Mencermati Efektivitas Teknologi dalam Metode Pembelajaran

Senin, 02 Desember 2019, Dibaca : 332 x Editor : rozaqy

Dok.Pribadi
Ananing Nur Wahyuli


Oleh : 

 Ananing Nur Wahyuli*

Perkembangan teknologi menawarkan keserbamudahan bagi manusia dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Segala pekerjaan yang sebelumnya dilakukan secara manual dan membutuhkan waktu yang lama, hari ini bisa lebih mudah diselesaikan dengan tepat dan cepat. Tidak hanya dalam urusan pekerjaan, dalam praktek-praktek pembelajaran di sekolah, tugas guru dan siswa juga dapat diselesaikan dengan cepat meski terkadang belum tepat.

Baca Lainnya :

    Derasnya arus perkembangan teknologi informasi dan komunikasi mampu mengantarkan manusia untuk menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat. Segudang aplikasi digital inovatif yang diciptakan, mampu mempermudah dan mempercepat pekerjaan yang dilakukan.

    Misalnya dalam hal komunikasi, pekerjaan surat menyurat untuk berkabar dengan orang lain di kota lain biasanya membutuhkan waktu 3-4 hari. Dewasa ini akibat adanya perkembangan teknologi, saling bertukar kabar dengan orang lain di kota lain mampu diselesaikan hanya dalam hitungan detik.

    Baca Lainnya :

      Dahulu sebelum lahirnya sistem android, komunikasi via telepon genggam hanya bisa dilakukan antar dua orang saja. Misalnya saya berkomunikasi dengan ayah via telepon genggam sedangkan dalam waktu yang sama, saya tidak bisa terhubung langsung dengan adik saya untuk berdiskusi bertiga dalam satu jaringan komunikasi.

      Hari ini, berdiskusi dengan tiga orang atau bahkan ratusan orang, dapat dilakukan dengan sangat mudah tanpa peduli seberapa jauh jarak antar komunikannya. Dalam hal ini, forum diskusi dilakukan dengan tanpa menghabiskan biaya perjalanan, akomodasi perorangan serta tidak membutuhkan waktu berhari-hari. Tentu ini merupakan satu bentuk efektifitas dari teknologi.

      Permisalan-permisalan ini menggambarkan bukti bahwa segala pekerjaan manusia dapat diselesaikan dengan cepat meski dalam beberapa hal justru belum tepat. Lalu bagaimana dengan ketepatannya? Kita telaah terlebih dahulu bagaimana ketepatan pekerjaan-pekerjaan yang dapat dilakukan dengan cepat tersebut.

      Saya ingin menggambarkan kondisi tersebut dalam konteks pendidikan yang ada di lingkungan saya. Kemarin saya melakukan pembelajaran Bahasa Inggris tentang “Analytical exposition” atau teks analisis.

      Setelah memberikan pemantik bagi siswa untuk mengeksplore lebih dalam tentang materi terkait, saya kemudian meminta siswa untuk melakukan sebuah analisis terhadap suatu isu dan memintanya menuliskan pandangan-pandangan pribadi terhadap isu tersebut guna mempengaruhi orang lain agar memiliki pendapat yang sama dengannya.

      Singkat cerita, setelah pekerjaan-pekerjaan mereka dikumpulkan di meja saya dan saya koreksi, saya menemukan sekitar 50% pekerjaan siswa merupakan hasil browsing di internet dengan sistem copy paste tanpa proses editing atau bahkan pemahaman terhadap teks terlebih dahulu.

      Kewajiban siswa untuk menulis teks analisis memang sudah dipenuhi dengan cepat, tapi proses yang dilakukan justru sangat tidak tepat. Pembelajaran tentang teks analisis ini bertujuan untuk melatih dan mengasah kemampuan siswa dalam menganalisis sebuah isu. Bukan untuk membuat siswa mampu “menuliskan” teks analisis. Istilah “menulis teks analisis” tentu berbeda dengan istilah “menuliskan sebuah analisis”.

      Pentingnya Aspek Motorik 

      Perbedaannya terletak pada aspek-aspek motorik yang digunakan. Menulis teks analisis bisa dimaknai dengan menuliskan kembali teks analisis baik itu melalui proses analisis secara pribadi atau menuliskan kembali hasil analisis orang lain (seperti yang dilakukan oleh sebagian siswa saya kemarin). Proses ini hanya menggunakan mata untuk melihat teks, lidah untuk membaca teks dan tangan untuk menuliskan teks.

      Tidak ada peran “otak” yang dominan dalam proses pekerjaan ini. Sedangkan istilah “menuliskan sebuah analisis” bermakna melakukan analisis terhadap suatu isu terlebih dahulu kemudian menuliskan hasil analisis yang dilakukan sendiri oleh siswa. Proses pengerjaannya tidak hanya melibatkan mata, lidah dan tangan akan tetapi peran “otak” dalam hal ini sangat dominan.

      Sejauh yang saya pahami, sebuah pembelajaran itu ditempuh dengan menjalankan fungsi otak yaitu untuk berpikir. Dengan meningkatkan kerja fungsi otak maka otak akan lebih tajam dan kritis dalam melihat suatu hal. Inilah tujuan pembelajaran yang sebenarnya saya harapkan kepada siswa saya.

      Pekerjaan siswa memang mampu diselesaikan dengan cepat tetapi justru sangat tidak tepat. Harapan untuk melatih dan mengasah kemampuan analisis siswa 50% tidak terpenuhi dengan baik.

      Karena itulah, guru juga harus pandai memanfaatkan peluang dan meminimalisir kelemahan dengan penggunaan teknologi dalam sebuah proses pembelajaran. Baik kecepatan maupun ketepatan kedua-duanya wajib ditimbang-timbang terlebih dahulu. Mana saja yang memberikan kontribusi baik bagi perkembangan keilmuan siswa apakah kecepatan saja atau ketepatan saja atau justru harus kedua-duanya. 

      *Penulis adalah Guru MAN 1 Kabupaten Malang dan Kader Aktif Sinau Ademos 

       


      Tidak ada komentar
      Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.

Show more