Pembayaran Macet, Petani Tebu Blora Sambat

Jum'at, 04 Agustus 2017, Dibaca : 943 x Editor : nugroho

ahmad sampurno
PEMBAYARAN MACET : Truk pengangkut tebu petani sedang masuk lokasi pabrik PT Gendhis Multi Manis Blora.


SuaraBanyuurip.com - Ahmad Sampurno

Blora - Petani tebu di Kabupaten Blora, Jawa Tengah, mengeluhkan seretnya pembayaran dari Perusahaan Gula (PG) Blora, PT Gendhis Multi Manis (GMM) - Bulog, dari tebu yang mereka setorkan. Padahal para petani tengah kelimpungan karena kehabisan modal untuk melakukan tanam tebu kembali.

"Sejak tahun 2016 kemarin, pembayaran agak seret," kata salah satu petani yang tidak mau namanya disebutkan yang mengaku menyetorkan tebunya ke GMM-Bulog.

Baca Lainnya :

    Sumber itu juga tidak mau menyebutkan nominal uang yang belum dia terima dari GMM. Dia hanya menjelaskan pembayaran di tahun 2016 dan 2017 ini berbeda jauh dengan tahun 2015 lalu.

    "Pembayaran tahun 2015 bagus," ujarnya.  

    Baca Lainnya :

      Informasi yang dihimpun suarabanyuurip, hutang PT GMM - Bulog untuk satu orang petani  mencapai ratusan juta rupiah. Semenjak dipegang Bulog, menurut sumber lain, sistem pembayaran tebu yang disetorkan petani tidak seperti perjanjian awal. Yakni setiap hari Senin dan Jumat seharusnya petani sudah menerima pembayaran tebu yang disetorkan ke PT GMM. 

      "Faktanya tidak sesuai perjanjian awal dan berlarut larut pembayaranya," ujarnya.

      Dalam satu bulan terakhir petani belum menerima pembayaran. Di sisi lain petani dalam menyetorkan tebu juga perlu biaya seperti ongkos gendong, ongkos tebang dan lain sebagainya.

      “Jelas ini merugikan petani dengan sistem pembayaran yang tidak jelas,” ucapnya.

      Sekretaris Asosiasi Petani Tebu Rakyar Indonesia (APRTI), Anton Sudibyo membenarkan keterlambatan pembayaran tersebut.

      “Mulai lebaran baru terbayar sekali. Itupun sisa kiriman sebelum lebaran," ujarnya, Kamis (3/8/2017). 

      Kalau dihitung, lanjut dia, satu bulan lebih tebu dari petani belum terbayar sampai saat ini.

      "Petani sudah banyak yang kehabisan amunisi. Saya berharap, GMM segera menyelesaikan hak-hak para petani," terangnya. 

      Sesuai laporan yang dia terima kurang lebih sekitar 250 orang petani belum menerima pembayaran dari GMM.

      "Estimasinya satu hari bisa mencapai Rp2,5 milyar dikali 35 hari. Itu nilai yang seharusnya dibayarkan kepada petani," terangnya. 

      Selama ini sistem pembayaran yang dilakukan dan sudah berjalan satu minggu dua kali, yakni hari Selasa dan Jum'at.

      "Semua petani sudah sambat. Semoga GMM dalam waktu dekat ini dah bisa menyelesaikannya," ujarnya.

      Humas PT GMM-Bulog, Putri Dwi Atika Sari, enggan memberikan penjelasan terkait keterlambatan itu.

      "Mohon maaf, untuk konfirmasi hal tersebut hanya direksi yang berhak menyampaikan Pak," ujarnya singkat.

      Hingga berita ini diturunkan suarabanyuurip.com belum mendapatkan informasi dari Humas PT GMM - Bulog.(ams)


      Tidak ada komentar
      Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.

Show more