Kamis, 21 September 2017
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan
iklan

Terentas Dari Belenggu Kekeringan

Editor: samian
Rabu, 26 Agustus 2015
SuaraBanyuurip.com/Sasongko
KEMARAU: Warga desa jatimulyo sudah tidak kesulitan air bersih

SuaraBanyuurip.com

Bojonegoro - Sengatan terik Matahari siang itu serasa membelah kulit. Ketika Reporter SuaraBanyuurip.com, Samian Sasongko menjejakan kaki di wilayah Desa Jatimulyo, Kecamatan Tambakrejo, Bojonegoro, Jawa-Timur. Awan tipis timbul tenggelam menutup terik Sang Bagas Kara. Koyakan terik  tetap memeras keringat hingga membasahi badan, dan baju. Seakan mengiringi setiap jengkal langkah kaki dalam menelusuri Jalan poros desa pavingisasi menuju Rumah Kepala Desa (Kades) Jatimulyo, Teguh Widarto.

Kendati, hujaman terik yang memanggang terasa sirna tatkala melihat pemandangan beda yang ditunjukan warga setempat dibandingkan warga desa tetangga. Terpancar guratan ceria di raut wajah mereka. Dengan tenangnya mengguyurkan air menggunakan selang plastik ke lahan persawahan ditengahnya berdiri sebuah tenda berukuran sekitar 6 x 12 meter tak jauh dari rumah Kades tepihan hutan tersebut.

Parmin, warga Jatimulyo, menuturkan, sejak dulu selalu susah mendapatkan air bersih untuk mencukupi kebutuhan hidup, seperti minum, mencuci, memasak maupun lainnya disaat musim kemarau. Untuk bisa memperoleh air bersih, harus menempuh jarak yang cukup jauh, sekira lima kilo meter. Itu pun masih mengantri berjam-jam, dan bahkan hingga larut malam.

"Sejak saya masih kecil selalu susah mencukupi air bersih setiap musim kemarau. Ya baru akir tahun 2014 lalu kami bisa terentas dari belenggu kesulitan air bersih," ungkap Parmin kepada suarabanyuurip.com.

Pria yang berdomisili di Dusun Kramanan ini, mengaku, mudahnya sekarang mendapatkan air bersih, karena mendapat bantuan dari PEPC untuk mencarikan sumber mata air, sekaligus dibuatkan tandon air, dan sambungan pipa pengalir air kerumah warga.

"Tentunnya, semua ini juga berkat usaha pak Lurah mengusulkan bantuan di pahak Pertamina, Pak," ujarnya.

Tak cukup menggali dari warga saja. Penelusuran berlanjut menuju rumah Kades Jatimulyo. Sesampainya di rumah Kades, sejenak tegur sapa sebelum mengawali perbincangan dibalik keceriaan warga. Sambil menyantap hidangan roti dan minum Es yang disuguhkan. Teguh Widarto, perlahan mulai membuka cerita tentang kondisi warga desa yang di pimpinnya.

Diceritakan, bahwa Desa Jatimulyo terdapat tiga Dusun, yaitu Dusun Kramanan, Kalongan, dan Nglambangan. Dengan dihuni sekira 3.665 jiwa, 1095 Kepala Keluarga (KK), dan mayoritas bekerja sebagai petani tadah hujan, buruh tani, peternak Sapi, Kambing dan lain sebagainya.

Dalam hidup kesederhanaannya, mereka telah bertahun-tahun dihadapkan pada kondisi yang serba kesulitan. Utamanya, disaat musim kemarau panjang selalu dalam kesulitan mendapatkan air bersih untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari seperti minum, mandi, mencuci dan memasak. Karena, sumber mata air yang ada telah mengering.

Pun bisa, mereka harus mengantri di Sumur, dan Sendang. Dengan jarak tempuh sekira lima kilo meter. Sedangkan, bantuan air bersih dari Pemkab Bojonegoro yang diterima tidak mencukupi untuk kebutuhan sehari-harinya.

"Untuk mendapatkan dua jerigen air bersih berisi 30 liter saja harus ngantri sehari semalam di Sendang, Pak," ungkap Teguh Widarto.

Karena disibukan dengan mengantri air, hingga berimbas pada perekonomian mereka. Karena, tidak bisa menggarap sawah maupun ladangnya. Tak cuman itu, indikasi perselingkuhan juga mudah terjadi dalam kehidupan rumah tangganya setiap musim kemarau panjang mendera.

"Karena antri ambil airnya siang hinga malam hari, bahkan sampai pagi. Maka aksi perselingkuhan itu tak bisa terhindarkan," tuturnya mengkisahkan.

Pria yang juga Purnawirawan TNI AL ini sempat termenung sejenak, dan terlihat matanya berkaca-kaca sebelum kembali melanjutkan cerita, sambil menghisap rokok, dan meneguk air putih. Bibirnya bergetar saat kembali memulai bercerita.

Dia mengaku, kesedihan selalu berkecamuk dalam benaknya setiap mendengar dan melihat warganya mengeluh seakan menjerit untuk bisa keluar dari derita panjang yang dirasakan dalam setiap tahunnya. (edisi bersambung)

 

Dibaca : 434x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan