Senin, 25 September 2017
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan
iklan

Suyoto : Migas Harus Buat Masyarakat Tersenyum

Editor: nugroho
Kamis, 01 November 2012
dok
Suyoto, Bupati Bojonegoro

SuaraBanyuurip.com - Ririn W

 

Bojonegoro - Bupati Bojonegoro, Jawa Timur, Suyoto menegaskan, salah satu fokus pemerintah kabupaten (Pemkab) Bojonegoro sebagai daerah penghasil minyak adalah membuat masyarakat tersenyum. Artinya  masyarakat tidak merasa ditinggalkan yang akhirnya memununculkan dampak sosial yang bisa mengahambat kegiatan migas.

“Konsen kami adalah bagaimana masyarakat bisa secure (gembira) dengan adanya migas ini. Gembira apabila mereka dapat terlibat, sehingga bisa ikut memiliki,” kata Suyoto dalam dialog live di salah satu stasiun televise swasta yang bertajuk “ Sinergi Tingkatkan Produksi Migas “ bersama Menteri Energi Sumber Daya dan Mineral (ESDM), Jero Wacik dan Wakil Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP. Migas) J. Widjonarko, Rabu (31/10/2012).

Kang Yoto, sapaan akrab Bupati- saat memberikan pernyataannya dihadapan masyarakat se Indonesia, menjelaskan, selain menciptakan secure Pemkab Bojonegoro memiliki komitmen dana bagi hasil migas (dbh) tidak hanya dapat dinikmati hari ini. Melainkan pendapatan tersebut dimanfaatkan dalam jangka panjang yang bisa dinikmati anak cucu sehingga keberadaan migas tidak lagi menjadi kutukan .

Untuk mengatur itu, lanjut dia, telah mengaturnya dalam sebuah regulasi. Yakni sekian persen dari pendapatan Migas diinvestasikan di sektor keuangan. Contohnya, diinevstasikan di Bank Jatim yang nantinya dari pendapatan itu dalam jangka panjang akan menambah kemampuan keuangan daerah. Dengan konsep itu, sekarang ini, kata dia, pemilik saham Bank Jatim No 4 adalah Kabupaten Bojonegoro.

“Meskipun nantinya pemimpin Bojonegoro bukan lagi saya, namun dengan konsep ini saya ingin bagaimana migas di Bojonegoro ini tidak menjadi kutukan anak cucu,” ujar Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Amanat Nasional (PAN) Jatim ini.

Suyoto mengungkapkan, disamping mengatur konsep pendapatan DBH, dirinya juga mengatur secara detail tata ruang kawasn industri migas agar kawasan tidak rusak dan menimbulkan masalah dikemudian hari setelah minyak habis.

“Ini juga yang kita hindari. Jangan sampai keberadaan migas justru merusak lingkungan yang ada,” tegasnya.

Dia mengungkapkan, saat ini di Kabupaten Bojonegoro memiliki Sumur Sukowati yang di operatori Joint Operating Pertamina Petrochina East Java (JOB PPEJ)  telah menghasilkan sekira  43 ribu barel per hari (bph) dan pendapatan dari minyak. Penggunaan DBH tersebut juga telah dibuat transparan.

 

“Maka dari itu kita juga membuat Peraturan Daerah (Perda) transparansi agar semua orang bisa tahu pendapatan minyak berapa dan untuk apa,” papar Suyoto.

Karena itu, Suyoto berharap agar pemerintah pusat, BP. Migas dan kontraktor kontrak kerja sama (K3S) tidak hanya melakukan pendekatan kontributif, melainkan juga partisipatif. Sehingga memahami dan mengerti apa yang diinginkan masyarakat.

"Sebab sebagai daerah penghasil migas kita selalu menerima dampak sosial dari kegiatan itu," pungkasnya masuk akal. (rin/suko)

Dibaca : 1445x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan