Jum'at, 22 September 2017
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan
iklan

Pasca Kisruh di Proyek EPC-1 Banyuurip

Warga Sekitar Mengaku Trauma

Editor: nugroho
Selasa, 04 Agustus 2015
dok/sbu
DIBAKAR : Salah satu mobil proyek di lokasi EPC-1 Banyuurip dibakar tenaga kerja yang mengamuk.

SuaraBanyuurip.com - Samian Sasongko

Bojonegoro – Kerusuhan massa pekerja proyek di area engineering procuremen and construktion (EPC) -1 Banyuurip, Blok Cepu, tak sekadar mengakibatkan sejumlah kondisi bangunan maupun kendaraan rusak. Tetapi amuk ribuan pekerja yang terjadi pada siang bolong itu memunculkan trauma bagi warga desa sekitar proyek di Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.

Rasmi, salah satu warga Desa Mojodelik, mengaku, ketakutan saat insiden mengamuknya ribuan naker di dalam proyek. Dia, mengaku, saat peristiwa berlangsung sedang berada di sawahnya dan mendengar suara bergemuruh dan kobaran api.

"Mendengar itu saya terus lari hingga jatuh bangun untuk menyelamatkan diri. Saya kira proyek akan meledak,” kata Rasi kepada suarabanyuurip.com, Selasa (4/8/2015).

“Mudah-mudahan kejadian itu tidak terulang lagi. Kalaupun mau demo ya jangan dilokasi lah. Silahkan di kantor penggede EMCL atau Tripatra sana. Biar warga tidak ketakutan seperti kemarin itu," lanjutnya.

Warga Desa Brabowan, Parmo, membenarkan, jika aksi anarkis ribuan tenaga kerja (naker) di dalam proyek EPC-1, Sabtu (1/8/2015) kemarin, membuat masyarakat sekitar panik. Karena mereka mendengar suara gemuruh di sertai kobaran api dan ditambah dengan ledakan benda dari lokasi proyek.

"Sebagian warga yang dekat lokasi sempat ketakutan, dan semburat berlarian menyelamatkan diri. Sebab, dikira lokasi proyek meledak," kata Parmo dikonfirmasi terpisah.

Dia menjelaskan, akibat peristiwa itu warga mengalami trauma dantakut kejadian tersebut akan terulang kembali. Oleh karena itu, Parmo menyarankan, agar EMCL maupun PT Tripatra – Samsung, pelaksana proyek EPC-1 Banyuurip, untuk segera mengevaluasi standar operasional prosedur SOP yang sebenarnya.

"Saya berharap wakil rakyat yang duduk dikursi DPRD Bojonegoro jangan berkoar terlalu melebar kemana-mana agar tidak membikin munculnya masalah baru yang semakin membuat suasana menjadi bertambah panas," pesannya.

Parmo menilai, selama ini pihak DPRD Bojonegoro yang mengesahkan peraturan daerah (Perda) 23/2011 tentang Konten Lokal juga masih kurang maksimal dan konsisten dalam mengawal regulasi tersebut. Sehingga, membuat warga lokal terkesan tidak berkutik oleh warga luar daerah dalam keterlibatannya di proyek Migas yang ada di kampungnya sendiri.

"Padahal, rakyat sudah berupaya mati-matian berjuang mempertahankan Perda konten lokal tersebut. Tapi, selama ini tak ada wakil rakyat yang turun langsung di lapangan untuk membantunya. Jadi, jika tidak ingin menjadi senjata makan tuan menyikapinya secara dewasa saja lah. Intinya, bagaimana mencari sebuah solusi yang terbaik buat semuanya," tegas pria yang juga mantan anggota DPRD Bojonegoro ini. (sam)

Dibaca : 683x
FB
Tidak ada komentar | Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.
Nama :
Email :

Diperkenankan: <strong>,<em>,<u>
iklan