Kamis, 21 September 2017
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan
iklan

Sentra Produksi Pot Bunga di Tuban Gulung Tikar

Editor: nugroho
Minggu, 25 November 2012
athok
TETAP BERTAHAN : Adi Wahyono masih menekuni pembuatan pot bunga, meski puluhan perajinan lainnya telah gulung tikar.

SuaraBanyuurip.com -

Sentra pot bunga yang menjadi ikon Desa Semanding, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, telah memudar. Persaingan tidak sesat menjadikan puluhan perajin gulung tikar.

 

Puluhan lapak pedagang pot bunga di sepanjang jalan Desa Semanding – Prunggahan Wetan, tutup. Butiran debu yang terhempas kendaraan yang melintas di jalan tersebut memenuhi lapak itu. Warnanya menjadi putih ke abu-abuan. Bahkan kayu-kayu yang biasanya digunakan untuk memajang pot bunga mulai lapuk dimakan waktu.

Sejak dua tahun terakhir ini, satu per satu penjual pot bungga meninggalkan lapaknya. Padahal, dulunya, selama bertahun-tahun tempat tersebut menjadi sentra produksi pot bunga di Kabupaten Tuban. Tempat itu selalu menjadi jujugan bagi pecinta bunga dan penghobi berkebun. Baik warga wilayah Tuban, maupun luar daerah seperti Bojonegoro dan Lamongan selalu memburu pot bunga disini.

Karena di Desa Semanding, mereka dapat menemukan beraneka jenis ukuran dan bentuk pot bunga yang berbahan baku semen dan pasir itu. Selain itu harganya pun relatif murah. Dari Rp17500-Rp7500 (ukuran kecil-sedang ) hingga Rp75.000-Rp90.000 (ukuran besar).

Namun, sekarang ini, tempat itu tak lagi ramai. Tak ada aktfitas perajin pembuat pot bunga. Celoteh dan sendau gurau para karyawan yang biasanya akrab memecah pagi pun tak lagi terdengar. Kampung produsen pot bunga itu seperti mati.

Kalau pun ada perajin pot yang masih bertahan sekarang ini tak lain adalah Adi Wahyono, (30). Dia adalah satu-satunya perajin yang masih tetap setia menekuni usaha produksi pot bunga meski kerajinan itu tengah lesu. Bahkan puluhan perajin lainnya sudah gulung tikar.

 “Sebelum dua tahun ini, ada sekitar 20-an pengusaha pot bunga. Setiap pengusaha rata-rata memperkerjakan 10-15 karyawan,” kata Adi Wahyono kepada SuaraBanyuurip, Sabtu (24/11/2012).

Keberadaan home industri ini sebenarnya mampu membuka peluang kerja. Bukan hanya warga Semanding, namun banyak warga dari desa-desa tetangga yang menjadi karyawan. Hasil produksi para perajin tersebut dipasarkan dengan cara memajang didekat jalan raya.

“Kalau ada pot semen warna putih saya jamin belinya pasti dari tempat ini,” tegas Adi.

Lahirnya home industri pembutan pot bunga di Desa Semanding ini tak lepas dari sosok Adi dan temannya, Tamaji. Berbekal pengalaman sebagai karyawan disebuah geleri yang memproduksi karya seni berbahan semen dan pasir di Bali, kedua orang ini kemudian berinisiatif membuka usaha dikampung halamannya.

Dulu saya selalu kewalahan melayani permintaan. Setiap harinya saya bisa menjual pot bunga 1-2 mobil tepak.
Hasil produksi mereka pajang begitu saja didekat jalan raya. Dalam perjalanannya, pot bunga kreasinya banyak diminati. Terbukti banyaknya permintaan dan pesanan.  Untuk pengembangan usaha, akhirnya Tamaji memilih untuk membuka produksi sendiri.

“Para karyawan yang awalnya ikut bekerja ditempat kami, akhirnya satu persatu membuka usaha sendiri. Tempatnya usaha dan penjualannya juga disekitar sini,” kenang Adi.

Selain melayani pembeli yang langsung datang, para pengusaha pot bunga di Desa Semending dulunya melayani pembelian partai. Rata-rata mereka sudah memiliki pelanggan tetap yang berasal dari Kabupaten Lamongan, Bojonegoro, Rembang bahkan ada yang memasarkan hingga ke Kalimantan dengan dinaikkan kapal.

”Dulu saya selalu kewalahan melayani permintaan. Setiap harinya saya bisa menjual pot bunga 1-2 mobil tepak,” ungkap Adi.

Namun, sayangnya, masa kejayaan penjual pot bunga itu harus redup karena tidak adanya koordinasi yang baik antar sesama pengusaha. Bahkan lambat laun terjadi persaingan tidak sehat. Satu dua pengusaha pemula berusaha merebut pembeli dengan menjatuhkan harga. Dari situ kemudian satu persatu pengusaha pot bunga mulai gulung tikar.

“Banyak para karyawan kami yang dibeli orang-orang dari luar daerah untuk mengajari cara membuat pot bunga. Bahkan ada juga yang rela menjual alat cetakan pot bunga ke orang lain,” sesal Adi. 

Orang luar daerah yang sudah mendapatkan ilmu cara membuat pot bunga akhirnya membuka usaha sendiri didaerahnya sehingga tidak membeli lagi pot bunga dari Semanding. “Sejak saat itu usaha kami benar-benar tiarap,” tandas Adi.

Walau banyak pengusaha pot bunga yang sudah gulung tikar, Adi tetap bertahan menekuni usahanya. Untuk kembali menjaring pembeli mengikuti model pot bunga yang sedang tren yaitu berwarna hitam layaknya terbuat dari batu. Namun usahanya tersebut tidak berdampak signifikan.

“Jarang pembeli yang datang mas. Sehari rata-rata hanya laku 5-7 buah. Bahkan sering tidak laku,” keluh Adi memelas. ( totok martono)

Dibaca : 5424x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan