Penolakan Peminjaman Ambulan Puskesmas Gayam Selesai dengan Mediasi

Selasa, 19 November 2019, Dibaca : 4159 x Editor : nugroho

Camat Gayam for SBU
MEDIASI : Camat Gayam memediasi penolakan peminjaman ambulan antara keluarga korban dengan Puskesmas Gayam dan Dinas Kesehatan.


SuaraBanyuurip.com - d suko nugroho

Bojonegoro -  Persoalan penolakan Puskesmas Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, meminjamkan mobil ambulan kepada warga setempat yang sakit kritis hingga akhirnya meninggal dunia, berakhir dengan mediasi. 

Mediasi dilaksanakan tertutup di ruang kerja Camat Gayam, Agus Hariana, Selasa (19/11/2019), berlangsung hampir tiga jam. Dihadiri Plt Kepala Dinas Kesehatan Bojonegoro, dr Hernowo; Kepala Puskesmas Gayam dr. Mahmud dan jajarannya, Kepala Desa Gayam, Winto. Juga keluarga Mustiah - korban meninggal- yang diwakili Masula bersama suaminya, Agung Budiawan, dan saudaranya, Asiyah.

Baca Lainnya :

    Plt Kepala Dinas Kesehatan Bojonegoro, dr. Hernowo enggan memberikan keterangan hasil mediasi yang dilakukan.

    "Nanti kita akan buat press rilis. Hasilnya bisa tanya langsung ke Pak Camat," sarannya kepada suarabanyuurip.com usai mediasi.

    Baca Lainnya :

      Camat Gayam, Agus Hariana, mengatakan, dalam mediasi itu Plt Kepala Dinas Kesehatan dan Kepala Puskesmas menjelaskan tentang prosedur meminjam ambulan kepada keluarga korban. Diantaranya mulai dari harus izin kepala puskesmas, menyiapkan peralatan dan tenaga medis. 

      "Kejadian kemarin itu karena ada miskomunikasi. Keluarga korban tidak mengetahui prosedur meminjam ambulan, sementara Puskesmas Gayam kurang mensosialisasikan kepada masyarakat," ujarnya.

      Namun demikian, lanjut Agus, Dinas Kesehatan dan Puskesmas Gayam bersepakat mengevaluasi kembali standart operasional prosedur (SOP) untuk meningkatkan pelayanan kesehatan, khususnya di Puskesmas Gayam.  

      "Nah perubahan SOP inilah yang nantinya akan kita sosialisasikan kepada masyarakat agar kejadian seperti ini tidak terulang lagi," tegasnya.

      Ditanya tentang Puskesmas Gayam tidak mau menerima Mustiah, Agus menjelaskan, karena kondisinya sudah parah dan segera membutuhkan penanganan medis. Sehingga disarankan untuk langsung membawanya ke RSUD.

      "Kalau Puskesmas Gayam saat itu menerimanya, penanganannya akan lambat. Bisa satu sampai dua jam dapat dirujuk. Sebab harus dilakukan cek medis lebih dulu, membuat surat rujukan dan menghubungi rumah sakit yang akan dituju," bebernya.

      Agus menambahkan, persoalan yang terjadi sudah selesai. Keluarga korban telah menerima penjelaskan tentang prosedur meminjam mobil ambulan, dan pihak Puskesmas Gayam meminta maaf kepada keluarga korban.

      "Semua sudah klir," pungkas mantan Plt. Kepala Ketahanan Pangan Bojonegoro itu.

      Dihubungi terpisah, Masula membenarkan jika pihak Puskesmas Gayam telah meminta maaf kepada keluarga atas penolakan peminjaman mobil ambulan untuk ibunya, Mustiah (50), yang sedang sakit kritis, dan akhirnya meninggal dunia di RUSD Padangan, pada Jumat (15/11/2019) lalu.

      "Tidak ada kesepakatan apa-apa. Tidak ada solusi yang diberikan. Hanya menjelaskan tentang SOP meminjam ambulan. Seolah-olah kami yang tidak tahu SOP-nya. Karena itu sampai sekarang saya masih bingung mencerna penjelasan Puskesmas Gayam," tutur Ula dikonfirmasi melalui telepon genggamnya. 

      Penolakan Puskesmas Gayam meminjamkan ambulan kepada Mustiah, warga RT 13 RW 03 desa setempat itu sempat viral di media sosial. Sebab pada waktu itu, kondisi kesehatannya drop. Nafasnya tersengal dan tidak bisa bergerak sama sekali. 

      Mustiah kemudian mendapat pertolongan dari mobil layanan kesehatan keliling milik ExxonMobil Cepu Limited (EMCL), untuk dibawa ke RSUD Padangan. 

      Sesampainya di RSUD Padangan pukul 12.00 WIB lebih. Mustiah mendapatkan pertolongan pertama. Namun akhirnya nyawanya tidak bisa diselamatkan. Hasil diagnosa medis, Mustiah menderita tuberkulosis (TBC).(suko)




       










      Tidak ada komentar
      Anda sebaiknya login atau register dulu untuk memberikan komentar.

Show more