SuaraBanyuurip.com – Laeman Harjo Wasito
Jombang – Khittah Nahdlatul Ulama (NU) pada Muktamar NU di Situbondo tahun 1984, bukan sekadar dokumen politik kebangsaan yang ditelorkan para tokoh NU di masanya. Lebih dari itu merupakan kompas, dan dasar arah berpikir para nahdliyin (warga NU-Red) dalam berbangsa dan bernegara.
Demikian diantara benang merah yang bisa ditarik dari acara bedah buku dan talkshow dengan tema “Khittah NU, Kyai, dan Pesantren: Merawat dan Moderasi, Menjaga NKRI” di Aula MAN 3 Jombang, Jatim. Tema perhelatan yang dinukil dari judul buku karya Prof Dr Drs HM Zainuddin BA M.A, Rektor UIN Malang Periode 2021 – 2025, itu merupakan rangkaian kegiatan Muktamah ke 35 NU yang diadwalkan pada 27-31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang.
Kegiatan sarat nilai akademik ini menghadirkan narasumber Prof HM Zainuddin (penulis buku), KH Fathul Huda tokoh NU yang juga Bupati Tuban (2011-2021), dan Nyai Hj Hizbiyah Rochim Wahab MA salah satu putri dari KH Wahab Chasbullah. Sebagai pemantik acara adalah Prof Dr Drs H Nur Ali MPd.
Tampak pula dalam kegiatan di kompleks pesantren Bahrul Ulum tersebut, diantaranya, Ketua Umum Yayasan PPBU KH Abdur Rozaq Sholeh, Ketua Majlis Pengasuh PPBU Dr KH Hasib Wahab Chasbullah, Kepala MAN 3 Jombang H Sutrisno S.Pd ME MPd, juga Ketua Panitia Prof Dr Hj Evi Fatimatur Rusydiyah, MAg.
Pemantik acara Prof Nur Ali menyatakan, khittah NU yang merupakan hasil dari muktamar Situbondo, bukan sekadar dokumen politik kebangsaan tahun 1984 tetapi harus dijadikan sebagai kompas, dasar dan arah berpikir, serta landasan etik, dan moral warga Nahdliyin termasuk para peserta Muktamar NU ke 35 di bumi salah satu pendiri dan penggerak NU, KH Wahab Chasbullah.
“Sedangkan kiai sebagai pengawal NU, dan pesantren sebagai laboratoriumnya, akan bertransformasi dengan kebutuhan masyarakat global,” tegas Prof Nur Ali yang saat ini sebagai Ketua Ikatan Alumni MAN 3 Jombang PPBU Tambakberas, dan Ketua Senat UIN Malang itu.
Dalam bukunya, Prof HM Zainuddin yang juga alumni MAN 3 Jombang menulis, kemana arah NU di era Global, dan terjadinya pergeseran peran kiai di tengah masyarakat. Pada bagian lain juga mencatat bagaimana seharusnya pesantren, serta bagaimana NU, kiai dan Pesantren merawat tradisi, dan moderasi dalam menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Sejumlah catatan kritis dan analisa dalam buku mantan aktifitas Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) ini, juga banyak memberikan tawaran solusi atas sejumlah analisa yang terjadi di tengah kalangan masyarakat, pesantren, dan NU.
“Maka perlu dirumuskan hal-hal yang menyangkut NU ke depan, yaitu bagaimana mempersiapkan pemimpin NU pada Muktamar mendatang, dan bagaimana merancang program lima tahunan ke depan (road map),” kata Prof Zainuddin saat memaparkan isi bukunya.
Sedangkan narasumber beda buku, KH Fathul Huda, yang alumni Madrasah Mualimin Mualimat (MMA) Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang lebih banyak mengajak kembali meneladani kiprah almarhum KH Wahab Chasbullah (Mbah Wahab). Banyak sikap, etika, dan moralitas yang diwariskan oleh pendiri NU itu akan menjawab tantangan NU maupun pesantren kedepan.
“Al-mar’u ma’a man ahabba (seseorang akan bersama dengan orang yang ia cintai-Red), dan apa yang dilakukan Mbah Wahab itu sudah komplit, baik kecerdasan beliau, enerjik dan pemberani mengambil sikap, itu yang harus kita copy paste sebagai santri,” tegas H Fathul Huda.
Sedangkan Nyai Hj Hizbiyah Rochim Wahab menyatakan, merasa prihatin dengan kondisi PBNU saat ini. Disampaikan bahwa warga NU haus akan kepemimpinan yang teduh, Ngayomi dan diteladani.
“Kepemimpinan PBNU harus mencontoh kepemimpinan Kiai Hasyim, Kiai Wahab, dan Kiai Bisri,” pesan Nyai Hj Hizbiyah.
Patut diketahui bedah buku dan talkshow yang melibatkan putra-putri Mbah Wahab ini adalah inisiasi dari para alumni yang sudah menjadi pengasuh pondok pesantren, guru besar, akademisi, dan praktisi. Mereka ikut mensukseskan Muktamar ke-35 NU di PPBU, Tambakberas, Jombang. (Lhw)