Life Style, Dongkrak Penjualan Jilbab

Suarabanyuuriop – Ahmad Sampurno

BLORA – jilbab sekarang sudah menjadi  life style sebagaian kalangan kaum perempuan. Sehingga memicu meningkatnya para pengusaha bersaing menawarkan barang branded dengan varian baru. Tidak jarang dari para pengusaha mendatagkan barang dari luar negeri.

Setyowati,  karyawan Pondok Jilbab Cepu, mengakui jika pakaian muslimah tersebut saat ini telah menjadi life style bagi sebagian kalangan. Dia menjelaskan, masyarakat Cepu lebih gandrung dengan jilbabbranded tertentu. Sehingga, jika setiap branded meluncurkan motif atau model baru, pasti banyak yang mencari.

“Ada yang fanatik branded tertentu. Ada juga yang melihat modelnya saja, kalau modelnya bagus ya di beli,” tutur dia.

Banyaknya kompetitor di kota Cepu, menurut dia, tidak mengurangi jumlah keuntungan. Hal ini, karena setiap konsumen cenderung memiliki toko langganan sendiri. Yang mana setiap toko meawarkan branded yang berbeda.

“Banyak pesaing, tapi kayaknya gak pengaruh,” katanya.

Sementara itu, Farida Farida, owner Boutiq Aqilah Cepu, Selain pemakaian Jilbab sudah menjadi lifestyle bagi sebagian kalangan, banyaknya figur televisi yang menggunakan merk jilbab tertentu menjadi salah satu alasan bagi sejumlah konsumen untuk mencari.

Baca Juga :   Jayus Merasa Belum Pernah Menjual Tanahnya

“Sekarang banyak sinetron TV yang menggunakan jilbab. Hal itu memberi dampak positif bagi penjualan jilbab,” tutur dia

Dia mengaku, produk yang dia jual sebagian didatagkan dari luar negeri, untuk menarik konsumen.

“Ada juga produk jilbab dari China,” ungkapnya. Meski terdengar aneh, produk Jilbab dari negeri Tiongkok juga tidak luput dari minat sejumlah konsumen.

Menurut Farida, jika dibandingkan dengan produk jilbab branded dalam negeri, produk China lebih memang lebih murah dan tipis, motifnya pun juga bagus branded dalam negeri. “Harga yang murah membuatnya lebih diminati,” katanya.

Farida melanjutkan, seringnya pergantian model dan varian membuat sejumlah konsumen cenderung ingin memiliki model terbaru. Hal ini yang membuat ramainya pasaran jilbab di Cepu. Selain warga Cepu, Farida menyebutkan banyak konsumen dari luar daerah seperti Blora dan Jepon yang mengambil dari tokonya.

Dengan harga berkisar antara Rp. 40ribu hingga Rp. 150ribu,  untuk jilbab dalam negeri dan Rp. 30 hingga 100ribu untuk produk Tiongkok, setiap hari masih ada sekitar 30 konsumen yang membeli. Minat terbesar didominasi kaum ibu rumah tangga dan karyawati. “Penjualan masih didominasi kaum Ibu yangfashionable,” ungkap dia. ams)

Baca Juga :   Wakapolda Jatim Berangkatkan 25.165 Sembako untuk Korban Bencana Alam

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *