Demam Jadi PNS : Antara Jalan Kesejahteraan dan Tumpul Berfikir

Jum'at, 22 November 2019, Dibaca : 457 x Editor : nugroho

Ist
Sutopo


SuaraBanyuurip.com

                       Oleh : Sutopo

KEMENTERIAN Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemen PAN-RB) Republik Indonesia pada tanggal 11 November 2019 resmi mengumumkan pembukaan rekrutmen Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) secara serentak. 

Sontak, hal itu membuat kalangan masyarakat berbondong-bondong mendaftarkan diri menjadi abdi negara. Namun, untuk mendaftar CPNS bukan perkara mudah. Sebab, ada syarat dan kreteria tersendiri. Misalnya, harus memiliki ijazah minimal sarjana (S1).

Baca Lainnya :

    Syarat itu saja tidak cukup. Sebab, dalam pembukaan salah satu jabatan atau lowongan dibidang tertentu, ijazah yang dimiliki si pelamar harus sesuai jurusan. Contoh, jika ingin menjadi guru sekolah dasar (SD). Maka,  pelamar harus memiliki ijazah pendidikan guru sekolah dasar (PGSD).

    Tidak cukup di situ, masih ada kualifikasi yang harus dipenuhi. Seperti, standar universitas atau perguruan tinggi di mana tempat ia belajar harus minimal terakreditasi minimal B dan lain-lain. Selain itu, juga berkaitan dengan standarisasi indeks prestasi komulatif (IPK). Biasanya tiap-tiap daerah berbeda. Ada yang minimal IPK 2,75 dan 3.00.

    Baca Lainnya :

      Belum lagi, ketatnya persaingan antara pelamar CPNS yang nanti ikut tes. Kementerian PAN-RB memberlakukan nilai passing grade (ambang batas minimal). Ada beberapa jenis, mulai dari seleksi kompetensi dasar (SKD) yang meliputi Tes Karakteristik Pribadi (TKP), Tes Intelegensia Umum (TIU), dan Tes Wawasan Kebangsaan (TWK).

      Berdasarkan Peraturan Menteri PAN-RB Nomor 24 tahun 2019 tentang Nilai Ambang SKD CPNS tahun 2019 yang dikeluarkan pada Senin (11/11/2019). Berdasarkan regulasi itu, nilai ambang batas yang harus dilampaui, yakni 126 untuk TKP, 80 untuk TIU, dan 65 untuk TWK.

      Selanjutnya adalah seleksi kopetensi bidang (SKB). Yaitu tes psikologi dan wawacara. Barulah kemudian diukumkan siapa yang paling mendapatkan nilai tertinggi bisa lolos CPNS.

      Tapi, semua persyaratan itu tidak menyurutkan niat masyarakat untuk berlomba-lomba dan bersaing menjadi PNS. Buktinya, pendaftar CPNS saat ini mencapai 2,5 juta. Data tersebut ketika pendaftaran baru dibuka hari ke 5.

      Tingginya animo ini menjadi bukti jika menjadi PNS -anggapan masyarakat kelas menengah-bisa menjamin kesejahteraan hidup. Itu dilihat dari gaji PNS, perbulan yang terbilang tingga. Rata-rata, golongan III C sekitar Rp3 juta perbulan. Itu belum tunjangan dan lain-lain.

      Namun perlu disadari tingginya antusiasme ini memiliki sisi negatif dan positif. Negatifnya, bisa dikatakan mereka terbelenggu dan mendewakan jabatan PNS. Bahkan, seolah mereka tidak bisa move on (bangkit) karena "seperti katak dalam tempurung". Artinya, mereka tidak produktif dalam berfikir. Karena masih banyak hal lain yang bisa meningkatkan kesejahteraan.

      Padahal, jika dikaji dari sudut pandang agama, ada beberapa faktor sumber rezeki atau alat menuju kesejahteraan. Setidaknya ada 8 jalan rezeki (meraih kesejahteraan) di dalam agama Islam yaitu berada pada kitab suci Al-Qur'an.

      Pertama, adalah rezeki yang dijamin oleh Allah (QS. 11:6). Artinya semua makhluk hidup di dunia ini khususnya manusia sudah dijamain. Selanjutnya adalah rezeki tidak terduga (QS.65:2). Lalu, rezeki karena anak. Orang jawa bilang, banyak anak, banyak rezeki, itu benar adanya (QS. 17:31).

      Dalam ajaran agama Islam ada istilah rezeki dengan jalan sepiritual yaitu dengan membaca amalan yang dinamakan istigfar (meminta ampunan). Kemudian, ada rezeki karena menikah. Banyak, pembuktian bila orang setelah menikah pedapatannya secara materi meningkat (QS. 24:32).

      Masih soal jalan rezeki, selanjutnya jalan rezeki adalah karena bersyukur atau berterima kasih kepada Allah (QS.14:7). Selanjutnya, adalah banyaknya rezeki juga bisa diperoleh dengan cara memperbanyak sedekah (QS. 2:245), diakui atau tidak bila orang yang gemar sedekah ternyata bisa mempermudah rezeki.

      Lalu, rezeki yang diperoleh dari jalan usaha (ikhtiar) sesuai (QS. 53:39). Rezeki di sini, tidak hanya materi berupa uang dan lainnya. Namun, juga berupa rezeki kesehatan, kebahagiaan, umur panjang dan seterusnya.

      Dari dasar di atas manusia tidak boleh berpangku pada satu hal saja. Terlebih menganggap jabatan PNS adalah segala- galanya. Dan menganggap sebuah kemapanan dan kesejahteraan ketika hanya menjadi PNS.

      Selanjutnya, sisi positifnya adalah nilai usaha untuk bersaing dalam hal kecerdasan dan kebaikan (fastabikulkhoirot). Hal itu memang diajurkan oleh agama. Artinya, kompetisi dalam merebut sebuah kedudukan, jika dilandasi dengan niat dan cara yang baik. Maka, hasilnya akan baik pula. Sebab, segala sesuatu tergantung niatnya. 

      Wallahu'alam bisowab.

      Penulis adalah Wartawan Surat Kabar Harian (SKH) Memorandum di Bojonegoro








      Tidak ada komentar
      Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.

Show more