Jum'at, 21 September 2018
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan

Surat Terbuka untuk PJ Bupati Bojonegoro

Soal Jamkesda, UUP, Jalan Lobang dan DAK Pendidikan Terlambat Cair

Editor: samian
Minggu, 17 Juni 2018
Ist
Patkur Rochman

SuaraBanyuurip.com -

Oleh : Patkur Rochman

IJINKAN saya melalui surat terbuka ini meskipun terlambat menyampaikan selamat datang dan menjabat PJ Bupati Bojonegoro.

Terus terang satu dua tahun terakhir ini kami merasa sangat nyaman hidup di Bojonegoro. Kami merasakan kebanggaan sebagai warga Bojonegoro. Dulu kami hanya dikenal karena kemiskinan dan banjirnya. Hutan jati dan tembakaunya. Kini kami dikenal sebagai daerah penghasil migas walaupun kami sadar ini hanya sementara. Kami bangga menjadi percontohan dunia untuk pemerintah terbuka dan patnership. Sebagai daerah yang mampu mengelola bencana. Dulu tidak ada orang luar Bojonegoro rekreasi ke mari, tapi kini mulai ramai. Dulu kami harus pergi ke Surabaya untuk mengurus Paspor, tapi kini sudah ada di Bojonegoro. Satu lagi kami juga suka nama Bojonegoro sering muncul di media nasional, dan banyak tamu luar negeri berkunjung ke Bojonegoro.

Terus terang kami tidak banyak memahami bagaimana cara Pemkab, khususnya Bupati Suyoto atau Kang Yoto kami biasa memanggilnya mengusahakan seluruh hasil pembangunan yang dapat kami nikmati. Kami rakyat tidak paham proses, bagi kami sepanjang pemerintah mengurus urusan rakyat, urusan kami semua dan hasilnya nyata kami sudah puas. 

Maka kami senang kemiskinan Bojonegoro turun, ekonomi tumbuh, sementara kesenjangan kaya miskin sempit. Nasib orang miskin seperti tertera hasil BPS P0 dan P1 menunjukkan jauh lebih baik dibanding dengan kabupaten tetangga. Kami sekali tidak paham teknis kebijakan, maka kami terkejut saat Bapak membatalkan UUP dengan alasan sebagai penyebab kesenjangan (disparitas) kaya miskin. http://suarabanyuurip.com/kabar/baca/uup-bikinan-mantan-bupati-suyoto-jadikan-disparitas-kian-menganga. Sebab kami justru merasakan sebaliknya, saudara dan tetangga kami yang semula nganggur kini dapat kerjaan, yang semula pendapatannya 0 rupiah menjadi satu juta rupiah lebih. Saudara kami akan memilih kerja dekat rumah dengan upah satu juta seratus daripada di kota 1,5 juta atau daripada di surabaya 2,5 juta rupiah. Sebab ongkos pisah keluarga jauh lebih mahal. Dengan ketrampilan yang biasa biasa saudara kami sudah sangat bersyukur mendapatkan pekerjaan. 

Bagaimana bapak menjelaskan kepada kami kalau kelak perusahaan di pedesaan ini pindah, darimana saudara kami dapat kerjaan? Sebagai Ahli hukum bapak pasti lebih paham soal regulasi, tapi sebagai rakyat kami hanya butuh solusi atas kemiskinan dan pengangguran. Mohon maaf mungkin saat perusahaan sepatu, plastik atau pengolahan sarang burung tutup atau pergi Bapak sudah tidak lagi di Bojonegoro.

Begitu juga soal jamkesda, bagi kami mau jamkesda dikelola Pemkab atau dintegrasikan dengan BPJS tidaklah masalah. Yang penting kami dapat solusi saat perlu pengobatan. Sebagian besar kami tidak termasuk miskin tapi juga tidak kaya. Membayar iuran BPJS kelas tiga sekalipun menjadi tambahan beban yang tidak ringan. Kami tentu saja senang saat mendengarkan Jamkesda diintegrasikan dengan BPJS, tapi kami sedih saat tahu ternyata tidak lebih dari 10.000 warga Bojonegoro yang mendapatkannya. Mohon Bapak berkenan menjelaskan ke publik bagaimana nasib rakyat yang selama ini menikmati Jamkesda dari kelompok tidak mampu bayar, apakah masih akan mendapatkan bantuan pemkab saat memerlukan tindakan atau perawatan di rumah sakit.

Setahu saya masih ada 500 ribuan warga Bojonegoro yang tidak mendapatkan kartu Indonesia sehat tapi juga belum ikut BPJS secara mandiri. Terus terang bagi kami para petani dengan lahan yang sempit dan pekerja tidak tetap biaya rumah sakit adalah momok yang menakutkan, sekali masuk rumah sakit kami bisa bangkrut, jatuh miskin.

Terakhir mohon bapak pastikan jalan lobang saat idul fitri aman kami lewati sebagaimana tahun tahun sebelumnya. Mohon juga Bapak pastikan DAK pendidikan untuk anak anak SLTA sudah diterima siswa siswa. Sebab anak anak kelas tiga sudah lulus pak. Sebab tahun lalu tidak terlambat Pak. Bagi kami Pak urusan ini jauh lebih penting untuk mendapatkan Pemkab yang Bapak Pimpin.
Trimakasih atas perhatian Bapak, mohon maaf jika Bapak kurang berkenan dengan surat terbuka saya ini. Saya memilih cara ini karena belum tahu bagaimana menyampaikan aspirasi sejak dialog jumat tidak ada, sementara nomor handphone (HP) Bapak kami tidak punya. Mudah mudahan Bapak berkenan membaca dan merespon surat terbuka ini.

Selamat beridul Fitri buat Pak Pj. Bupati semoga sehat dan sukses. 

Penulis adalah Ketua PSI Bojonegoro

 

Dibaca : 570x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan