Jum'at, 22 September 2017
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan
iklan

Tikus Mencit yang Menguntungkan

Editor: nugroho
Sabtu, 20 Juni 2015
ahmad sampurno
MENJANJIKAN : David menunjukkan tikus mencit di kandangnya yang saat ini sedang dia budidaya.

SuaraBanyuurip.com - Ahmad Sampurno

Blora - Bagi banyak orang, tikus merupakan binatang yang merugikan dan menjijikan. Hewan yang memiliki panjang 30 centi meter tersebut kerap mencuri makanan. Bahkan menjadi salah satu musuh utama para petani karena kerap merusak tanaman padi.

Namun berbeda dengan tikus mencit. Warnanya putih, ukurannya kecil dibanding tikus-tikus biasa yang sering dijumpai. Panjangnya jika dewasa hanya 7-10 centi meter.

Dilihat dari ukuran dan bentuknya, binatang ini cukup lucu. Banyak orang menjadikannya hewan piaraan. Tapi tak sedikit pula pecinta hewan yang memelihara ular, elang, maupun burung hantu mencari tikus mencit untuk pakan hewan piaraan mereka.

Karena banyak dibutuhkan, budidaya tikus mencit pun menjadi salah satu peluang bisnis. Sekarang ini, banyak warga yang mulai membudidaya tikus mencit. Salah satunya adalah David Reza (25), warga Desa Purworejo, Kecamatan Padangan, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.  

Di ruangan berukuran 3 meter x 10 meter, David tampak sibuk memberi makan ratusan tikus mencit di dalam puluhan kotak plastik bertutup jaring-jaring kawat. Kota-kotak berisi tikus dewasa maupun masih bayi atau biasa disebut  cindil itu ditumpuk rapi.

Ruangan itu cukup pengap. Sesekali aroma khas kotoran tikus mencit menyeruak menusuk hidung. Namun begitu baunya tak seperti tikus selokan atau tikus-tikus yang banyak dijumpai. Karena makanan tikus mencit  berbeda yakni pelet (pur) dicampur nasi.

“Tikus ini untuk makanan ular,” kata David kepada suarabanyuurip.com saat ditemui di tempat budidaya.

Tak ada rasa jijik saat David memberi makan ratusan tikus mencit. Bahkan alumnus salah satu universitas di  Bojonegoro itu kerap bermain-main dengan binatang piarannya.

Setiap satu kotak plastik berukuran lebar 15 centi meter (cm), panjang 30 cm dan tinggi 15 cm ditempati puluhan tikus. Setiap kotak terdapat 4 ekor indukan dan masing-masing indukan memiliki 5 sampai 10 ekor anak.  

Budidya yang dilakoni David ini berawal dari kesukaannya memlihara ular phyton pada 2012 silam. Setiap hari dia harus membeli tikus muncit untuk memberi makanan ularnya. Kondisi ini cukup merepotkan dan mengeluarkan biaya cukup banyak.

“Akhirnya saat itu saya memutuskan untuk memelihara tikus sendiri. Selain untuk pakan ular, bisa dijual,” kenang dia.

Namun usaha itu tak berhasil. Banyak tikus-tikus mencit miliknya yang mati karena tak terurus dengan baik akibat kesibukannya menjadi anak kuliahan. Sehingga David memutuskan untuk berhenti memelihara tikus.

Kemudian, pada Januari 2015, David mulai tertarik kembali untuk memulai usahanya tersebut.  Ketertarikan itu muncul setelah  dirinya mengetahui banyak pecinta ular baik di wilayah Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, maupun Padangan. Selain itu hingga saat ini belum banyak orang yang membudidayakan tikus mencit.

“Kalau pembeli dari luar kota biasanya pesan dulu,” ucap David.

Selama enam bulan terakhir ini, usaha yang dirintis David mulai berkembang. Banyak penghobi binatang buas seperti ular, elang, burung hantu membutuhkan tikus mencit.  David pun kebanjiran pesanan dari dalam hingga luar daerah seperti Surabaya dan Malang, Jawa Timur.

“Untuk sekali kirim saya baru bisa memenuhi 100 sampai 200 ekor .  Biasanya dalam sebulan bisa dua kali kirim,” ujarnya.

Peluang untuk menggeluti  budidaya tikus mencit ini masih terbuka lebar. Karena permintaan pasar masih cukup banyak.(ams)

 

Dibaca : 1371x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan