Suarabanyuurip.com — Arifin Jauhari
Bojonegoro — Wakil Bupati (Wabup) Bojonegoro Nurul Azizah, melaksanakan Salah Ied di Masjid Agung Darussalam, Jalan KH. Hasyim Asya’ari 21, Sabtu (21/3/2026). Sebelum pelaksanaan salat, Nurul Azizah sempat menyampaikan sejumlah capaian kinerja pemerintah kabupaten (pemkab) setempat.
Perempuan santun dan ramah ini hadir bersama sejumlah pejabat. Tampak diantaranya Sekretaris Daerah (Sekda) Edi Susanto, Kepala Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Penataan Ruang (PU Bima PR), Ivan Chusaevi, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Luluk Alifah, Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Ninik Susmiati, Kepala Bagian Perekonomian dan Sumber Daya Alam (SDA), Laela Noer Aeny, serta para staf ahli, pejabat lainnya.
Nurul Azizah mengawali sambutan dengan pemaparan status Masjid Baabus Shofa yang kini telah menjadi aset Pemkab Bojonegoro. Pada mulanya masjid itu merupakan aset keluarga AKBP (purn) Budi Djatmiko.
“Pak Bupati menitipkan salam, karena beliau salat di Masjid Baabus Shofa, masjid ini sejak 20 Februari 2026 telah menjadi aset Pemkab Bojonegoro. Di masa lalu, Masjid Baabus Shofa adalah milik pembalap Pak Tinton,” kata Nurul Azizah.
Perempuan santun dan ramah ini mengungkapkan bahwa bangunan fisik Masjid Baabus Shofa telah dihibahkan kepada pihaknya atas nama Nurul Azizah. Kemudian pada 23 Maret 2023 Baabus Shofa resmi bersertifikat atas nama Nurul Azizah.
“Untuk kemanfaatan, maka kami matur (menyampaikan) kepada Pak Tinton bahwa Baabus Shofa kami serahkan menjadi aset milik Pemkab Bojonegoro,” ujarnya.

Nurul Azizah melanjutkan bahwa selama 1 tahun kepemimpinan ada sejumlah capaian yang disebutnya kurang maksimal dan harus dibenahi. Untuk itu ia berkomitmen untuk berusaha memperbaiki capaian hingga sebaik mungkin.
Nurul juga membuat perbandingan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Yaitu APBD pada 2023-2024 berkisar di angka Rp8 triliun. Namun di 2026 ini APBD Bojonegoro turun di Rp6 triliun.
“Walaupun APBD turun, tetapi Pak Bupati dan kami tetap memberikan kontribusi, sesuai data BPS ada penuruan angka kemiskinan, ada peningkatan IPM, peningkatan produksi padi dari 710 ribu ton menjadi 844 ribu ton, begitupun angka harapan hidup masyarakat Bojonegoro meningkat dari 73 tahun menjadi 75 tahun,” ungkapnya.
Selain itu, kata Nurul, Bupati Setyo Wahono selalu menekankan agar pembangunan di Bojonegoro merata di semua desa. Salah satu buktinya yakni melalui jumlah Bantuan Keuangan Desa (BKD) yang meningkat lebih dari 400 desa.
“Sebagai ikhtiar kami, mulai 2026 semua masyarakat Bojonegoro harus sekolah, karena masih ada 5.610 anak yang saat ini belum bersekolah, maka ini menjadi kewajiban kita semua bahwa anak-anak harus dibekali pendidikan,” lanjutnya.
Tak hanya itu, pada 2026 semua masyarakat Bojonegoro harus teraliri listrik. Sebab hingga saat ini masih ada 776 keluarga yang belum teraliri listrik. Pun pihaknya mentargetkan Bojonegoro bebas TBC di tahun yang sama, yang saat ini sedang berproses
“Tentu masih banyak PR yang harus kami laksanakan, diantaranya warga miskin yang saat ini masih tersisa 54 ribu keluarga miskin, ini harus ada sinergi semua pihak,” terangnya.
Tak hanya memaparkan perbaikan, Nurul Azizah menyampaikan pula peningkatan capaian bidang kesehatan. Masyarakat umum Bojonegoro akan mendapatkan layanan rumah sakit tipe A yang bekerja sama dengan RSCM. RSUD Bojonegoro juga aka menjadi rumah sakti pendidikan yang bekerja sama dengan pihak universitas.
Ia juga menyatakan konsisten dengan pembiayaan beasiswa dan bantuan sosial yang disesuaikan dengan anggaran. Serta rencana pembangunan menara Masjid Darussalam, alun-alun, dan Pasar Kota Bojonegoro. Termasuk rencana pembangunan jalur lingkar selatan.
“Perjuangan masih panjang, tetapi sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar. Kami mohon doa dan dukungannya, agar saya dan Pak Bupati dalam membangun, menjadikan Bojonegoro bahagia, makmur, dan membanggakan,” tegasnya.
Sementara itu, Khotib Salat Ied Masjid Darussalam, Dr. H. Yogi Prana Izza berkutbah tentang peningkatan keimanan. Mengambil tema “Mengendalikan Ego Menyembuhkan Luka”.
Ceramah ini mengajak umat menundukkan batin, memproyeksikan pada kejadian dahsyat yang pasti terjadi. Yaitu pada hari di mana manusia tidak membawa apa apa bahkan sehelai benang. Tanpa pangkat, harta, dan apapun. Hingga terdengar seruan Tuhan sebagai hakim yang maha adil dan sebaik baik pemberi balasan.
Maka pada zaman di mana tingginya keangkuhan dan banyaknya kezaliman, jemaah diajak untuk mampu menahan marah dan memaafkan orang lain sebagai puncak ketaqwaan.
“Mudah mudahan kita termasuk orang-orang bertaqwa dan mampu mengendalikan ego dan menyembuhkan luka,” tandasnya.
Selepas salat berjamaah dan melanjutkan kegiatan hari raya, Nurul Azizah menyempatkan bersalaman dan bermaaf-maafan dengan para jemaah di Masjid Darussalam.(fin)






