Selasa, 21 Mei 2019
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan

Warga Sambong Dilatih Kembangkan Budidaya Ayam Jawa Super

Editor: samian
Selasa, 19 Maret 2019
Ahmad Sampurno
TINGKATKAN EKONOMI : Wabup Blora, Arief Rohman, saat meninjau lokas budidaya ayam Jawa Super disalah satu rumah warga Desa Gadu.

SuaraBanyuurip.com - Ahmad Sampurno

Blora – Warga dari tiga desa di Kecamatan Sambong, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, dilatih mengembangkan budidaya ternak ayam Jawa Super. Tiga desa tersebut adalah Desa Gadu, Desa Sambong, dan Desa Temengeng. Dengan peserta masing-masing desa 10 orang.

Pelatihan yang dipusatkan di Balai Desa Gadu tersebut merupakan kerja sama Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Republik Indonesia (Kemendes PDTT RI) dengan Balai Besar Latihan Masyarakat (BBLM) Yogyakarta.

Selama lima hari kedepan, mereka akan dilatih budidaya. Setelah selesai akan diberikan setimulan berupa bibit, pakan dan vaksin.

Wakil Bupati (Wabup) Blora, Arif Rahman, menyampaikan, pelatihan itu sebagai bentuk upaya penanggulangan kemiskinan masyarakat Blora, khususnya di tiga desa tersebut. Selain itu, sebagai upaya pendukung produk unggulan kawasan perdesaan (Prukades) di Kabupaten Blora. Mengingat, Blora berpotensi untuk dikembangkan peternakan ayam.

“Semoga harapan Kabupaten Blora terwujud dalam pengembangan ayam jawa super ini,” ungkap Wabup, Arif Rahman.

Dia menambahkan, bahwa pelatihan budidaya ayam jawa super itu telah dilaksanakan dua kali berturut-turut. Yakni di Tahun 2017 dan Tahun 2018 di Pondok Pesantren (Ponpes) An-Nur Desa Sendangwungu, Kecamatan Banjarejo.

“Untuk pelaksanaan di Desa Gadu ini yang ketiga kalinya,” kata dia.

Sementara Kepala Bidang Penyelanggaraan BBLM Yogyakarta, Herry Salugu, menyampaikan, dalam pemberian pelatihan selalu bersinergi dengan pemerintah. Setelah pelatihan selesai, akan diserahkan kepada pemerintah untuk dilakukan pembinaan. Karena pihaknya hanya bertugas memberikan pelatihan.

“Kami tetap bersinergi dengan pemerintah untuk menempatkan pelatihan di wilayah prioritas,” jelasnya.

Dia mengaku, masih kesulitan untuk mengetahui secara riil tingkat keberhasilan di tingkat masyarakat. Hal itu lantaran adanya batasan program pada tingkat pelatihan.

"Kalau sampai pengembangan dan pemasaran, itu ada program lain,” tandasnya.(ams)

Dibaca : 386x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan