Rabu, 22 November 2017
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan
iklan

Usaha Letter Jangkau Pelosok Negeri

Editor: nugroho
Senin, 09 Februari 2015
totok martono
LETTER : Mujaidi, sedang membuat letter yang saat ini merambah ke warung makanan di pelosok negeri.

SuaraBanyuurip.com - Totok Martono

 

Lamongan- Usaha letter yang digeluti warga Lamongan, telah menjangkau pelosok negeri. Usaha ini menjadi peluang tersendiri bagai warga Lamongan yang hidup di perantuan.

Kabupaten Lamongan, dikenal sebagai daerah di Jawa Timur, yang penduduknya banyak bekerja diperantauan dengan membuka warung makanan. Karena itu, tak mengherankan, jika hampir di setiap sudut kota di Indonesia  ditemui makanan khas Lamongan, salah satunya adalah Soto.

Satu di antara ribuan warga itu adalah Mujaidi. Dengan memanfaatkan bakat melukisnya, Ia membuka usaha letter warung makan.  Usaha ini berawal dari iseng  membantu salah satu kerabatnya yang membuka warung makan di Jakarta pada tahun 2004.

Tak disangka, keahlihan Mujaidi melukis dan menulis huruf indah itu menjadi ladang bisnis baginya. Dari karya awal tersebut ternyata memancing minat pengusaha serupa di Jakarta untuk pesan letter padanya.

“ Yang pesan semula teman-teman satu desa yang banyak membuka warung makan di Jakarta,” kata Mujaidi mengawali kisahnya kepada suaraBanyuurip.com, Senin (9/2/2015).

Pesanan pun terus mengalir. Banyak tetangganya yang merantau di kota-kota besar di Indonesia saat pulang kampung pada tertarik dan pesan dibuatkan letter warga Desa Siman, Kecamatan Sekaran, Kabupaten Lamongan itu.

“Tidak ada promosi khusus, hanya dari mulut kemulut. Pesanan datang hampir dari pelosok negeri. Hanya meninggalkan Aceh karena jarang atau tidak ada warga Lamongan yang merantau dan membuka warung makan di sana,” ujar bapak satu anak ini.

Di banding dengan hasil offset maupun sablon, letter buatan Mujaidi banyak diminati karena orsinil hand made (buatan tangan). Setiap tulisan dan gambar dikerjakan secara mendetail yang menjadi ke khasan dari letter produknya.

“Selain khas, hasil letter juga lebih cerah dan awet dibanding sablon atau offset,” kata pemilik galeri Lamtoro itu.

Untuk harga, meski lebih mahal dari sablon maupun offset, produk Mujaidi masih relative terjangkau. Harga jualmya permeter tergantung dari jenis kain, dan tingkat kesulitan pembuatan letter.

“ Harga permeter Rp100 ribu-Rp200 ribu. Jenis kainnya beragam dari Tetron, Osfot, dan Pamatex,” cetus Mujaidi yang mengaku dibantu 2 karyawan selama berproduksi.

Biasanya untuk satu pesanan, konsumen memesan satu set yang terdiri dari 3 leter. Leter tersebut untuk penutup warung atau rumah makan sebelah depan dan sisi kiri kanan warung.

“Yang banyak rata-rata langsung pesan 5 set. Bahkan sering langsung pesan belasan set. Biasanya mereka yang pesan banyak dikoordinir oleh ketua paguyupan warung makan di satu kota,” kata Mujaidi, mengungkapkan.

Bagi pemesan dari luar pulau cukup mengirimkan gambar dan tulisan yang dipesan melalui email atau face booknya dan mengirimkan uang melalui transfer bank. Barang pesanan yang sudah jadi kemudian di kirimkan melalui penitipan barang.

“Kuncinya di sini bisa menjaga kualitas barang dan tepat waktu,” tegas Mujaidi.

Dalam sebulan Mujaidi mengaku mampu meraup keuntungan bersih Rp7 juta-Rp10 juta. Dari hasil usahanya ini Mujaidi memberanikan diri mencalonkan Kepala Desa (Kades) Siman. Nasib baik berpihak padanya. Ia maju sebagai calon tunggal dan mengantongi kemenangan mutlak sehingga mengantarkannya menjadi Kades Siman Periode 2013-2019.

“Usaha letter saya tidak menganggu pekerjaan saya sebagai Kades. Biasanya saya sempatkan membuat letter subuh sampai jam 9.00 WIB pagi. Setelah itu ngantor. Selebihnya dikerjakan anak buah,” ujarnya sambil tersenyum. (tok)

 

Dibaca : 6792x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan iklan
iklan