Kang Riyadi : Kuasa Illahi Mengantarkan Kami Daftar Pemilukada

Pasangan H Riyadi dan H Wafi Abdul Rosyid mendaftarkan diri sebagai Cabup dan Cawabup Tuban 2024-2029 di KPUD Tuban, Kamis (29/08/2024) malam, diusung Partai Nasdem, Hanura, PBB, Gelora, dan Perindo. Selain Nasdem dalam Pemilu Legislatif 2024 lalu partai pengusungnya tak memiliki kursi di DPRD Tuban. (SuaraBanyuurip.com/tbu)

SuaraBanyuurip.com – Teguh Budi Utomo

Tuban – Melalui proses panjang dan berliku pasangan, H Riyadi dan H Wafi Abdul Rosyid, mendaftarkan diri sebagai calon bupati dan wakil bupati 2024-2029 ke KPUD Kabupaten Tuban, Jawa Timur, Kamis (29/08/2024) malam. Mereka dikenal sebagai penganut taat mazhab ahlussunnah waljamaah, yang kental dengan kaum Nahdlatul Ulama (NU) itu diboyong partai Nasdem, dan Hanura, Partai Buruh, PBB, Gelora, dan Perindo.

Beberapa jam sebelumnya pasangan Aditya Halindra Faridsky dan Joko Sarwono dengan diantar para petinggi dan elite politik partai pengusungnya yakni Golkar (20 kursi DPRD), PKB (11), PDIP (5), Gerindra (4), Demokrat (3), PPP (2), dan PAN (1 kursi DPRD) mendaftar di tempat sama. Terhitung sebanyak 46 kursi DPRD Tuban dari kumpulan partai itu berhasil “ditekuk” Partai Golkar pimpinan Aditya Halindra Faridzky yang juga Bupati Tuban periode 2020-2024 tersebut. Mereka meninggalkan Nasdem, peraih 4 kursi Dewan yang diketuai H Riyadi sendirian di Gedung Patung.

Wakil Bupati Tuban (2020-2024), H Riyadi, menyatakan, perjuangan mendapatkan rekomendasi dari partai yang dilaluinya bersama tim pendukungnya sangat berat, lantaran seluruh partai pemilik kursi di DPRD Tuban telah dikuasi pasangan lain. Nyaris tak ada satu pintu pun mereka terbuka untuknya mencalonkan diri dalam kontestasi politik lima tahunan di Bumi Wali.

Sekitar seribu orang mengantarkan pasangan H Riyadi dan H Wafi Abdul Rosyid mendaftarkan diri di KPUD Tuban. Mereka mengarak pasangan dari partai non parlemen ini dengan iringan musik hadrah melantunkan Sholawat Nabi, dan 500 obar sebagai penerang jalan menuju ke KPUD Tuban. (SuaraBanyuurip.com/tbu)

“Saya meyakini jika suara rakyat adalah suara Tuhan, dan Allah menunjukkan kebenaran itu sekalipun berbagai upaya dilakukan mereka untuk menghalaunya,” tegas pria yang dikenal akrab dengan kalangan akar rumput itu di depan Sekretariat KPUD Tuban di Jalan Pramuka Tuban itu. Bait-bait Sholawat Nabi dari sekitar 1.000 orang pengantarnya mengiringi orasi yang dilakukan bekas Kepala Desa Maibit, Kecamatan Rengel, Tuban tersebut.

Tangan Tuhan pun mulai menjamah untuk membuktikan kebenarannya. Lima hari setelah 283.847.520 jiwa penduduk NKRI merayakan ulang tahun kemerdekaannya, Mahkamah Konstitusi (MK) membuat keputusan terkait persyaratan pencalonan Kepala Daerah (Gubernur, Bupati dan Walikota). Inti keputusannya, partai tak memiliki kursi di DPRD bisa mencalonkan dengan hitungan prosentase suara sah dalam Pemilu Legislatif sebelumnya.

Baca Juga :   Aktivis KPR Dilaporkan Dugaan Pencemaran Nama Baik

Pada konteks Pemilukada tahun 2024, menurut Kang Riyadi, keputusan MK itu membuktikan tak ada lagi partai kecil atau besar, partai gemuk atau kurus. Semuanya diberikan hak yang sama dalam mengikuti pesta demokrasi. Disinilah suara rakyat yang tak tertampung dalam kurdi di DPR masih bisa digunakan untuk mengikuti Pemilukada, disini pula bisa disebut bahwa suara rakyat adalah suara Tuhan.

“Kuasa dari Allah melalui tangan-Nya pula yang meruntuhkan tirani yang menghalangi hak rakyat untuk menentukan pemimpin,” tegas pria ramah itu. Setidaknya hal ini telah dibuktikan dalam proses perolehan rekomendasi dari partai yang masih peduli dengan aspirasi dan hati nurani rakyat, yang sebelum ada putusan MK pada akhir bulan Agustus lalu sebuah kemustahilan.

Bukan Syahwat Kekuasaan

Kepada belasan jurnalis yang mewancarainya usai mendaftar di KPUD Tuban, Kang Riyadi menampik jika disebut keikutsertaannya dalam Pemilukada dilatari kekecewaan dan problema pribadi. Selama menjabat Wakil Bupati sejak tahun 2020 ia telah benar-benar turun ke lapangan hingga kalangan gress root. Ia pun mendengar aspirasi masyarakat. Melihat kondisi tersebut, ia merasa belum bisa berbuat banyak, karena semua aspirasi dari masyarakat yang dititipkan padanya tak selalu selaras dengan kebijakan Bupati yang diwakilinya. Padahal mestinya sesuai mandate UU 23 tahun 2014 yang mengatur tugas dan kewenangan bupati dan wakil bupati tak bisa dipisahkan.

“Setelah merasakan harapan amanah dari masyarakat belum bisa direalisasikan, itulah yang memotivasi tekad agar bisa mengabdi agar bisa memberikan kemanfaatan,” tutur Magister Administrasi Publik dari Universitas Airlangga Surabaya itu. Ia akui pula keputusan MK tersebut adalah jalan dari Allah untuk memberikan takdir-Nya kepadanya, untuk bisa mengabdi kepada masyarakat Tuban. Juga jawaban dari Allah atas keinginan rakyat.

Baca Juga :   Libur Panjang Isa Almasih, 36.958 Penumpang Gunakan Kereta Api Daop 8

Kang Riyadi juga tak pernah merasa partai pengusungnya adalah partai kecil, sekecil apapun suara yang diberikan rakyat untuk partai adalah kehendak Tuhan. Suara rakyat yang dititipkan pada pelaksanaan Pemilukada yang dijadwalkan pada 12 Februari Januari nanti adalah amanah. “Tuhan telah membuktikan itu dengan munculnya keputusan MK pada 20 Agustus lalu.”

Keputusan lembaga negara tersebut meruntuhkan tirani, yang sering dibahasakan, seakan-akan yang bisa menjabat bupati adalah mereka yang memiliki dinasti yang berkuasa dengan segala bentuk kekuatannya. Kendati demikian Allah berkehendak lain. Sekecil apapun suara Tuhan yang titipkan pada manusia lewat Pemilu Legislatif ternyata tirani dinasti runtuh. Termasuk berpasangan dengan H Wafi Abdul Rosyid, baginya, juga bagian dari takdir Allah yang musti disyukuri bersama.

Pasangan Aditya Halindra Faridzky dan Joko Sarwono yang diusung Partai Golkar, PKB, PDIP, Gerindra, Demokrat, PPP dan PAN mendaftarkan diri sebagai Cabup dan Cawabup Tuban. Mereka diantar oleh para elite partai pengusungnya. (SuaraBanyuurip.com/ist)

Sedangkan Calon Wabup H Wafi Abdul Rosyid yang akrab disapa Gus Wafi, menyatakan, berpasangan dengan H Riyadi adalah pilihan yang telah dikonsultasikan dengan para kiai, ulama, dan tokoh masyarakat yang dikenal keluargnya. Bagi putra KH Ahmad Muhammad Ainul Yaqin yang akrab disapa Gus Mad, pimpinan pondok pesantren Al Ishlahiyah Al Ghozaliyah Tuban ini, menerima pinangan dari Kang Riyadi bukan semata karena nafsu syahwat pribadi.

“Saya sudah sowan (konsultasi) dengan kiai dan para guru saya, saya diperintah agar bisa membawa manfaat kepada masyarakat yang lebih luas,” kata lelaki muda ganteng kepada jurnalis yang mengerubutinya. “Saya juga ditegur (oleh kiai dan gurunya) jangan sok sholeh, jika ada kesempatan membuat bermanfaat untuk masyarakat harus dilakukan.” (tbu)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com