Bojonegoro Panen Bawang Merah

brambang

SuaraBanyuurip.com - D Suko Nugroho

Bojonegoro sangat berpotensi menjadi produsen bawang merah. Saat ini produksinya mencapai 20 ribu ton setiap kali panen.

Secara geografis, Desa Duwel, Kecamatan Kedungadem, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur kurang menguntungkan. Desa yang memiliki luas wilayah 32.380 meter persegi dengan jumlah penduduk 1.600 jiwa itu berada di pinggiran hutan.

Hampir semua lahan di Desa Duwel adalah tadah hujan. Lahan yang hanya bisa ditanami saat musim penghujan.

Namun, siapa sangka, dengan keterbatasan yang ada di desa itu, masyarakat Duwel sangat inovatif dalam memaksimalkan lahannya. Salah satunya adalah dengan melakukan budidaya bawang merah.

Tanaman bawang merah itu sangat cocok dengan kondisi tanah Duwel. Karena tanaman ini tidak banyak membutuhkan air. Selain itu, dengan kondisi tanah yang miring memudahkan pembuangan air.

“Bawang merah ini hanya butuh air sekejap. Tidak sampai ngendon,” kata Murdani (35), petani bawang merah.

Karena kondisi itulah, masyarakat Duwel mayoritas menanami lahannya dengan tanaman brambang (sebutan lain bawang merah). Dari 500 hektar (ha) lahan pertanian di sana, 300 ha ditanami brambang.

Bagi petani Duwel, menanam bawang merah jauh lebih menguntungkan ketimbang tanaman padi. Karena selain waktu panennya lebih singkat yakni dua bulan, hasil yang didapat juga berlipat. Alasan inilah yang menjadikan para petani di sana menanam bawang merah secara turun temurun.

Murdani, salah satunya. Dia memiliki lahan seluas 4000 meter persegi yang ditanami bawang merah. Hasil tanaman bawang merah di lahannya telah memasuki masa panen dan dibeli secara borongan senilai Rp38 juta.

Rata-rata hasil produksi bawang merah Desa Duwel dibeli oleh pedagang dari luar kabupaten. Seperti Mojokerto, Jombang, dan Surabaya.

“Panen kali ini harganya turun. Kalau panenan kemarin bisa laku Rp75 juta sampai Rp100 juta. Karena sekarang cuacanya hujan,” kata dia.

Meski harga brambang (sebutan lain bawang merah) turun, namun Murdani mengaku masih mendapatkan keuntungan Rp24 juta. Keuntungan itu setelah hasil penjualan dikurangi biaya produksi. Untuk biaya produksi yang dia keluarkan mencapai Rp14 juta.

Biaya tersebut diantaranya untuk pembelian bibit sebanyak 40 kilogram dengan harga perkilogramnya Rp25.000 senilai Rp 10 juta. Kemudian sewa tanah senilai Rp2 juta, dan upah tenaga kerja untuk penanaman bibit dan memanen Rp1 juta serta obat-obatan.

“Yang saya panen ini bibit lokal dari Kendung, tidak dari Nganjuk. Kalau dari Nganjuk hasilnya bisa lebih bagus tapi harganya mahal. Per kilo gramnya bisa mencapai Rp75 ribu sampai Rp100 ribu,” kata Murdani yang juga Kepala Dusun Porongmangun di sela-sela memanen bawang merah, Rabu (25/12/2013).

Untuk bibit lokal setiap per kilogramnya jika ditanam bisa menghasilkan 8 kilogram brambang. Sedangkan untuk bibit dari Nganjuk per kilogramnya bisa menghasilkan 10 kg sampai Rp12 kg.

“Tetap ada perbedaan hasil produksinya,” sergah Parno, petani brambang lainnya.

Pria yang juga Ketua Kelompok Tani, Margo Rukun 2 itu mengungkapkan, karena tanaman bawang merah ini sangat menjanjikan, banyak petani Duwel yang memiliki modal besar menyewa lahan di luar desa untuk ditanami bawang merah.

“Ada 70 hektar tanaman brambang petani disini yang di luar desa,” ujar Parno, mengungkapkan.

Dia mengakui, budidaya tanaman bawang merah ini membutuhkan modal besar, sehingga tidak semua petani bisa menanam tanaman tersebut. Mahalnya biaya produksi itu dikarenakan belum adanya ketersediaan bibit unggul yang cukup. Sebab jika membeli dari Kabupaten Nganjuk harganya lumayan mahal.

