DPRD Bojonegoro Akomodir Aspirasi Warga di Proyek Gas JTB

Rabu, 13 November 2019, Dibaca : 469 x Editor : nugroho

ririn wedia
BERI PENJELASAN : Zainal Arifin menjelaskan keterlibatkan konten lokal dalam rapat dengar pendapat di Pendapa Kecamatan Gayam.


SuaraBanyuurip.com - Ririn Wedia

Bojonegoro - Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) menindaklanjuti surat aduan dari masyarakat ring 1 Lapangan Unitisasi Gas Jambaran-Tiung Biru (JTB) dengan melakukan rapat dengar pendapat di Pendapa Kecamatan Gayam, Rabu (13/11/2019). 

"Kami menerima aduan dari masyarakat terkait belum maksimalnya keterlibatan tenaga kerja maupun kontraktor lokal di proyek JTB," kata Ketua Komisi B, Sally Atyasasmi, usai pertemuan. 

Baca Lainnya :

    Dikatakan, proyek Enginerring, Procurement, Constructions (EPC) Gas Processing Facility (GPF) JTB yang berpusat di Desa Bandungrejo, Kecamatan Ngasem, oleh PT Rekayasa Industri (Rekind) saat ini masih terus berjalan. Namun, banyak yang merasa sulit untuk terlibat di dalamnya. 

    "Pertemuan hari ini, juga menjadi dasar kita untuk berkunjung di kantor PT Rekind di Jakarta," tegas Politisi Partai Gerindra. 

    Baca Lainnya :

      Para kontraktor lokal merasa sulit berkomunikasi dengan PT Rekind, sehingga meminta memfasilitasi DPRD. Karena, selain itu juga terkait dengan Analisis Dampak Lalu Lintas (Andalalin), yang dinilai masih ada pelanggaran. 

      "Laporannya juga ada kendaraan proyek yang menghasilkan debu, juga sering terjadi kecelakaan," tukasnya. 

      Sementara itu, perwakilan warga, Slamet Riyadi, mengungkapkan, selama ini mendapatkan pekerjaan di proyek JTB, namun nilainya sangat kecil. Selain itu, pengusaha lokal tidak bisa langsung mengikuti tender di Rekind, sehingga hanya menjadi subkontraktor.

      "Ya pokoknya kami akan terus memperjuangkan hak-hak lokal," tegasnya. 

      Di tempat yang sama, Abdul Wahib, warga Gayam, mempertanyakan tentang tenaga kerja lokal yang terlibat di proyek Gas JTB. Sebab dari temuan di lapangan, banyak warga dari luar daerah Bojonegoro yang bekerja sebagai helper (tenaga kasar/kuli).

      "Ini fakta yang kami temukan di lapangan. Kalau hanya kuli mengapa harus dari Pati," sergahnya.

      Seharusnya, lanhut dia, jika Rekind memiliki data jumlah naker yang kabaranya disetorkan ke Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja (Disperinaker) Bojonegoro, bisa dibuka di sini.

      "Mestinya forum ini mengundang Disperinaker juga. Jadi bisa dicocokan datanya, sehingga kami bener-benar tahu warga lokal yang dilibatkan sudah berapa," sarannya.

      Sementara Site Manager PT Rekind, Zainal Arifin, mengungkapkan, jika selama ini dalam menjalankan proyek tidak bisa meninggalkan lokal. 
      "Kita terus berupaya menggandeng lokal tapi tidak bisa menggandeng semuanya," lanjutnya. 
      Keterlibatan lokal, lanjut dia, per Oktober jumlah tenaga kerja lokal 69 persen, sementara dari non lokal 31 persen sesuai yang sudah dipresentasikan.(rien)


      Tidak ada komentar
      Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.

Show more