Berlari Mengejar Target Produksi Migas Dalam Negeri

Lapangan Gas JTB.
Lapangan Gas JTB di Desa Bandungrejo, Kecamatan Ngasem Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, yang dikelola Pertamina EP Cepu menjadi salah satu produsen gas terbesar di Indonesia.

Produksi minyak bumi sebesar 1 juta bph dan gas bumi sebesar 12.000 MMSCFD atau 12 BSCFD ditargetkan tercapai pada 2030. Diperlukan usaha dan kerja keras mendongkrak produksi migas untuk mencapai target tersebut.

Minyak dan gas bumi (migas) masih menjadi sumber energi vital. Sektor telah memberikan konstribusi besar terhadap pendapatan negara. Tercatat, selama 2023, pendapatan negara bertambah Rp230,4 miliar lewat Badan Layanan Umum (BLU) Migas. Besaran ini tertinggi dalam 14 tahun terakhir. Sementara dari sisi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sanggup menyumbang Rp117 triliun atau 113% dari target. Lebih rendah dari tahun 2022 sebesar 21,3% atau Rp148 triliun.

Susutnya perolehan PNBP mengikuti pola harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP). Begitu komoditas minyak mentah dunia anjlok, ICP jeblok ke level USD78,43 per barel. Harga ini jauh dibandingkan tahun sebelumnya, menyentuh angka USD97,03 per barel. Adanya konflik geopolitik secara kuat menekan pergerakan harga minyak dunia.

“Permasalahan Rusia-Ukraina dan Palestina-Israel sampai sekarang terus terjadi dan mungkin berkembang lebih besar,” kata Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM Tutuka Ariadji di Jakarta.

Menariknya, nilai investasi migas justru meroket. Secara keseluruhan naik 12% atau USD15,6 miliar masuk ke kantong negara. Rinciannya, USD13,72 miliar bersumber dari sisi hulu dan USD1,88 dari hilir. Bila diliat lebih dalam, investasi hulu migas lebih 5% dari Long Term Plan serta mengungguli tren investasi Exploration & Production (E&P) Global sekitar 6,5%.

Tak salah bila Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mematok angka investasi lebih tinggi sebesar USD17,7 miliar di tahun 2024.

Baca Juga :   Kelola Migas Berbasis Kearifan Lokal

“Kita cukup optimis dunia tertarik dengan (migas) Indonesia,” sergah Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto.

grafik investasi migas.
Grafik Investasi Migas.(dok,KESDM)

Produksi siap jual atau lifting migas di Indonesia diakui belum mampu menutup kebutuhan tinggi Bahan Bakar Minyak (BBM) dalam negeri. Lifting minyak bumi di tahun 2023 tertahan di angka 605,5 million barrels oil per day (mbopd). Penurunan ini alamiah terjadi menyusul belum ada penemuan sumber-sumber baru. Kendati demikian, tingkat penurunan produksi (decline rate) minyak berkurang menjadi hanya 1,2%. Sepanjang tahun 2023, decline rate dari produktivitas eksploitasi jauh membaik ketimbang tujuh tahun terakhir dimana berkisar antara 3-7%.

Berbagai metode diterapkan untuk mendongkrak produksi migas Indonesia. Seperti enhanching oil recovery (EOR), water flood, hingga chemical. Pada kuartal pertama tahun 2024, pemerintah sudah menyiapkan program dan strategi khusus.

“Programnya sudah ada dan tinggal di-launching saja,” tegas Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif.

Lifting gas juga tak luput jadi perhatian. Capaian lifting gas berada di angka 960 million barrels oil equivalent per day (mboepd). Meleset dari target yang ditetapkan, yaitu 1.110 mboepd. Beroperasinya Train Tangguh 3 sedikit memberi nafas. Proyek dengan nilai investasi USD4,83 miliar ini bisa mengatrol total produksi Tangguh LNG jadi 11,4 juta ton atau 35% dari total produksi gas nasional. Kondisi ini menyebabkan adanya kenaikan produksi (inclane gas) sebesar 2,2%.

Baca Juga :   BBS Siap Perpanjang Kontrak Fasilitas Operator

Kondisi ini didukung beroperasinya (onstream) Lapangan Unitisasi Jambaran Tiung Biru (J-TB), MAC-HCML, Lapangan Belinda Nort East, serta Bronang-Medco E&P Natuna Limited.
“Kesiapan infrastruktur dan keberadaan pembeli gas (offtaker) akan mampu mengubah grafik lifting gas,” ungkap Tutuka pada kesempatan lain.

Adanya dua penemuan cadangan gas terbesar (giant discovery), yaitu Geng North, Ganal (5 trillion cubic feet/TCF) dan Layaran, South Andaman (6 TCF) memberi harapan baru. Data WoodMackenzie, Rystad Energy, dan S&P Global menyebutkan, penemuan potensi gas di atas adalah 5 biggest discoveries pada tahun 2023. Hal ini berhasil menorehkan Indonesia mencetak rekor baru dalam penemuan sumber daya migas sejak 23 tahun terakhir setelah Lapangan Abadi, Masela.

“Ini akan kita dorong kepastian produksinya bisa dicapai tahun 2030 dan harus bisa dimanfaatkan,” tegas Menteri ESDM Arifin Tasrif kembali.

Guna mengoptimalkan kegiatan hulu, pemerintah konsisten menawarkan blok-blok baru. Sebanyak 10 Wilayah Kerja (WK) berhasil dilelang melalui Indonesia Petroleum Bidding Round di tahun 2030. Kucuran dana USD178,6 juta sukses didapat dari firm commitment dari 13 penandatangan WK PSC. Semuanya berasal dari Offshore Northwest Aceh (Meulaboh), Offshore Southwest Aceh (Singkli), West Kampar, Jabung Tengah, Bireun Sigli, Beluga, East Natuna, Paus, Peri Mahakam, Akia, Bengara I, Bunga, Sangkar.

“(Penawaran) tahun 2022 ada yang ditandatangani di 2023,” pungkas Tutuka.(red)

 

» Klik berita lainnya di Google News SUARA BANYUURIP

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *