Senin, 25 September 2017
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan
iklan

Wahyuningsih, Tujuh Tahun Bersahabat Dengan Kanker

Editor: samian
Jum'at, 11 Desember 2015
SuaraBanyuurip.com/Sampurno
BUTUH PERHATIAN : Meski telah menahun menderita penyakit kanker, Wahyuningsih tetap semangat untuk bekerja pantang menyerah.

SuaraBanyuurip.com

Selama tujuh tahun, sosok periang dan supel ini didalam tubuhnya bersarang penyakit ganas dan mematikan. Bertahun-tahun dirinya bersahabat dengan penyakit kanker yang termasuk dalam deretan teratas mematikan. Hal itu dilakukan bukan tanpa alasan. Menurutnya, banyak orang cepat meninggal akibat penyakit tersebut lantaran tidak bersahabat dengan penyakit yang dideritanya.

Blora - Sekilas tidak ada yang berbeda dengan gadis bermata sipit ini. Wajahnya selalu menampakkan keriangan dan keakraban kepada semua orang. Lincah seperti bola bekel, begitu teman-temannya mengibaratkan gadis yang mempunyai nama lengkap Titik Sri Wahyuningsih ini. Gigih dan pantang menyerah dengan keadaan.

Namun, dari keceriaan yang dia tampakkan ternyata menyimpan dan menahan rasa sakit luar biasa. Penyakit yang terkenal ganas dan termasuk berada dideretan teratas golongan penyakit mematikan telah bersarang dalam tubuhnya. Kanker payudara, itulah penyakit yang sampai saat ini dia derita dan belum ada kesembuhan.

Hanya kesabaran dan sikap pantang menyerah yang dia punya untuk melawan penyakit tersebut. Lebih dari tujuh tahun lalu, dirinya divonis menderita penyakit kanker payudara. Awalnya dia syok dengan vonis tersebut. Kepanikan dan kekhawatiran terus menyelimuti perasaannya. Selama bertahun-tahun upaya dia lakukan demi kesembuhan. Termasuk upaya-upaya medis.

Namun, sejumlah rekomendasi dokter tidak bisa dia jalani lantaran keterbatasan biaya. Termasuk saran untuk melakukan operasi dan kemotheraphy. Sehingga, selama bertahun-tahun itu dirinya hanya melakukan pengobatan alternatif dan pengobatan herbal.

“Karena itulah yang hanya bisa saya lakukan untuk kesembuhan,” kata gadis asli warga ring 1 Blok Gundih di Desa Sumber, Kecamatan Kradenan ini.

Upaya medis dengan mengandalkan Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda), kata dia, ternyata tidak bisa mengcaver pengobatan yang mestinya dia jalani. Bermodal semangatnya yang tinggi, beberapa pekerjaan telah dia lakoni meskipun fisik tidak bisa diajak bekerjasama demi mendapatkan biaya untuk pengobatan.

Tak jarang, rasa lelah dan rasa sakit luar biasa dia rasakan. Untuk pengobatannya, saudara-saudaranya serta teman dekatnya juga ikut membantu. Beberapa tahun belakangan ini, dirinya mulai menyadari bahwa perlawanan terhadap penyakit yang bersarang didalam tubuhnya tidak maksimal. Sehingga, gadis kelahiran 1987 ini memutuskan untuk bersahabat dengannya.

“Bersahabat dengan penyakit menjadi pilihan terbaik. Dan saya menunggu penyakit ini lepas dengan sendirinya. Itu harapan terbesar saya,” ujarnya.

Terbesit dalam benaknya untuk bersahabat dengan penyakit tersebut muncul setelah dirinya mendapat nasihat dari beberapa seminar yang dia ikuti.

“Karena kebanyakan orang meninggal akibat penyakit tersebut, lantaran tidak bersahabat dengan penyakit kanker,” kata dia.

Saat ditemui di rumahnya, Titik sapaan akrab Sri Wahyuningsih, sedang terkulai lemah diatas tempat tidur sederhana. Kadar Hemoglobin (HB) dalam darahnya yang merosot, membuat dirinya lemah.

“Untuk berjalan beberpa meter saja saya harus dibantu bapak saya. Untuk bicara lama rasanya terengah-engah,” ujar gadis bermata sipit ini.

Selain rutin dengan pengobatan sederhana, dirinya selalu mendekatkan diri kepada Tuhan.

“Dalam do’a, saya memohon untuk diberi kekuatan. Berserah diri pada Tuhan, penyakit dari-Nya dan kesembuhan juga dari-Nya,” ungkapnya pasrah.

Di menjelaskan, bahwa saat ini kanker tersebut telah pecah dan sudah berada di luar tubuh. Namun, akarnya masih berada dalam tubuhnya.

“Sekarang mungkin sudah sebesar bola pingpong dan sebagian lain sudah membusuk,” jelasnya.

Hanya dengan alat penyangga sederhana yang dia ikatkan ditubuhnya untuk menahan rasa sakit dari penyakit yang telah menghinggapi tubuhnya sejak tahun 2013 lalu. Saat itu, Titik juga mengenakan sebuah alat teraphy dari seseorang yang menurutnya diberi secara cuma-cuma.

Dia melanjutkan, sesekali juga membersihkan penyakit yang kini telah menjadi sahabatnya bertahun-tahun dan dia ajak berkomunikasi layaknya seorang bayi.

“Setiap saat saya bersihkan dan  saya ajak bicara. Kalau saya cuekin, rasa sakit luar bisa seakan dia ingin diperhatikan,” kata dia.

Untuk pengobatan, lanjut dia, hanya mengkonsumsi kunir putih, daun sirsak, kulit menggis yang dipercaya sebagai anti kanker serta beberapa ramuan lain untuk meningkatkan kadar HB.

“Dengan rutin saya minum, dan alhamdulillah tidak menjalar pada organ dalam lain,” jelasnya.

Saat ini, dia hanya bisa menghabiskan waktu untuk beristirahat total di rumah seiring dengan perkembangan penyakitnya. Fisiknya tak lagi kuat seperti biasanya.

“Semoga ada tindakan pemerintah ataupun dermawan yang mau memperhatikan kami untuk bisa operasi. Jikapun tidak ada, saya pasrah penyakit ini bisa lepas dengan sendirinya,” pungkas gadis yang lulusan teknikn elektro ini. (Ahmad Sampurno)

Dibaca : 1248x
FB
Ada 1 komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Jum'at, 11 Desember 2015 12:37
Ya Allah kasihanilah dia berikan kesembuhan ya Allah. Semoga pihak pemerintah tidak tuli dan membutakan mata untuk membantu penderita penyakit kanker payudara ini dan dibantu operasinya. Pun demikian bagi perusahaan migas disekitarnya mau memberikan dana untuk operasinya pula.
rindu
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan