Wahyu Harapkan Madu Bunga Liar Menjadi Khas Bojonegoro

Senin, 04 November 2019, Dibaca : 316 x Editor : samian

Ririn Wedia
KREATIF : Peternak Lebah Wahyu Setiawan (kaos putih) bersama rekannya sedang memindahkan lebah ke kotak yang telah disediakan.


SuaraBanyuurip.com - Ririn Wedia

Bojonegoro - Terik matahari di Bulan Oktober siang itu serasa merobek kulit, menunjukkan seringainya di puncak musim kemarau tahun ini. Belum ada setetespun air hujan yang memandikan bumi di bulan yang kini telah berlalu, tak terkecuali tanah setapak menuju peternakan lebah milik Wahyu Setiawan (45) di Desa Sidobandung, Kecamatan Balen, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.

Wahyu begitu karib disapa membuka ceritanya dalam beternak lebah. Di musim kemarau tak mudah bagi peternak Lebah karena para peternak lebah harus memutar otak untuk mencari bahan makanan atau sari bunga bagi lebah-lebahnya. Itu jika ingin produktifitas lebah maksimal untuk menghasilkan madu.

Baca Lainnya :

    Tak jarang, Wahyu harus berpindah-pindah tempat untuk mencari lahan yang tepat. Seperti dipilihnya sekarang ini. Selain banyak tanaman liar yang tumbuh di sepanjang jalan, juga tumbuh di sekeliling sawah milik warga.

    "Tanaman-tanaman liar itu memiliki kuncup-kuncup bunga yang banyak. Karena disini lokasinya saya anggap tepat, ya untuk sementara saya letakkan kotak-kotak lebah disini," kata warga sekitar Lapangan Migas Jambaran-Tiung Biru (JTB), Sabtu (26/10/2019) lalu.

    Baca Lainnya :

      Tanaman liar yang tumbuh di sekitar sarang lebah milik Wahyu terbilang cukup banyak. Diantaranya, Putri Malu, Alang-alang, Babadotan, Ciplukan dan masih banyak lagi.

      Ribuan lebah nampak berkeliaran di sekitar sarangnya. Ada 130 kotak yang digunakan untuk sarang lebah berjenis Apis Mellifera. Jenis ini, diyakini tidak akan menyengat manusia sehingga dijamin aman meski tidak menggunakan pelindung.

      "Aman, sangat aman. Karena lebah jenis ini tidak menyengat," imbuh pria yang aktif sebagai Politisi ini.

      Untuk menarik peminat, Wahyu mengajak masyarakat untuk langsung memanen madunya. Selain mengetahui cara memanen, juga menunjukkan keaslian madu miliknya. Sehingga, tidak perlu diragukan lagi khasiat yang terkandung dalam madu hasil ternak sendiri.

      "Dari 130 kotak ini, bisa menghasilkan 300 sampai 400 liter madu," tandasnya. 

      Tidak jarang, lebah-lebah itu mengalami stres layaknya manusia. Namun, pria kelahiran 1970 ini mengaku bisa menanganinya. Lebah madu Apis Mellifera yang dikenal dengan lebah Eropa atau di Indonesia dikenal dengan lebah unggul. Lebah ini tergolong jinak, maksudnya tidak mudah menyerang atau menyengat, dan mudah pemeliharaannya. Yang paling penting adalah mengerti secara langsung perilaku lebah didalam koloninya, sehingga tingkat stres untuk lebah bisa diminimalisir.

      Panen madu dari jenis apis mellifera, bisa dilakukan setiap 20 - 30 hari. Tergantung jumlah madu yang dihasilkan, jika keberadaan pakan berupa bunga tanaman sudah sulit ditemui maka lebah ini bisa dipindahkan sesuai dengan kondisi lapangan.

      Sementara untuk penjualan bisa langsung pada saat panen, rumah herbal ataupun dibeli oleh beberapa pabrikan sebagai bahan jamu ataupun kosmetik, sehingga masalah penjualan masih sangat terbuka lebar peluangnya.

      "Untuk penjualan dengan kemasan 100 ml,  dijual harga Rp40 ribu dan kemasan 450 ml dijual dengan harga Rp175 Ribu," lanjutnya.

      Pria ramah ini berharap, dengan beternak lebah ini, kedepan madu yang dihasilkan bisa menjadi ikon atau oleh oleh khas Bojonegoro dengan trend merk madu bunga rumput liar Bojonegoro.

      "Jadi apabila ada orang atau wisatawan datang ke Bojonegoro, belum lengkap rasanya bila tidak membawa pulang oleh oleh madu khas Bojonegoro," pungkasnya.(rien)


      Tidak ada komentar
      Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.

Show more