Kamis, 21 September 2017
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan
iklan

Sriyati Bertahan di Pande Besi

Editor: teguh
Selasa, 21 April 2015
Ririn Wedia
PANDE BESI : Mbah Sriyati mempertahankan profesinya sebagai Pande besi di saat profesi lemah gemulai dipilih kaumnya.

Bisa jadi Sriyati adalah perempuan luar biasa. Profesi Pande besi pun dilakoninya. 

ANGGAPAN yang menyebut kaum hawa identik dengan hal-hal yang lembut dan lemah gemulai, sepertinya patah di tangan Sriyati. Pekerjaan yang dipegang pun tidak jauh dengan kata ringan.

Terlebih jaman sekarang yang serba modern, banyak wanita menjadi Kartini Kartini masa kini. Tidak lagi bergelut dengan asap dapur, melainkan menggeluti berbagai macam bidang pekerjaan, padat teknologi pula.

Tidak seperti perempuan kebantyakan, Sriyati memilih pekerjaan yang biasa dipegang laki-laki. Wanita yang terlahir 65 tahun silam itu, setiap harinya mampu memproduksi berbagai jenis peralatan pertanian.

Warga sekitar akrab menyebutnya sebagai Pande Wesi (pembuat alat pertanian berbahan besi) yang perkasa. Dia tinggal di Desa Kedaton, Kecamatan Kapas, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Dalam karirnya sebagai Pande besi, dirinya mampu memproduksi 30 sampai 40 jenis alat pertanian.

Bagi wanita perkasa ini, menganggap aktifitasnya seperti membuat sabit, cangkul, celurit, dan berbagai jenis peralatan pertanian adalah hal yang biasa.

"Saya tidak bisa berhenti bekerja seperti sekarang ini, tidak betah. Kalau tidak kerja malah sakit semua badan saya," ujarnya.

‪Diusianya yang sudah senja, Mbah Sriyani—demikian parav tengganya akrab menyapa, masih terus berjuang mencari nafkah sebagai Pande besi. Profesi ini mulai ditekuni sejak masih muda, tepatnya sekitar tahun 1987 silam.

"Tidak semua orang mau bekerja menjadi Pande besi, karena berat sekali, apalagi wanita pasti tidak sanggup," terang Mbah Sriyati sambil tersenyum.

Dalam memproduksi piranti pertanian, ungkap Sriyati, awalnya sebuah besi dibakar di tungku yang penuh dengan arang kayu dan api. Setelah besi panas berubah menjadi seperti warna api, kemudian dilempengkan menggunakan palu besar. Proses inilah besi dibentukl seperti sabit, dan sebagainya.

‪"Dipukul memakai palu selama beberapa kali sampai benar-benar menjadi bentuk sabit misalnya, setelah itu dihaluskan dengan mesin gerenda," katanya.

‪Selain mampu membuat sabit dan lain-lain, Sriyani juga mampu membuat gagangnya yang berbentuk ukiran dari kayu jati. Dalam satu buah sabit, dia hanya menjualnya seharga Rp30 ribu, sedangkan jenis cangkul Rp40 ribu. Meski demikian dalam setiap bulannya dia mampu memperoleh Rp400 sampai Rp500 ribu.

‪"Ya lumayan juga hasilnya, seimbang dengan beratnya pekerjaan," imbuhnya.

‪Dalam memproduksi peralatan pertanian itu dia terkadang dibantu suaminya, Masrun (53). Tepi sang suami tak setiap hari membantu karena tidak telaten.

Suaminya mengaku lebih suka bekerja sebagai petani ketimbang membuat alat berbahan besi itu.

‪"Katanya berat dan lama, anak-anak saya juga tidak ada yang membantu membuat alat-alat ini," tambahnya sembari menunjukan sabit hasil buatannya.

Ibu tiga anak itu khawatir ke depan kerajinannya membuat peralatan pertanian itu punah. Sepertinya di Bojonegoro hanya ada dia yang menjadi Pande besi.

"Peralatan ini sampai kapanpun akan dicari dan digunakan oleh masyarakat, makanya saya tekuni meski berat," pungkasnya. (ririn wedia)

 

Dibaca : 1116x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan