Senin, 19 Agustus 2019
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan

Waduk Dayaan Kering, Produksi Pertanian Turun 80 Persen

Editor: nugroho
Senin, 09 Juli 2012
sam
Kering-kerontang : Akibat mengeringnya Waduk Dayaan produksi pertanian di tiga desa di dua kecamatan turun hingga 80 persen.

SuaraBanyuurip.comSamian Sasongko

Bojonegoro-Sejak tiga bulan terakir ini Waduk Dayaan di Desa Wotanngare, Kecamatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro, Jatim, kering. Akibatnya hasil pertanian diwilayah itu menyusut 80 persen dari biasanya. Bahkan, warga juga mulai kesulitan memperoleh air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.

Pantauan www.suarabanyuurip.com menyebutkan, Waduk Dayaan merupakan satu-satunya waduk di wilayah itu yang dimanfaatkan petani sebagai tandon air ketika musim kemarau datang. Namun dengan menyusutnya air di waduk yang tak jauh dari lokasi pemboran migas Blok Cepu itu sejak Maret - Juli 2012 berdampak bagi pertanian. Hasil pertanian di musim tanam kedua ini berkurang drastis.

Pangi, warga RT/RW 14/04, Dusun/Desa Wotanngare, mengatakan, sekarang ini banyak petani mengeluhkan sulitnya mencari air untuk mencukupi kebutuhan lahan pertaniaannya. Karena, kondisi Waduk Dayaan sudah kering mulai bulan April 2012.

“Biasanya, Waduk Dayaan kalau bulan April-Juli seperti ini masih banyak airnya dan bulan Agustus baru habis, Mas. Tapi saat ini airnya sudah habis total. Sehingga, membuat petani kelabakan,” kata Pangi, Senin (09/7/2012).

Dia mengungkapkan, tampungan air di Waduk Dayaan itu bukan hanya menjadi tumpuan petani di Desa Wotanngare. Namun dua desa lain di Kecamatan Ngasem yakni Desa Wadang dan Jampet. Totalnya ada sekitar sekitar 600 hektar lahan pertanian yang mengandalkan air dari Waduk Dayaan.

“Kami harapkan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro segera mencarikan solusi agar kedepan petani Desa Wotanngare tidak lagi kesulitan air. Itu bias dilakukan dengan membangun Waduk Dayaan secara permanent,” harap Pangi.

Ditemui terpisah Mufit, Pj Kepala Desa (Kades) Wotanngare membenarkan, penurunan hasil pertanian didesanya lantaran habisnya air Waduk Dayaan. Lain itu juga adanya serangan hama tikus yang menyerang tanaman padi milik petani tersebut. Akibatnya pada panen walikan (musim tanam kedua) tahun ini produksi pertanian hanya sebanyak 1-2 ton per hektarnya.  

“Biasanya bias mencapai 4-7 ton. Tapi sekarang mendapatkan hasil panenan 1-2 ton dalam satu hektarnya sudah ngoyo. Penurunnya ada hampir 80 persen,” terang pria berperawakan dempal tersebut. (suko) 

 

Dibaca : 1684x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan