Debat Publik Pemilukada Tuban, Riyadi – Wafi Siapkan Program 10.000 Beasiswa S1

Paslon 01 Riyadi - Wafi dengan didampingi istri masing-masing melakukan jumpa pers usai debat publik yang digelar KPU Tuban, MInggu (20/10/2024) malam. Mereka menawarkan program beasiswa S1 dan S2 untuk warga miskin sebagai bagian dari program pembangunan SDM. (SuaraBanyuurip.com/jan)

SuaraBanyuurip.com – Paijan Sukmadikrama

Tuban – Sekalipun dikenal sebagai daerah industri berskala besar, namun kemiskinan yang masih membelenggu warga Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Sisi ini tampaknya menjadi perhatian serius pasangan calon (Paslon) Bupati dan Wabup Tuban 2024-2029, Riyadi dan Wafi Abdul Rosyid (Riyadi – Wafi).

Terkait hal itu pula pasangan dengan tagline Tuban Baru tersebut, berkonsentrasi pada pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) karena bidang ini berhubungan erat dengan pengentasan kemiskinan. Pendidikan yang mereka maksud tak hanya pendidikan formal, namun juga pemberdayaan masyarakat yang mengarah pada peningkatan kemandirian secara ekonomi.

Terhadap sektor tersebut Paslon 01, Riyadi – Wafi, dalam debat publik yang dihelat KPUD Tuban di Grand Javanila Tuban, Minggu (20/10/2024) malam, menawarkan program beasiswa S1 kepada 10.000 orang, dan 1.000 orang untuk program S2. Sepertinya mereka telah menghitung dengan kemampuan anggaran Tuban sebesar Rp3,4 triliun program tersebut bisa dilakukan.

Setelah selesai debat publik yang digelar KPUD Tuban, Paslon 02 Lindra – Joko melakukan wawancara dengan awak media. Mereka menyatakan, program yang disampaikan bukan janji tapi telah dilakukan dalam Mbangun Desa Nata Kota sepanjang 3 tahun menjabat Bupati Tuban (2021-2024), dan sesuai harapan masyarakat. (SuaraBanyuurip.com/jan)

Sementara itu, Paslon 02, Aditya Halindra Faridzky dan Joko Sarwono (Lindra – Joko), menawarkan infrastruktur pembangunan jalan untuk akses pengembangan ekonomi masyarakat, dan industri. Mereka mempertimbangkan infrastruktur menjadi fasilitas yang bisa memudahkan masuknya investasi dan industri. Sektor ini juga menjadi pemantik percepatan produksi di sector pertanian, perkebunan, dan pengembangan ekonomi masyarakat.

Dalam publik debat tersebut Cabup Lindra menyatakan, sepanjang 3 tahun pemerintahannya, saat menjabat Bupati Tuban 2021-2024 Lindra bersama Wabup Riyadi, telah berhasil membangun 1.000 Km jalan poros desa, dan 800 Km jalan lingkungan di 328 desa di Tuban. Sedangkan untuk program pengentasan kemiskinan yang dilakukannya, Pemkab Tuban sepanjang 2021-2023 juga berhasil menurunkan angka kemiskinan.

Baca Juga :   Berkunjung ke Kampung Nelayan Kabalan Bojonegoro, Mas Teguh: Perlu ada Pembinaan Terhadap Nelayan Bengawan

Mengutip data dari BPS Tuban, Lindra – Joko menyatakan, angka kemiskinan di tahun 2021 penduduk miskin sebanyak  16,31 persen turun menjadi 15,02 persen di tahun 2022, kemudian turun lagi di tahun 2023 menjadi 14,91 persen. Jika dikalkulasi jumlah penduduk miskin dari tahun 2021 sebanyak 192,58 ribu jiwa, tahun 2022 menjadi 178,05 ribu jiwa, dan menurun lagi pada tahun 2023 menjadi sebanyak 177,25 ribu jiwa. Penurunan angka kemiskinan di Tuban sepanjang tiga tahun terakhir tersebut, menurut Paslon Lindra – Joko, termasuk tertinggi bagi kabupaten kota di wilayah Jawa Timur.

“Selama tiga tahun kami telah bekerja keras mbangun desa nata kota, program yang kami sampaikan bukan sekadar janji tapi sesuai harapan masyarakat,” kata Lindra.

Data dari BPS Jawa Timur menyebut Kabupaten Tuban menempati urutan ke lima dari 10 kabupaten termiskin di wilayah Jawa Timur. (SuaraBanyuurip.com/diolah dari BPS Jawa Timur)

Walau tertera angka statistik demikian, menurut Cabup Riyadi masih menempatkan Tuban pada rangking lima kabupaten termiskin di Provinsi Jawa Timur. Problem kemiskinan adalah kompleks dengan lapisan sektor tebal, termasuk diantaranya bidang pendidikan mulai dasar hingga tinggi.

Kepada awak media online di Tuban, Kepala BPS Tuban Adhie Surya Mustari mengungkapkan, sektor pendidikan juga menjadi penyebab tingginya angka kemiskinan. Disorotinya, tingkat kelanjutan pendidikan dari jenjang menengah ke atas (jenjang SMA sederajat) mencapai 70 persen. Sekalipun tingkat partisipasi pendidikan tingkat dasar (SD) dan menengah (SMP) angkanya lebih dari 90 persen, namun terdapat 30 persen lulusan SMP tak melanjutkan ke tingkat SMA sederajat.

Baca Juga :   Kemendikbud Ristek Canangkan Bulan Merdeka Belajar di Hari Pendidikan Nasional

Fakta tersebut menurut Paslon Riyadi – Wafi sebagai angka memprihatinkan, padahal pendidikan menjadi indikator dari keberhasilan pembangunan lantaran terkait pada lapisan kemiskinan pula. Sekaligus sebagai bentuk riil dari kenyataan lapangan yang mendesak segera selesaikan, apalagi Tuban ke depan bakal menjadi daerah tujuan investasi.

“Kami menawarkan program pendidikan gratis untuk tingkat SD hingga SMA sederajat, bahkan untuk jenjang pendidikan S1 dan S2 kita siapkan skema program beasiswa,” kata Riyadi usai debat publik.  Diantaranya, dengan menyiapkan beasiswa S1 dan S2 masing-masing kepada 10.000 dan 1.000 orang, dari kalangan warga kurang beruntung secara ekonomi.

Bakal masuknya industri besar di Tuban, tambah Riyadi – Wafi, harus ditangkap sebagai peluang untuk menyejahterakan masyarakat, dan hal itu butuh persiapan dan perencanaan matang. Teknisnya dengan menyiapkan program peningkatan SDM sesuai kebutuhan industri. Baik itu melalui pelatihan skill lulusan SMA sederajat, dan warga usia kerja, maupun pemberian beasiswa. Teknis ini juga akan melibatkan industri, karena mereka yang tahu kebutuhan tenaga kerjanya.

Wabup Tuban periode 2021-2024 itu menyatakan, sering kali mengamati masuknya armada pengangkut sayuran, buah-buahan, telor, dan bahan pangan lain dari luar daerah ke Bumi Wali, padahal Tuban memiliki kekayaan alam melimpah. Oleh sebab itu butuh program pemberdayaan yang tepat, agar petani dan pelaku UMKM bisa berdaya dan mandiri. Ke depan sisi tersebut bakal digarap secara tepat, dengan melibatkan masyarakat dan pelaku usaha. (jan)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com