“Untuk itulah saya harapkan nanti di Bojonegoro ada satu wilayah yang khusus dijadikan tempat untuk pembibitan,” harap Parno.

Sementara itu, Camat Kedungadem, Juwono, mengungkapkan, selain Desa Duwel, ada beberapa desa di wiliyahnya yang menjadi sentra produsen bawang merah. Yakni Desa Pejok, Babatan dan Kepohkidul. Jumlah areal bawang merah di Kedungadem seluas hampir seribu hektar dengan potensi produksi mencapai 10 ribu ton lebih setiap kali panen.

“Bawang merah ini telah menjadi ikon Kedungadem. Karena tanaman ini dapat meningkatkan kesejahteraan petani,” sambung Juwono.

Akan Jadikan Gondang Pusat Pembibitan

Untuk membuat sentra pembibitan bukan perkara mudah. Sebab dalam pembuatan bibit bawang merah diperlukan lahan dan pengairan yang lebih dari cukup.

Hal itu hanya bisa dilakukan di wilayah Kecamatan Gondang. Karena di wilayah tersebut terdapat sumber mata air pegunungan yang melimpah dan tak pernah mengering. Selain itu juga dekat dengan Waduk Pacal sehingga ketersediaan air sangat mencukupi.

Dengan potensi pengairan yang melimpah itu tidak ada salahnya jika wilayah Gondang diproyeksikan khusus sebagai pusat pembibitan bawang merah. Dengan begitu petani bawang merah nantinya tidak bergantung bibit dari luar daerah.

Juga petani dapat menambah masa tanam bawang merah dari dua kali menjadi tiga kali dalam setahun karena adanya ketersediaan bibit dan pembangunan seribu embung.

“Selain itu nantinya bawang merah Bojonegoro tidak diklaim dari kabupaten lain. Karena bibitnya dapat dipenuhi sendiri,” sambung Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Bojonegoro, Kusnandaka Tjatur.

Bahkan untuk membantu para petani yang membutuhkan modal untuk budidaya bawang merah, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro telah menyiapkan permodalan berbentuk pinjaman lunak melalui perbankan.

“Kalau memang butuh modal bisa mengajukan pinjaman ke Bank Jatim,” tegas Kusnandaka.

Dia juga berharap, agar petani bawang merah Duwel menularkan ilmu dan pengalamannya kepada petani lain di luar desa agar mengembangkan tanaman bawang merah. Karena tanaman ini sangat potensial di kembangkan oleh petani yang memiliki sedikit lahan.

“Itu bisa dilakukan dengan kerja sama dengan petani lain diluar desa dengan menyewa lahan. Sehingga ada tranformasi ilmu,” kata mantan Assisten 1 Sekretariat Pemkab Bojonegoro ini.

Untuk mewujudkan Bojonegoro sebagai lumbung pangan dan energi negeri, Pemkab juga akan meluncurkan program Cyber Extencion. Dalam program ini petani akan dikenalkan tentang tehnologi internet untuk memudahkan berkonsultasi dengan pakar pertanian seperti dari Intitute Pertanian Bogor (IPB) yang sudah menjalin kerja sama dengan Pemkab Bojonegoro.

“Misalnya disini tanaman petani diserang penyakit, petani bisa langsung berkonsultasi dengan pakarnya. Kemudian permasalahan itu akan dibahas tim untuk kemudian dicarikan penanggulangan dan solusinya,” ujar Kusnandaka.

Dia menambahkan, potensi produksi bawang merah di Bojonegoro mencapai 20.000 ton. Karena selain di wilayah Kedungadem, sejumlah desa di beberapa kecamatan seperti Desa Pajeng dan sekitarnya Kecamatan Gondang juga melakukan budidaya bawang merah.

Dengan prospek seperti itu, tidak ada salahnya jika tanaman bawang merah ini dikembangkan di daerah sekitar pemboran migas seperti di Blok Cepu, Gas Cepu maupun Tiung Biru (TBR). Karena dengan tergerusnya lahan pertanian untuk industri, petani dapat memanfaatkan sisa lahannya yang tak luas menjadi lebih optimal dan menghasilkan. 

Baca Juga :   10 Tahun Warga Nguken - Bojonegoro Manfaatkan Sumur Gas Peninggalan Belanda

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *