Selasa, 19 September 2017
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan
iklan

Ukiran Religi Dari Lorong Sempit

Editor: nugroho
Rabu, 30 Mei 2012
Ririn W
Ukiran

SuaraBanyuurip.com - Ririn W

Selain Batik Jonegoro yang khas, kini Bojonegoro memiliki karya kebanggaan lagi. Yakni karya ukir kayu jati khas dengan sentuhan religius.

Adalah Sutrisno perajin ukir kayu asal Campurejo, Bojonegoro yang menemukan nilai seni pahat itu. Kegigihan menggeluti profesi yang dia lakoni telah menghasilkan karya membanggakan.  Sentuhan seni dari tangannya saat ini telah menembus berbagai daerah di tanah air.

Ada yang khas dari karya seni ukirnya. Nuansa religius tanpa melihat hegemoni satu agama demikian akrab mewarnai karya-karyanya. Oleh karena itu pula karya yang lahir dari gang sempit di kawasan Kelurahan Campurejo, Kecamatan Kota, Bojonegoro ini, tak pernah sepi penggemar.

Berbagai macam ukiran yang berasal dari kayu jati ini berhasil membawa bapak dua anak itu ke gerbang kesuksesan. Baik secara ekonomi maupun sosial. Bahkan, mampu pula menghidupi 12 pekerja yang tergabung di bengkel ukirnya. Yang pasti kelihaian tangannya dalam menciptakan karya seni itulah, kini ikut mewarnai ranah tradisi ukir di sentra ukir kayu jati di Bumi Angling Dharmo.

Tris, demikian Sutrisno biasa disapa, mengatakan, dia mengawali usahanya pada tahun 2002. Semula hanya dikerjakan dua orang saja, pada tahun 2004 mulai berkembang setelah mengikuti program CSR berupa pinjaman dana dari KUB (Kelompok Usaha Bersama) dari JOB PPEJ (Joint Operating Body Pertamina Petrocina East Java) sebesar Rp 35.000.000.

“Dana tersebut kini tinggal mengembalikan 30 persennya saja. Alhamdulilah laba yang dihasilkan mencukupi untuk menghidupi keluarga dan membayar gaji karyawan,”ungkap pria yang lahir pada tahun 1972 itu.

Seiring berjalannya waktu, ketekunan dan kesabaran Tris mulai membuahkan hasil pada 2010. Usaha ukir miliknya mulai dikenal banyak orang bahkan sampai ke luar daerah. Tentu saja selain membanggakan juga memberikan pemasukan uang untuk menabung di masa depan sebagai biaya pendidikan putra putrinya.

“Pesanan paling banyak berupa relief baik itu pemandangan, ayat suci Al Qur’an atau Yesus Kristus. Terlebih pada hari besar agama seperti Natal atau Lebaran, bisa mencapai sepuluh ukiran relief,” tambah suami Ny Murningsih ini.

Sukses yang ditapaknya, tak membuat Sutrisno pelit berbagi pengetahuan tentang ukir mengukir papan. Dia berencana membuka kursus ukir agar pemuda di sekitarnya bisa ikut berpartisipasi. Bahkan, dia opsesikan pemuda harus bisa menciptakan peluang membuka pekerjaan sesuai dengan potensi daerah.

Dia berharap ada dukungan dari Pemkab Bojonegoro, dalam bentuk membangunkan sanggar seni ukir, agar bisa dimanfaatkan untuk workshop maupun arena pameran dari produk ukir. Apalagi kondisi bengkelnya berada di gang sempit dan tempatya sangat kecil.

“Selama ini kita masih mengandalkan omongan saja untuk promosi. Kita belum punya wadah atau sarana untuk mengenalkan lebih jauh lagi produk ukiran. Semoga saja bisa merambah ke luar negeri,” harap pria yang juga mempunyai warung kopi ini.

Harga dari karya ukir yang ditawarkan tergantung ukuran dan tingkat kesulitan dalam memproduknya. Jika dirata-rata untuk ukuran terkecil dijual dengan harga Rp 600.000 dan ukuran besar antara  Rp 40.000.000 sampai Rp 50.000.000. (tg)

Dibaca : 2155x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan