Sabtu, 18 November 2017
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan
iklan

Tangan Tuhan Menyentuh SPBU Siman

Editor: teguh
Senin, 19 Oktober 2015
12
Totok Martioni
SPBU SIMAN : Lokasi SPBU Siman, Lamongan milik H Syamsuri. Selama ini benyak melayani kebutuhan BBM pertanian.
tok
H Syamsuri

Ada yang berkata bisnis SPBU adalah usaha tanpa merugi. Yang pasti pengelolaannya tak semudah membanting kartu di meja judi.

TIDAK mudah berkecimpung di bisnis Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). Selain dibutuhkan investaai miliaran rupiah, lokasi pendirian SPBU harus diperhitungkan cermat, strategi pemasaran juga harus jitu.

Jatuh bangun di usaha SPBU sudah kenyang di rasakan Direktur SPBU Siman, Kecamatan Sekaran, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, H Mad Syamsuri. Usahanya sempat mengalami kebangkrutan. Berkat keuletan bisa kembali berkembang, dan menjadi SPBU paling ramai dari 23 SPBU di Lamongan.

Usaha bisnis Bahan Bakar Minyak (BBM) dirintis Syamsuri sejak tahun 2000. Awalnya mendirikan usaha SBPU kecil, warga menyebut Pertamini, di tepi Jalan Raya Desa Siman. Naluri bisnisnya cukup kuat karena di sepanjang jalan antarkecamatan Pucuk-Brondong itu, belum ada SPBU.

Usahanya cukup laris. Selain dari motor dan kendaran, konsumen utama BBM adalah petani, dan kelompok tani yang tersebar di Kecamatan Maduran, Sekaran, Laren, hingga Kecamatan Solokuro. Perkembangannya pada tahun 2008 mengubah usahanya menjadi SPBU.

"Apalagi pada tahun 2008 Pertamina melakukan standarisasi. Untuk setiap SPBU harus memiliki minimal dua dispenser dan empat nosel," ujar Syamsuri, dia menyuntikan dana segar Rp3 miliar untuk membangun SPBU itu.

Di tahun-tahun awal penjualan SPBU cukup ramai. Sayang jalan tak selalu mulus, karena manajemen yang buruk, dan kurangnya pengawasan. SPBU terus merugi diambang kebangkrutan.

"Saya berniat menjualnya, sudah saya tawarkan kemana-mana namun tidak ada yang tertarik membeli SPBU saya," tuturnya. Usahanya bangkrut sedang dirinya harus menangung hutang bank hingga miliaran rupiah.

Diantara keputusasaan Syamsuri berusaha menata kembali manajemen  usahanya. Pengawas dan karyawan dirombak total. Disinilah dia merasakan uluran tangan Tuhan.

"Dengan managemen baru dan pengawasan langsung dari saya, SPBU yang sudah kolaps bisa kembali berjalan lancar," terang bapak empat putri dan lima cucu.

Pengawas SPBU Siman, Abdul Haris Yahya, selama menjadi nahkoda baru mengaku bekerja keras untuk kembali mengangkat market.

"Selama ini pangsa yang kami garap adalah petani, ada 75 persen penjualan BBM dari petani," ujar Yahya.

Setiap pembeli BBM di SPBU Siman akan mendapatkan pelayanan cepat, ramah, dan memuaskan. Berangkat dari kegagalan yang pernah dialaminya, Syamsuri setiap hari selalu memantau langsung unit usahanya.

SPBU Siman saat ini memiliki 12 karyawan, terdiri dua pengawas, sembilan  operator, dan satu cleaning service. Mereka warga desa setempat. Setiap hari penjualan BBM untuk Premium 10 ribu liter, 5.000 liter Premium, dan 2.000 liter Pertamax.

Keberadaan SPBU tersebut, menurut Kades Siman Mujaedi, telah memberikan kontribusi besar bagi desa dan warga setempat. "Pak Syamsuri sangat mudah saat diminta bantuan untuk kegiatan desa maupun kegiatan sosial kemasyarakatan lainnya," terang Mujaedi. (totok martono)

Dibaca : 610x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan iklan
iklan