuurip.com - Ali Imron

Tuban- Komunitas fotografi OVERRIDE dan PFSG (Persatuan Fotografer Semen Gresik), bersama 10 organisasi termasuk beberapa band akustik yang tergabung dalam relawan Kabupaten Tuban, Jawa Timur, pada Minggu (12/8) menggelar aksi penggalangan dana dengan tajuk selfie berpahala untuk korban bencana gempa bumi Lombok.

Kegiatan sosial ini berpusat di arena Car Free Day (Gapura Pujasera) komplek GOR Rangga Jaya Anoraga Tuban.

"Kepedulian ini awalnya di gerakan oleh Komunitas fotografi OVERRIDE dan PFSG, dan alhamdulillah direspon banyak pihak," ujar perwakilan panitia penggalangan dana, Praditya Damar, kepada suarabanyuurip.com.

Praditya sapaan akrabnya, menjelaskan, penggalangan dana gempa 7 SR ini dimulai pukul 08:00-10:00 WIB. Secara teknis pengunjung CFD, dihibur dengan musik akustik dari rekan-rekan yang siap mengisi.

Lebih dari itu, pihaknya juga menyediakan stand booth foto Instagramable kekinian, dengan tema keindahan Pulau Lombok. Di lokasi yang sama di sediakan pula kotak donasi dengan seorang fotografer standby motret setiap partisipan.

"Sebagian tim ada yang bawa kotak keliling untuk jemput bola ke para pengunjung," jelas pemuda yang bekerja di Bagian Humas Pemkab Tuban itu.

Khusus penggalangan dana di CFD kali ini, penyelenggara tidak membatasi ataupun mengharuskan donasi berupa uang. Apapun wujud bantuan kita akan terima. Nanti semua yang wujud barang akan kami (override) beli, agar mudah untuk pengiriman donasinya.

"Bantuan dana juga bisa via transfer ke rek.BRI 1724-01-001993-50-8 atas nama Agus April Riyanto. Batas akhir transfer 15 Agustus 2018," tandasnya.

Informasi dari Kepala pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, menjelaskan, memasuki hari keenam pasca gempa bumi 7 SR yang mengguncang wilayah di Nusa Tenggara Barat dan Bali, penanganan darurat masih terus diintensifkan.

Masa tanggap darurat penanganan dampak gempa bumi di Nusa Tenggara Barat berakhir pada 11/8/2018. Namun mempertimbangkan masih banya masalah dalam penanganan dampak gempa, akhirnya Gubernur Nusa Tenggara Barat memutuskan untuk memperpanjang 14 hari masa tanggap darurat yaitu terhitung 12/8/2018 hingga 25/8/2018.

Kondisi di lapangan masih banyak permasalahan, seperti masih adanya korban yang harus dievakuasi, pengungsi yang belum tertangani dengan baik, gempa susulan yang masih terus berlangsung bahkan gempa yang merusak dan menimbulkan korban jiwa, dan lainnya.

Dengan adanya penetapan masa tanggap darurat maka ada kemudahan akses untuk pengerahan personil, penggunaan sumberdaya, penggunaan anggaran, pengadaan barang logistik dan peralatan, dan administrasi sehingga penanganan dampak bencana menjadi lebih cepat.

Jumlah korban gempa bumi terus bertambah. Hingga Sabtu (11/8/2018) tercatat 387 orang meninggal dunia dengan  sebaran Kabupaten Lombok Utara 334 orang, Lombok Barat 30 orang, Lombok Timur 10, Kota Mataram 9, Lombok Tengah 2, dan Kota Denpasar 2 orang.

Diperkirakan jumlah korban meninggal akan terus bertambah karena masih ada korban yang diduga tertimbun longsor dan bangunan roboh, dan adanya korban meninggal yang belum didata dan dilaporkan ke posko.

Jika di Kabupaten Lombok Timur kemarin dilaporkan 11 orang meninggal dunia. Setelah diverifikasi ternyata terjadi pencatatan ganda. Satu korban dilaporkan 2 kali karena menggunakan nama panggilan dan nama lengkap.

Sementara itu, sebanyak 13.688 orang luka-luka. Pengungsi tercatat 387.067 jiwa tersebar di ribuan titik. Ratusan ribu jiwa pengungsi tersebut tersebar di Kabupaten Lombok Utara 198.846 orang, Kota Mataram 20.343 orang, Lombok Barat 91.372 orang, dan Lombok Timur 76.506 orang.

Angka pengungsi berubah-ubah karena banyak pengungsi yang pada siang hari kembali ke rumah atau menengok kebunnya, tetapi pada malam hari kembali ke pengungsian. Selain itu belum semua titik pengungsi terdata. Juga terdapat sebagian warga yang harusnya tidak perlu mengungsi karena kondisi rumah masih berdiri kokoh tanpa kerusakan tetapi ikut mengungsi karena trauma dengan gempa.

"Semuanya memerlukan bantuan," tambahnya.

Sedangkan kerusakan fisik masih sama jumlahnya, yaitu 67.875 unit rumah rusak, 468 sekolah rusak, 6 jembatan rusak, 3 rumah sakit rusak, 10 puskesmas rusak, 15 masjid rusak, 50 unit mushola rusak, dan 20 unit perkantoran rusak.

Angka ini juga sementara. Pendataan dan verifikasi masih dilakukan petugas. Pendataan dan verifikasi rumah diprioritaskan agar terdata jumlah kerusakan rumah dengan nama pemilik dan alamat untuk selanjutnya di-SK-kan Bupati/Walikota dan diserahkan ke BNPB untuk selanjutnya korban menerima bantuan stimulus perbaikan rumah.

Hingga H+6 masih terdapat beberapa pengungsi yang belum mendapat bantuan, khususnya di Kecamatan Gangga, Kayangan dan Pemenang yang aksesnya sulit dijangkau. Juga di beberapa titik di Lombok Barat. Bantuan logistik terus berdatangan. Permasalahan utama adalah distribusi logistik yang untuk mengirimkan ke ribuan titik pengungsian.

Akses jalan menuju lokasi pengungsi juga rusak. Sebagian besar jalan di Lombok Utara mengalami kerusakan akibat gempa. Oleh karena itu percepatan distribusi logistic menjadi prioritas saat ini, selain pemenuhan kebutuhan dasar bagi pengungsi.

Kebutuhan mendesak saat ini adalah tenda, selimut, makanan siap saji, beras, MCK portable, air minum, air bersih, tendon air, mie instan, pakaian, terpal/alas tidur, alat penerang/listrik, layanan kesehatan dan trauma healing. (Aim)

Dibaca : 498x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan iklan iklan
iklan