Sabtu, 17 November 2018
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan

Socorejo Juaranya Gotong Royong di Kabupaten Tuban

Editor: nugroho
Rabu, 07 November 2018
Ali Imron
SIMBOLIS : Bupati Fathul Huda memberikan penghargaan kepada Desa Socorejo yang diterima Kades Arief Rahman Hakim.

SuaraBanyuurip.com - Ali Imron

Tuban- Desa Socorejo, Kecamatan Jenu, dinobatkan sebagai desa paling aktif melakukan gotong royong di Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Penghargaan diserahkan langsung oleh Bupati Tuban, Fathul Huda kepada Kepala Desa (Kades) Socorejo, Arief Rahman Hakim, dalam puncak kegiatan BBGRM ke-15 dan KHG-PKK ke-46 tahun 2018. 

"Prestasi ini berkat dukungan semua pihak," ujar Kades Arief Rahman Hakim, kepada suarabanyuurip.com di sela- sela acara di pantai wisata Kapal Kandas Socorejo, Rabu (7/11/2018).

Kang Arief biasa disapa, menjelaskan, wisata Kapal Kandas ini sebelumnya menjadi lokasi berbagai kegiatan. Mulai dari even perahu hias, maupun kirab arung samudera. Disamping itu, istri Bupati Tuban, Qodriyah Fathul Huda maupun Wakil Ketua DPRD dan Komisi C juga pernah berkunjung di wisata yang viral di kalangan generasi milenial ini. 

Dengan kunjungan tersebut telah membawa dampak positif untuk masyarakat Socorejo yang penuh kebersamaan, kegotongroyongan, dan kebahagiaan. Socorejo pun berkomitmen menjaga dan melestarikan budaya gotongroyong.

"Semangat membangun kami beserta perangkat desa sangat kompak," jelasnya. 

Selain juara 1 lomba BBGRM, Pemdes Socorejo juga menyabet juara I lomba desa award, dan lomba BUMDes terbaik se-Kabupaten Tuban. Lebih dari itu, juara harapan 2 lomba kearsipan tingkat Kabupaten Tuban.

Kepala Dipemas Desa dan KB Tuban, Mahmudi, mengucapkan selamat kepada Desa Socorejo menjadi juara satu, disusul Desa Kembangbilo, Kecamatan Tuban dan juara tiga disabet Desa Talun, Kecamatan Montong. 

Tujuan pelaksanaan BBGRM tahun 2018 untuk meningkatkan peran masyarakat dalam melestarikan  gotong rotong, melalui partisipasi masyarakat dalam pembangunan. Khususnya pemberdayaan lembaga  kemasyarakatan dalam pembangunan desa yang efektif, efesien, dan tepat sasaran.

“Disamping itu, pelaksanaan BBGRm Tuban 2018 merupakan tindak lanjut dari lomba tingkat Provinsi Jatim tahun 2019 mendatang,” sambungnya. 

Sebagaimana Nota Dinas Sekda Tuban nomor 140/6915/414.106/2018, acara BBGRM 2018  di Socorejo akan dihadiri 400 peserta. Mereka adalah Bupati Tuban beserta Ibu, Wakil Bupati beserta Ibu, Komandan Kodim 0811 Tuban, Kapolres Tuban, Ketua PN Tuban, Ketua Kejari Tuban, Ketua PA Tuban, Ketua DPRD Tuban, Ketua Penggerak PKK Tuban.

Sekda Tuban, 24 OPD Tuban, 20 Camat se-Tuban, 20 Ketua PKK se-Tuban, 15 Dippemas Tuban, 5 Dharma Wanita Dipemas , 10 anggota PKK Tuban, 5 pegawai Kecamatan Jenu, 5 orang Muspika Kecamatan, 5 Dharma Wanita Kecamatan Jenu, 17 Kepala Desa se-Jenu, 17 Ketua PKK se-Jenu, 85 perangkat desa se-Jenu, 68 Ketua Pokja PKK se-Jenu, 17 Ketua LPMD se-Jenu, 68 Ketua Pokja PKK Desa, 20 tokoh masyarakat, dan 55 masyarakat desa se-Kecamatan Jenu.

Bupati Tuban, Fathul Huda, mengucapkan syukur Alhamdulillah karena bisa silaturahim di Socorejo dalam rangka BBGRM ke-15 dan HKG-PKK ke-46. Kecamatan yang ditempati Camat Moh. Maftuchin Reza ini selalu ditempati puncak BBGRM. 

Seandainya Socorejo tak jadi juara, menurut bupati, pasti perusahaan sekitarnya yang malu. Sebab menjadi bukti kalau perusahaan kurang koperatif. 

"Hasil ini berarti keberadaan perusahaan tak sia-sia, danan semoga disusul prestasi lain," terang Bupati Petahana di Bumi Wali. 

Dijelaskan, gotongroyong adalah kultur bangsa Indonesia, dan budaya utama Jawa. Budaya dan agama tak bisa dipisahkan. Jika ada budaya yang tidak sesuai agama, jangan budayanya yang dihilangkan tapi diluruskan. 

Huda, sapaan akrab Fathul Huda, mengungkapkan, berapa waktu lalu bertemu dengan Bupati Bali, dan sempat menanyakan mengapa orang Bali santun-santun. Apakah Agama Hindu mengajarkan kesantunan.

"Jawaban Bupati Bali, itu terbentuk karena karakter dan budaya. Bukan agama karena semua agama mengajarkan hal yang baik," tuturnya.

"Maka dari itu, budaya gotong royong harus dilestarikan. Seperti budaya yang ditampilkan ada tari, pencak silat, tari dua jari dan lain sebagainya," pesan Huda.

Kalau gotong royong tak dilestarikan, akan terkikis. Hal ini sudah terjadi khususnya di Kota Besar. Mulai sekarang marilah kalau berpikir seperti orang kota, dan kalau berbudaya seperti orang desa.(aim)


Dibaca : 230x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan