Minggu, 19 November 2017
Selamat Datang | Register | Login
Follow us on : tw fb yt rss   
iklan
iklan

Surat Pembaca

Manfaat Perminyakan Sekitar Blok Cepu
Apa Yang Diperoleh Masyarakat Sekitar Tambang Bojonegoro?
Adalah sebuah pertanyaan yang diajukan oleh Wakil dari SKPD Kabupaten Bintuni, Papua pada acara Study Banding Perencanaan dan Penganggaran PEMDA Bintuni, Rabu (9/7) di Bojonegoro, Jawa Timur. Hal ini sangat menggugah hati kami khususnya para warga masyarakat sekitar tambang minyak Blok Cepu. Karena sebagai warga masyarakat yang tinggal sekitar 1 kilo meter dari sumur minyak Banyuurip Pad A, kami belum merasakan manfaat yang layak. Mega proyek yang dilakukan MCL ini semakin hari menghilangkan rasa nyaman hidup bermasyarakat seperti waktu sebelum adanya tambang. Namun biarlah, sebab waktu tak mungkin berjalan mundur.

Sebagai warga Bojonegoro, kami hanya merasakan adanya tambahan Alokasi Dana Desa sebesar 10 persen dari DBH Migas karena desa kami terletak pada ring 1. Oleh Desa, dana ini digunakan untuk pemadatan jalan dan papingisasi. Tentu saja tidak menyentuh perekonomian kami secara langsung.

Dari segi mata pencaharian, jelas kami semakin terhimpit. Semula kami hidup sebagai petani. Namun lahan pertanian kami sekarang telah dibebaskan untuk proyek ini. Saat itu, kami tak lagi dapat membeli tanah karena lahan kami hanya dibeli 30 ribu per meter. Uang hasil penjualan tanah tersebut segera habis untuk perbaikan rumah dan beli motor saja. Sungguh kerugian besar karena kami kehilangan mata pencaharian dan tak lagi dapat merasakan nikmatnya padi dari hasil cocok tanam sendiri.

Dari segi tenaga kerja, masih banyak warga yang tidak tertampung pada proyek ini. . Bahkan BUMD Bojonegoro telah merekrut 350-an warga untuk di jadikan tenaga security pada proyek ini. Namun, sampai saat ini tenaga tersebut masih mangkrak, tak dipakai oleh MCL. Sehingga mereka seringkali menggelar demonstrasi agar MCL memanfaatkan konten lokal.

Dari segi pendidikan, MCL telah memberi beberapa bantuan perbaikan gedung sekolah. Ya... memang, itu sepertinya lebih dari cukup karena pendidikan menjadi tanggung jawab negara. Tidak seperti di Bintuni, British Petrolium menyekolahkan 15 putra setempat ke PUSDIKLAT Migas Cepu setiap tahun. Sehingga putra daerah bisa bekerja di perusahaan minyak tersebut.

Sedangkan yang terjadi di Bojonegoro, sangat ironi. MCL mempersulit masyarakat lokal untuk bekerja di pertambangan. Alasannya, Perusahaan hanya menampung tenaga kerja dengan skill yang sesuai bidang pekerjaan. Mereka tidak menyekolahkan warga lokal agar bisa ditampung pada proyek minyak ini.
Erik S di Bojonegoro | Minggu, 21 Juli 2013 10:29
Dibaca 3091 kali
Berikan tanggapan atas surat di atas!
iklan