Kamis, 18 Januari 2018
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan
iklan

Tambang Karst Target Kunjungan Komnas HAM

Editor: samian
Rabu, 13 April 2016
Ali Imron
BUKAN KEJADIAN BIASA : Komnas HAM akan lakukan kunjungan ke tambang untuk mengetahui seberapa parah sebaran debu ke lingkungan.

SuaraBanyuurip.comAli Imron

Tuban - Menindaklanjuti tingginya angka kematian warga Desa Karanglo, Kecamatan Kerek, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, tim Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) bakal mengunjungi langsung aktivitas pertambangan batu karst di wilayah setempat.

Tujuannya bisa mengetahui secara jelas dari jarak dekat seberapa parah sebaran debu tambang ke pemukiman warga. Tercatat, aktivitas tambang skala industri itu hanya berjarak 500 meter dari pemukiman warga Karanglo.

"Selain menemui keluarga warga yang meninggal, lokasi tambang juga akan kami lihat," kata perwakilan Tim Komnas HAM, Mimin Dwi Hartono, kepada Suarabanyuurip.com, ketika ditemui di Balai Desa Karanglo, Kerek, Rabu (13/4/2016).

Soal kematian warga hingga puluhan, dalam kurun waktu dua bulan bukan kejadian biasa. Perlu dilakukan penelitian mendalam soal insiden di sekitar area industri tambang.

"Kami hanya memverifikasi, dan klarifikasi data di lapangan," imbuhnya.

Pantauan di lokasi, ada 7 personel dari Komnas HAM yang terjun ke Desa Karanglo. Planing verifikasi, tim dibagi menjadi dua, pertama melakukan interview keluarga warga yang meninggal, dan tetangganya.

Tim kedua, mencari data di desa sekitar Karanglo, diantaranya Desa Pongpongan, dan Padasan. Kemudian berlanjut melihat kondisi tambang karst.

“Hasilnya akan dipaparkan ke Pemerintah Daerah (Pemda) Tuban besok hari Kamis (14/4),” tambahnya.

Sementara, Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Jawa Timur, Oni Mahardika, membenarkan, rencana Komnas HAM mengunjungi tambang sekitar desa setempat.

Dia menjelaskan, upaya verifikasi harus dilakukan secara mendalam. Bukan hanya soal kesehatan warga, tetapi kondisi ekonomi, sosial, serta keadaan lingkungan harus dikroscek.

"Ada kemungkinan debu tambang memicu lemahnya kesehatan warga," sambungnya.

Secara medis aktivitas tambang karst baru mempengaruhi kesehatan warga dalam kurun 20 tahun kedepan. Apabila dikalkulasi, industri tambang skala besar telah berdiri sejak tahun 1990-an, sehingga prakiraan awal kisaran tahun ini kesehatan warga baru terdampak.

“Kesimpulannya baru diketahui pasca pemaparan oleh komisioner tim,” ungkapnya.

Diketahui, beberapa waktu lalu, Kades Karanglo, Sunandar, menyebut dalam waktu 45 hari ada 61 warganya meninggal. Data tersebut disangkal oleh Dinas Kesehatan (Diskes) setempat, pasca diverifikasi hanya 28. Selang beberapa hari ada satu warga meninggal, jadi jumlah total hingga saat ini 29 orang meninggal karena berbagai penyakit.

Penyangkalan itu dilakukan karena informasi yang diberikan Kades Karanglo dianggap salah tidak sesuai dengan realita yang ada. Sedangkan, Kades Karanglo juga telah mengakui bahwa informasi yang diberikan kepada wartawan tersebut adalah salah. (Aim)

Dibaca : 345x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan
iklan