Rabu, 22 November 2017
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan
iklan

Waduk di Bojonegoro Kering Kerontang

Editor: nugroho
Jum'at, 19 September 2014
SuaraBanyuurip.com
KERING KERONTANG : Waduk Blibis di Dusun Glagah, Desa Purwosari, selama ini menjadi tumpuan petani mengairi lahan persawahan.

SuaraBanyuurip.com - Ririn Wedia

Bojonegoro  – Impian Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro, Jawa Timur, menjadikan wilayahnya sebagai lumbung pangan negeri, tampaknya, sulit terealisasi. Pasalnya, kabupaten yang menjadi pusat perhatian dunia karena keberadaan industrialisasi migas Blok Cepu itu tak mampu mengatasi masalah kekeringan di wilayahnya.

Sejumlah waduk untuk pengairan di wilayah Bojonegoro mengering selama musim kemarau tahun ini. Akibatnya lahan pertanian di sekitar waduk dibiarkan bero (tidak tergarap) karena tidak mendapatkan pasokan air. Dampaknya, produksi pertanian di wilayah setempat dipastikan menurun drastis.

Salah satu waduk yang mengering yakni Waduk Sonorejo di Desa Sonorejo, Kecamatan Padangan, Kabupaten Bojonegoro. Waduk seluas delapan hektare itu kini kering kerontang dan tidak menyisakan air sedikitpun. Padahal selama ini para petani mengandalkan persediaan air dari waduk itu untuk bercocok tanam.

Waduk Sonorejo yang memiliki kedalaman 10 meter terus mengalami pendangkalan. Saat ini kedalaman waduk itu tinggal tujuh meter sehingga tak mampu menampung persediaan air dalam jumlah banyak saat musim penghujan.

Kepala Desa Sonorejo, Kokok Bagiyo, mengatakan, debit air Waduk Sonorejo mulai menyusut sejak awal Mei lalu. Setelah beberapa bulan cadangan air yang tersimpan di waduk itu kian menyusut hingga akhirnya habis.

“Saat ini air di waduk itu sudah tidak ada sama sekali. Sudah kosong,” ujarnya.

Kokok berharap, Waduk Sonorejo dapat difungsikan lagi untuk menampung air pada saat musim hujan dan bisa dimanfaatkan saat musim kemarau. Salah satu caranya yakni dengan mengeduk dasar waduk yang kini mengalami pendangkalan.

“Kami sudah meminta pemerintah daerah agar mengeduknya,  tetapi sampai sekarang belum juga dilakukan,” ujar dia, mengungkapkan.

Waduk Sonorejo selama ini mampu mengairi areal persawahan seluas 170 hektare di kawasan Kecamatan Padangan. Saat awal musim kemarau lalu para petani menanam berbagai tanaman palawija seperti jagung, kacang hijau, kedelai, terong dan lainnya. Saat musim hujan para petani menanam padi.

Kondisi yang sama juga terjadi pada Waduk Blibis, di Dusun Glagah, Desa Purwosari, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Bojonegoro. Waduk seluas delapan hektare di dekat kawasan hutan itu kini juga kering kerontang. Tidak ada air sedikit pun yang tersisa di waduk tersebut.

Waduk Blibis dibangun pada tahun 1955. Namun, kondisi Waduk Blibis terus mengalami pendangkalan. Sebelumnya kedalaman Waduk Blibis mencapai 12 meter akan tetapi kini tinggal delapan meter.

Waduk Blibis selama ini mampu mengairi areal persawahan seluas 100 hektare di kawasan Kecamatan Purwosari dan sekitarnya. Namun, selama musim kemarau ini areal persawahan di sekitar Waduk Blibis terlihat di biarkan bero atau tidak tergarap.

Menurut Sukur, petani setempat, selama musim hujan lalu Waduk Blibis mampu menampung air dan mampu mengairi areal persawahan. Namun, kata dia, saat musim kemarau ini kondisi Waduk Blibis kering kerontang.

“Kami tidak bisa berbuat apa-apa. Sebab, tidak ada air di Waduk Blibis itu untuk mengairi persawahan,” sambung Sukur dikonfirmasi terpisah.

Sementara itu, Kepala Dinas Pengairan Bojonegoro, Edi Susanto, belum memberikan tanggapannya mengenai hal ini.(rien)

Dibaca : 699x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan iklan
iklan