Usaha Sekitar Kilang Mini Gulung Tikar

Sabtu, 25 Juni 2016, Dibaca : 920 x Editor : samian

SuaraBanyuurip.com
SEPI : Seorang pekerja sedang melintas depan Kilang Mini milik PT TWU di Desa Sumengko, Kalitidu, Bojonegoro.


SuaraBanyuurip.com -

Sudah hampir setengah tahun kilang mini TWU berhenti beroperasi. Para pemilik usaha sekitar mulai menutup usahanya karena tidak dapat pemasukan.

RUMIATI terlihat duduk santai di kursi warungnya yang berada di sebelah utara kilang mini di Dusun Clangap, Desa Sumengko, Kecamatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, Sabtu (25/6/2016). Tak ada aktifitas yang banyak dilakukan ibu dua anak itu. Terlebih setelah Tri Wahana Universal (TWU) menghentikan operasi kilang mini karena tidak lagi mendapat pasokan minyak mentah dari Lapangan Banyuurip, Blok Cepu, sejak Januari 2016 lalu.

Baca Lainnya :

    Mbak Rum-biasa disapa- selama ini menggantungkan hidupnya dari aktifitas kilang mini. Itu dilakukan perempuan 49 tahun tersebut jauh sebelum fasilitas produksi bahan bakar minyak (BBM) industri berdiri. Tepatnya saat perusahaan asal Jakarta memulai konstruksi pembangunan kilang mini pada medio 2008 -2009.

    Kala itu banyak tenaga kerja yang terlibat. Hampir tiap hari warung makanan dan minumannya tidak pernah sepi dari pembeli. Sebab sebagian besar mereka jajan di warung Mbak Rum.

    Baca Lainnya :

      “Apalagi waktu itu belum banyak warung seperti sekarang ini,” kenang Mbak Rum saat membuka perbincangan dengan suarabanyuurip.com.

      Penghasilan Mbak Rum pun kala itu cukup lumayan. Dalam sehari Ia bisa memperoleh pendapatan Rp600 sampai Rp1juta.

      Kondisi itu masih terus dirasakan Mbak Rum hinggga kilang mini mulai beroperasi. Karena banyak jasa truk tanki pengangkut hasil olahan minyak yang beroperasi. Ada ratusan truk tanki dari perusahaan sekitar kilang mini yang dilibatkan TWU dalam jasa pengangkutan.

      Dari setiap truk tanki yang dilibatkan sedikitnya menyerap tenaga kerja dua orang yakni supir dan kenek. “Ya cukup lumayan. Saat masih banyak sopir truk tangki sehari masih bisa mendapat Rp400 an,” ucap Mbak Rum.

      Namun harapan Mbak Rum untuk melanjutkan usahanya mulai redup. Sudah hampir enam bulan kilang mini berhenti beroperasi. Tidak ada lagi truk tanki lalu lalang ke kilang mini. Semua truk terpakir rapi di depan warungnya. Ratusan sopir dan kenek telah berhenti bekerja.

      “Sementara ini jarang buka. Kalau buka ya sepi, apalagi yang saya jual kan makanan, kalau nggak laku pasti rugi,” tuturnya.

      Bukan hanya Mbak Rum, pengusaha jasa pengangkutan (transporter) yang selama ini terlibat di kilang mini juga merasakan nasib yang sama. Bahkan kerugian yang diderita para pengusaha ini lebih besar ketimbang Mbak Rum.

      Sebab tidak semua kendaraan yang digunakan pengusaha lokal tersebut telah lunas. Melainkan masih banyak yang kredit, baik dengan cara melalui lembaga pembiyaan maupun perbankan. Sehingga setiap bulannya mereka harus membayar angsuran meskipun tidak ada pemasukan pendapatan.

      “Untuk membayar bunga pinjaman, biaya operasi, dan gaji karyawan, saya harus mengeluarkan sekitar Rp 1 miliar per bulan. Ini sama saja mematikan perusahaan lokal,” sambung Direktur Utama Bahana Multi Teknik (BMT), salah satu mitra TWU, Budi Utomo.   

      “Kami minta pemerintah segera memberi keputusan, agar kami bisa segera bekerja lagi dan membayar hutang-hutang perusahaan yang sudah menumpuk,” lanjut Budi.

      Keluh kesah yang disampaikan para pengusaha lokal merupakan hal yang wajar karena selama ini mereka bertumpu pada aktifitas kilang mini. Karena selain dua jasa itu, masih ada beberapa jasa yang terimbas akibat berhenti operasinya kilang mini. Seperti jasa cuci mobil, cuci baju yang sepi pelanggan pasca kilang mini TWU berhenti beroperasi.

      "Dampak ekonomi ke pengusaha kecil sekitar 75%. Anda bisa lihat sendiri sekarang, bukan pengusaha besar, banyak pengusaha kecil sekitar kilang mini yang sudah gulung tikar," ujar Camat Kalitidu, Nanik Lusetiyani.

      Meski jerit pengusaha sekitar kilang mini begitu menggema, namun pemerintah belum juga memberi keputusan terhadap pasokan maupun harga minyak mentah dari mulut sumur. Pemerintah baru sebatas menyiapkan tiga skenario penyelesaian alokasi minyak Lapangan Banyuurip untuk kilang mini TWU.

      Skenario pertama adalah jatah minyak Pertamina yang dipasok ke Kilang TWU itu diberikan dengan skema processing fee atau upah mengolah minyak. Jadi, TWU akan mendapatkan upah dari Pertamina.  

      Kedua, menaikkan produksi Blok Cepu hingga 205 ribu barel per hari (bph). Peningkatan produksi ini diperlukan agar jatah untuk Pertamina tidak berkurang, karena harus diberikan ke kilang TWU. Namun SKK Migas telah membuat keputusan tidak akan menaikkan produksi Banyuurip dari 185 ribu barel per hari (bph) menjadi 205 bph dengan alasan agar waktu puncak produksi lebih lama. Padahal cara itu tidak berpengaruh terhadap masa produksi puncak.

      Sedangkan kalau produksi Blok Cepu tidak ditingkatkan maka akan terjadi kekurangan pasokan untuk Pertamina. Untuk itu, ada skenario ketiga, yaitu adanya tambahan impor untuk Pertamina. Opsi terakhir ini berisiko karena pembiayaan menjadi lebih mahal. 

      “Tiga rekomendasi ini akan diajukan untuk diputuskan oleh Menteri ESDM. Jika memang TWU harus membeli minyak Blok Cepu maka harga jual minyak ke kilang TWU sampai saat ini belum diputuskan. Tapi ketika menentukan harga pemerintah akan tetap mengacu kepada harga Indonesian Crude Price (ICP) terbaru,” kata Direktur Pembinaan Hulu Kementerian ESDM, Djoko Siswanto menjelaskan hasil rapat Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) pada Jumat (17/6) lalu, seperti yang dilansir katadata.co.id.

      Sesuai data yang diperoleh suarabanyuurip.com, kontrak pembelian minyak TWU di Lapangan Banyuurip selama 10 tahun mulai 2009 sampai 2019 dan terdapat SK Menteri ESDM. Untuk lima tahun pertama dilakukan TWU dengan ExxonMobil, dan lima tahun ke dua dengan Pertamina Eksplorasi dan Produksi Cepu (PEPC). Nah, saat menginjak kontrak lima tahun kedua inilah pemerintah menghentikan pasokan minyak kepada TWU.(dwi suko nugroho)


      Tidak ada komentar
      Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.

Show more