Minggu, 19 November 2017
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan
iklan

Sepekan Pamerkan Batik Pewarna Alam

Editor: samian
Senin, 21 November 2016
Ali Imron
SEMUA PIHAK MENDUKUNG : Tak disangka pewarna alam untuk batik Tuban mampu menarik nilai seninya yang sangat mahal.

SuaraBanyuurip.com-

Siapa sangka kulit buah Jolawe, kulit kayu Tingi, daun Tom atau Indigovera, kulit kayu Jaranan, maupun kulit kayu Mahoni kini mahal nilainya. Terbukti para pembatik Tuban, Jawa Timur kembali menggunakan pewarna alam dari pohon-pohon tersebut. Bahkan menjadi program tersendiri bagi komunitas pembatik Bumi Wali.

Setelah dipadu dengan bahan fiksasi berupa Soda Abu, Tro, Kapur, Tawas, maupun Tunjung, setiap bahan alam tersebut kian pekat warnanya. Proses panjang itulah menjadikan setiap helaian batik Tuban, mahal nilai seninya bahkan mampu menjadi obat tersendiri.

Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Koalisi Perempuan Ronggolawe (KPR) Tuban, Jawa Timur selama sepekan menggelar pameran batik pewarna alam di Universitas PGRI Ronggolawe (Unirow). Acara yang didukung penuh oleh perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) PT Semen Indonesia (Persero) Tbk itu, dibuka langsung oleh istri Bupati Tuban, Qodriyah Fathul Huda.

Dalam kesempatan tersebut, Direktur KPR Tuban, Nunuk Fauziyah, berterimakasih atas kepercayaan dari Unirow untuk melakukan kegiatan di kampus yang beroperasi di Jalan Manunggal Nomor 61. Selain itu pula, mendukung kegiatan Wisuda ke-XIII dan diesnatalis ke-X Unirow Tuban.

"Pameran sepekan ini sebagai langkah melestarikan batik pewarna alam yang ramah lingkungan kepada civitas akademika," ucap Nunuk.

Lembaga yang konsen pada isu perempuan dan anak di Tuban ini, juga berterimakasih kepada PT Semen Indonesia (Persero). Dimana sejak tahun 2012 telah menjalin kerja sama. Pada tahun 2016 telah melakukan assessment di beberapa komunitas pembatik sekitar operasional perusahaan.

Hasil dari assessment tersebut, kini setiap komunitas telah memiliki alat batik cap bantuan dari PT Semen Indonesia (SI). Melalui tekad yang kuat dan sinergi dari berbagai pihak, setiap komunitas akhirnya mampu menghasilkan batik yang memiliki nilai jual.

"Batik yang dipamerkan sepekan ini merupakan produk asli Tuban, tentunya tidak meninggalkan kultur khasnya," imbuhnya.

Sekalipun motif yang dihasilkan dari tangan pembatik harus dikolaborasikan. KPR berharap setiap pembatik tidak melupakan cara memproduksi batik tulisnya.

Hasil riset KPR, hingga tahun ini di beberapa desa penghasil batik peminatnya mulai surut. Selain tidak adanya regenerasi, upah yang diterima pembatik dapat dikatakan belum layak.

Dari selembar kain batik, pembatik hanya menerima upah minimal Rp 8 ribu dan tertinggi Rp 80 ribu. Variasi upah yang diterima tergantung pada tingkat kesulitan dan lama prosesnya.

"Keterlibatan komunitas perempuan pembatik di pameran ini diharapkan lebih bergairah mendulang kembali masa kejayaan batik," sambungnya.

Problem mayoritas yang dialami perempuan itu, kemudian didiskusikan kepada PT Semen Indonesia. Akhirnya disepakati adanya program pelatihan dan pendampingan perempuan di ring 1 perusahaan.

"Disamping itu pula, mahasiswa sebagai agen intelektual juga mau belajar membatik sekaligus menggunakannya," tambahnya.

Inovasi pameran sepakan ini langsung diapresiasi oleh Kepala Disperpar Tuban, Farid Achmadi. Seiring berjalannya waktu harus ada regenerasi pembatik. Kedepan pembatik jangan hanya menjual batiknya saja, namun lebih konsen pada motifnya.

Menurutnya, desain batik lebih mahal nilainya, jika dibandingkan kauntitas batik yang dihasilkan. Apalagi batik Tuban telah mendapat pengakuan di Internasional, bahwa coraknya tidak mencolok dan kuat pewarna alamnya.

"Kerja keras pembatik Tuban tahun ini telah menjuarai desain batik di tingkat Jatim 2016," jelasnya.

Farid memaparkan, jika pewarna alam memiliki banyak keunggulan. Selain bahannya tersedia di lokal, prosesnya pun mudah. Pembatik cukup memanfaatkan batang pohon, daun, akar, hingga buah.

Kekuatan pewarna alam untuk batik Tuban juga diakui pembatik asal Jogja. Rata-rata setiap bulannya meminta kiriman bahan alam dari Kecamatan Kerek. Potensi ini harus dikembangkan, dan didukung sepenuhnya oleh corporate.

"Selain mengembangkan batik, kita juga harus mampu menjalankan bisnisnya," ungkapnya.

Senada dengan yang diucapkan Ketua DPRD Tuban, Miyadi. Dimama aset batik Tuban dengan ratusan motifnya harus dilestarikan. Upaya tersebut menjadi tugas bersama untuk memasarkan batik di tingkat lokal, regional, Nasional, hingga Internasional.

"Sebagai penghasil batik kita harus dapat mengontrol harganya sesuai kelas ekonomi," pintanya.

Hal tersebut sebagai upaya bahwa batik dapat terjangkau, baik dikalangan elit, politikus, publik figur, maupun golongan menengah ke bawah. Selain itu, terus berinovasi mendorong batik Tuban untuk lebih populer di masyarakat luas.

"Salah satunya dengan mengenakan batik jika menghadiri acara resmi di luar Tuban," jelasnya.

Selain itu, Kasi Bina Lingkungan PT SI, Wasito Edi juga mengapresiasi dedikasi KPR dalam memberdayakan dan membina perempuan di sekitar perusahaan. Sinergi selama ini yang telah terjalin, secara perlahan mampu menciptakan generasi perempuan yang mandiri.

"Harapannya kerja sama ini dapat terus berlanjut, dan mendukung perkembangan batik Tuban," pesannya.

Rektor Unirow Tuban, Supiana Dian Nurtjahyani juga mendukung pameran batik pewarna alam tersebut. Menurutnya pewarna alam mampu menjadikan Tuban lebih baik dan sejahtera, sebab di negara lain tidak memiliki bahan tersebut.

"Mahasiswa Unirow harus mulai belajar membatik supaya memahami makna batik yang sarat seni," pungkasnya.

Selain memamerkan 20 motif batik klasik dan 45 motif cap kontemporer, beberapa perempuan komunitas pembatik juga menggelar demo membatik dengan canting.

Seiring dibukanya pameran, Gebyar kegemberiaan mulai tampak dengan eloknya guratan di setiap lembaran kain batik dengan motif Godong Sawi, Lesung, Manuk Emprit, Sri Guntingan, Manuk Guntingan, maupun Asem Londo. (Ali Imron)

 

 

 

 

Dibaca : 615x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan iklan
iklan